Mendaki Gunung pun Harus Ikut Protokol Kesehatan

Ilustrasi-Foto: Dokumentasi Kemenparekraf.

JAKARTA—Ketua Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia (APGI) Vita Landra menyatakan sangat mendukung CHSE (cleanliness, healthy, safety, and environmental sustainability) yang dicanangkan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif  yang dicanangkan pada pertengahan Agustus lalu.

Pencanagan itu sudah disosialisasikan dalam Simulasi Penerapan Protokol Kesehatan berbasis CHSE di Gunung Papandayan, Garut, Jawa Barat, Sabtu (15/8/2020) hingga Senin (17/8/2020).

APGI dan FMI ( Federasi Mountaineering Indonesia),bersama sama ikut   membuat protokol pendakian yang nantinya akan berlaku resmi secara nasional sebagai protokol pendakian di era new normal.

“Protokol iniditerapkan bagi wisata tidak hanya petualangan tapi juga umum,” kata Vita kepada Peluang melalui WhatsApp, Senin (24/8/20).

Sekalipun pendakian kerap dilakukan satu orang dan umumnya menjaga jarak, menurut Vita dalam protokol pendakian, pemakaian masker wajib dibawa untuk digunakan saat berinteraksi dengan orang lain.

“Pada musim pendakian jarak antar pendaki satu dan yang lain bisa sangat rapat,” ucap dia.

Vita mengungkapkan, saat ini, gunung yang berada di wilayah Taman Nasional masih belum membolehkan pendakian yang menginap atau camping. Jadi sudah seharusnya  kita sebagai warganegara yang baik mengikuti aturan yang ada.

Dia merekomendasikan, dunung yang bisa untuk hiking oneday trip di wilayah Jawa Barat: Gunung Papandayan, Gunang Puntang, Air Terjun Cibeureum,  Gunung Gede, dan masih banyak lagi.

“Saat ini banyak kawasan wisata yang sudah dibuka. Tapi sayangnya masih sangat banyak wilayah wisata yang masih belum memberlakukan protocol Kesehatan yang umum. Seperti misalnya, memakai masker, hal yang sederhana ini aja masih banyak yang tidak mengindahkan,” papar Vita

Sementara Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggara Kegiatan (Events) Kemenparekraf/Baparekraf, Rizki Handayani, dalam keterangannya, Selasa (18/8/20), mengatakan protokol kesehatan berbasis CHSE memiliki peranan penting untuk membangkitkan kembali sektor pariwisata, terutama di bidang aktivitas wisata minat khusus.

“Protokol kesehatan berbasis CHSE berperan penting untuk meningkatkan kepercayaan wisatawan di masa adaptasi kebiasaan baru. Dengan meningkatnya kepercayaan wisatawan, maka sektor pariwisata bidang aktivitas minat khusus bisa bangkit kembali,” kata Rizki.

Dalam sosialisasi ini, Kemenparekraf/Baparekraf menggandeng keikutsertaan influencer, rumah produksi film/production house, dan media.

Panduan hiking dan mendaki gunung.-Foto: Istimewa.

Menurut Rizki, ketiga pihak ini punya peranan penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terkait pentingnya penerapan protokol kesehatan berbasis CHSE.

“KOL (Key Opinion Leaders), media nasional, dan production house berperan dalam memviralkan #HikingPapandayan serta mengedukasi para followers-nya mengenai pelaksanaan CHSE. Khususnya di destinasi wisata pendakian gunung,” pungkas dia (Irvan Sjafari).

Bagikan ke: