Kami Membukukan Aset Rp 180 Miliar di Tahun Kedua

Yanuedi M_2

Ketika digagas dua tahun lalu, tepatnya 8 Juli 2015, masih terselip keraguan apakah Koperasi  Karyawan Bank Bukopin (KKB) Selindo tingkat nasional mampu memainkan perannya sekelas holding bagi KKB tingkat primer. Asumsi tersebut beralasan lantaran citra koperasi sekunder yang kebanyakan berakhir dengan papan nama. Selain pembentukannya yang dipaksakan dari atas (top down), tidak sedikit pula kiprah koperasi sekunder yang tak punya kaitan usaha dengan koperasi  primernya. KKB Selindo agaknya termasuk pengecualian.

Saat menggelar Rapat Anggota Tahunan (RAT) pertama, pada tangal 2 Juni 2016 di salah satu hotel baru di kawasan Kalibata Jakarta Selatan  koperasi yang diinisiasi oleh 38 primer KKB ini menunjukkan taji bisnisnya yang tajam. Di RAT pertama itu  mampu membukukan aset sebesar Rp53,51 miliar, bandingkan misalnya saat mulai berdiri dengan sokongan aset Rp 4,6 miliar.

Asumsi berikutnya sukses KKB Selindo dinilai taken for granted, sesuatu yang memang sudah semestinya. Pasalnya, selain berstatus koperasi fungsional dengan anggota captive market, Semua Pengurus Koperasi Sekunder ini merupakan Bankir dan Ketua Umum ditugaskan mengelola Koperasi Sekunder sebagai CEO nya. Sehingga tidak sulit bagi Koperasi mengembangkan usaha yang juga berbasis pembiayaan (simpan pinjam). Lantaran itu pula dalam RAT pertama itu, KKB ditarget mampu mencetak aset lebih tinggi, yaitu sebesar Rp99,59 miliar atau naik 186,10%. “Target itu sudah kita lewati, dan kini, per Desember 2016 aset KKB sudah mencapai Rp180 miliar yang segera kita laporkan pada RAT kedua dalam waktu dekat ini, “kata Ketua KKB Selindo Yanuedi Melayanto.

Angka yang menggelembung dua kali lipat dari target yang dibebankan itu menunjukkan  koperasi ini memang mampu menunjukkan perannya sebagai holding bagi 42 primer KKB yang tersebar di sejumlah pelosok Tanah Air. Selain program simpan pinjam yang memang sudah kokoh, KKB Selindo mengembangkan sejumlah usaha lainnya, di antaranya dengan membentuk anak-anak perusahaan yang menangani aneka usaha, antara lain transportasi, Property, Konstruksi, Pengelolaan Gedung, Alih daya, Data Center dan juga bisnis ritel dengan membentuk brand toko retail modern dengan nama Bkop Mart di kantor-kantor Bank Bukopin.

“Mimpi kami, KKB Selindo akan menjadi koperasi percontohan yang melayani segenap kebutuhan anggotanya mulai dari dari Anggota bekerja, meniti karir, menikah, punya anak, pensiun dan meninggal dunia”. Kami telah menyediakan pembiayaan usaha, konsumsi, investasi, kebutuhan rumah tangga hingga layanan duka ketika ada anggota atau karyawan meninggal dunia,” tutur Dedi panggilan akrab Yanuedi yang juga Ketua KKB Jakarta (KKBJ).

Kepada Irsyad Muchtar dari PELUANG, sarjana ekonomi lulusan Universitas Krisnadipayana 1989 ini  bertutur tentang obsesinya menjadikan KKB sebagai genuine  co-operative yang  profitable, tapi juga tidak mengabaikan kepedulian terhadap lingkungan sosial. Berikut petikannya :

Bisa dijelaskan perkembangan KKB Selindo saat ini ?

Kami mulai operasional pada Juli 2015 dengan aset sebesar Rp53 miliar saat tutup tahun buku 2015. Aset terus berkembang dan sampai Desember 2016 sudah mencapai Rp180 miliar atau sama dengan jumlah aset yang dimiliki KKBJ yang telah berusia 37 tahun. Berbeda dengan KKBJ yang pangsa pasarnya karyawan Bank Bukopin Jakarta sebagai Anggotanya dengan nilai pinjaman ritel sampai Rp500 juta, KKB Selindo memiliki pangsa yang lebih besar dengan nilai pinjaman di atas Rp500 juta. Segmen pasarnya juga bukan lingkungan internal di Koperasi Primernya tetapi juga kepada Anak Perusahaan langsung KKBS dan antar koperasi anggota MPI (Masyarakat Perkoperasian Indonesia). Dari pinjaman yang diperoleh tersebut, koperasi primer tersebut dapat menyalurkan lagi ke anggotanya di daerah.

Apa saja kegiatan usaha anak perusahaan holding ?

Kami juga memiliki perusahaan holding yaitu PT MUS Corporation (Mitra Usaha Sarana Corporation) dimana 20% sahamnya dimiliki oleh KKB Selindo dan 80% dimiliki Yayasan Kesejahteraan Karyawan Bukopin. Holding ini memiliki anak perusahaan yang bergerak di enam bidang yaitu tranportasi, properti, konstruksi, alih daya, pengelolaan gedung dan data center.

Yang bergerak di bisnis properti usahanya adalah membeli gedung dan menyewakannya, transportasi beli mobil dan menyewakannya, konstruksi fokus direnovasi gedung, anak usaha alih daya bergerak di jasa seperti menyediakan tenaga kerja supir, tenaga keamanan, admin penjualan kartu kredit, operator telpon, operator IT, desk collection dan meeter greater.

Kalau seluruh rencana bisnis Anda jalan, pada 2017 berapa kira-kira SHU yang akan dibagikan ?

Aset KKBS sebesar Rp180 Miliar di akhir Desember 2016, dan diproyeksikan asetnya akan menjadi sekitar Rp500 miliar untuk kebutuhan anggota dan anak perusahaan. Apabila seluruh SHU KKB primer sebanyak 42 Koperasi  di tambah SHU dari KKBS maka SHU diperkirakan mencapai Rp20 miliar dan di bagi pada sekitar 6.500 anggota.

Saya berpikir bersama Pak Glen, kalau cuma bisnis di simpan pinjam dengan anggota dan anak perusahaan, itu kan marjin income-nya tipis dimana untungnya cuma 1-2 persen per tahun. Itulah mengapa akhirnya kami buat anak usaha lagi dengan nama Bkop Mart dengan pengelolaan yang lebih profesional dan Direkturnya diambil dari ex peritel modern besar.

Untuk pengembangan usaha toko Bkop Mart, apakah terpikir melakukan co branding ?

Sekarang mulai merintis untuk produk gula pasir, beras, minyak goreng yang akan dilabeli dengan merek Bkop Mart. Kami akan membeli barang dimaksud dari produsen yang merupakan debitur Bank Bukopin. Penjualannya bekerja sama dengan toko Bkop Mart yang ada di setiap kantor Bukopin, warung dan kios di sekitar kantor.

Penjualan toko setelah menggunakan merk Bkop Mart, hasilnya sangat bagus dimana omzetnya naik dua kali lipat. Sebagai contoh toko Bkop Mart Bukopin Kantor pusat yang sebelumnya berkisar 15 juta/hari saat ini rata – rata sudah melebihi 30 juta/hari. Selain itu, kami baru buka di Cabang Malang Jawa Timur dimana pada awalnya karyawan cuma belanja rata – rata Rp 500 ribu sehari namun begitu diresmikan oleh Pak Glen (Direktur Utama Bank Bukopin) tingkat belanjanya rata rata menjadi Rp1,5 juta perhari. Berikutnya dalam waktu dekat Bkop Mart akan kami buka di luar kota antara Cirebon, Cilegon, Tegal, Karawang dan Jakarta.

Apakah Bkop Mart hanya di buka untuk kalangan internal saja atau merambah ke eksternal?

Kami ini bukan produsen namun “perantara produsen dan konsumen” yang menjual barang kebutuhan untuk anggota, karyawan, nasabah, masyarakat umum. Kami akan merealisasikan toko Bkop Mart sampai dengan Semester I 2017 minimum 100 outlet, sekarang ini baru ada sekitar 10 outlet. Di Jakarta akan dibuka sekitar 12 outlet sampai dengan Maret tahun ini. Contoh di kantor Bukopin ABDA (Jl Jendral Sudirman) dan Bukopin Oil Center (Jl MH Thamrin). Jika outlet kami sudah tersebar di semua kantor Bukopin, dan Kopkar Cabang Bukopin setempat siap menjadi penyalur ke outlet disekitarnya, maka kami akan membuka kerjasama dengan pihak eksternal tentunya kepada Karyawan, Nasabah, Masyarakat sekitar kantor Bukopin dan masyarakat umum.

Kalau di koperasi dunia, setelah aset dan omzet yang dinilai itu, berapa banyak dana CSR yang dikeluarkan ?

Untuk dana CSR kami sisihkan sekitar 10% dari total SHU. Dana CSR kami salurkan ke rumah yatim piatu dalam bentuk uang santunan, buku – buku, hewan qurban kambing dan sapi untuk yang membutuhkan. Selain itu, KKBS juga turut membantu menyalurkan CSR kepada Baitul Maal Bank Bukopin yang juga mengelola Pesantren dengan nama Da’arus Saadah terletak di daerah Sentul Jawa Barat. Melalui Yayasan Kesejahteraan Bukopin juga disiapkan mobil ambulance dan mobil jenazah untuk keperluan anggota/karyawan yang sedang mendapat musibah.

Terlintas untuk mendirikan koperasi syariah?

Itu sungguh suatu niat yang mulia namun mengingat seluruh anggota kami masih koperasi konvensional maka tahap awal seluruh akad – akad pembiayaan dalam bentuk syariah dan meminjam dari bank syariah.

Pengurus KKB Selindo apakah ditugaskan oleh Perusahaan?

Benar, dan kedepannya itu jadi batu loncatan karir di perusahaan induk.

Bagaimana dukungan Bukopin selaku induk perusahaan ?

Pak Glen selaku CEO Bank Bukopin punya komitmen tinggi untuk menyejahterakan karyawannya. Beliau mengamanahi saya untuk membahagiakan 6.500 anggota dan memberikan dukungan penuh untuk pengembangan KKB Selindo ini.   (Drajat)

 

Bagikan ke:

One thought on “Kami Membukukan Aset Rp 180 Miliar di Tahun Kedua

  1. I simply couldn’t depart your web site prior to suggesting that I extremely enjoyed the usual information a person provide on your guests? Is going to be back frequently in order to check up on new posts.

Comments are closed.