Melayani Masyarakat dan Membantu 8 Menteri

AGUS MUHARRAM

Meniti karir sebagai CPNS sejak 1991 dan 23 jabatan serta delapan menteri dari dua Departemen  dan Kementerian telah dilayani. Pastinya jenjang karir yang jarang dialami orang lain.  Cita-cita masa kecilnya adalah menjadi arsitek, lalu lebih menyukai geografi.  Tidak betah membongkar-bongkar isi bumi, ia pun pindah profesi sebagai ahli Perencanaan Wilayah dan Kota. Kini Agus Muharram sosok multi talenta ini menjabat Sekretaris Kementerian Koperasi dan UKM RI.  Namun banyak orang mengenalnya sebagai penyanyi lagu lawas dan lagu pop.  “Dan saya masih akan terus bekerja, bernyanyi dan berdoa,” ungkapnya.

Agus Muharam

Selalu terlihat  necis,  dandy dan akrab dengan mitra bicaranya, itulah sosok Agus Muharram. Perjalanan karirnya memang cemerlang. Hanya dalam waktu 3,5 tahun sudah menduduki eselon IV. Tiga tahun berikutnya eselon III , hingga kini jabatan eselon I sudah dilakoni selama 11 tahun. Kini, putra Bogor kelahiran 28 April 1958 ini menjabat Sekretaris Kementerian Koperasi dan UKM yang telah dijalaninya selama empat tahun.

Hobinya yang multi talenta, seperti melukis, menyanyi, menulis dan membaca cepat sangat membantu Agus dalam meniti karirnya yang terbilang kilat itu. Tak tanggung-tanggung, sejak berkiprah di dunia birokrasi, hingga kini Agus sudah melayani Masyarakat dan membantu delapan Menteri di dua departemen/kementerian. Saat masih berkiprah di Departemen Pekerjaan Umum (DPU), ia menjabat Kepala Bagian Humas dan  Pemred Majalah PU sehingga  sangat dekat dengan Menteri PU Radinal Mochtar. Meski singkat ia juga sempat membantu Menteri PU berikutnya yaitu, Rahmadi BS.

Pada Oktober 1998 hijrah ke Departemen Koperasi dan UKM, sebagai Sekretaris Ditjen Fasilitasi Pembiayaan dan Simpan Pinjam. Tugasnya membantu Menteri Koperasi Adi Sasono. Selepas Adi Sasono adalah Zarkasih Nur hingga Alimarwan Hanan, bermacam jabatan di eselon dua digilirnya.Karirnya makin mencorong saat Suryadharma Ali sebagai Menkop dan UKM, jabatan Staf Ahli Menteri Koperasi Bidang Pemanfaatan Teknologi diraihnya pada 2005. Selanjutnya Deputi Bidang Pembiayaan dari 2006 – 2010. Deputi Pengembangan Sumber Daya Manusia diembannya hingga Oktober 2010, bahkan sebelum dilantik menjadi Sekretaris Kementerian Koperasi dan UKM era Menkop dan UKM Syarief Hasan, sempat menduduki Deputi Pemasaran dan Jaringan Usaha. Hingga jabatan Menkop dan UKM diserahkan kepada AAGN Puspayoga, kursi Sekmenkop dan UKM tetap dipercayakan kepada Agus yang telah mencapai pangkat Pembina Utama Madya golongan IV E sejak 5 (lima) tahun yang lalu.

Lantaran hobinya menggambar dan nilai-nilai pelajaran seni lukis sejak SD, SMP, SMA selalu bagus, sempat bercita-cita ingin mejadi arsitek. Cita-cita itu hampir jadi kenyataan saat ia diterima di Institut teknologi Bandung. Hobinya yang lain adalah menyanyi, bahkan sempat mengantarnya  jadi juara satu Pop Singer dan Bintang RRI se- Eks Karesidenan Banten. Lomba Bintang RRI yang diiringi band kategori lagu dewasa, dengan lagu wajib “Memang Lidah Tak Bertulang” dan lagu pilihan “Tiada Maaf Bagimu” saat masih duduk di kelas I SMP N I Serang  tahun 1971. “Waktu itu, Pak Cepy Kepala RRI Banten menyarankan agar saya ikut kejuaraan Pop Singer tingkat Jawa Barat, tapi Agus tidak berminat. Selain tidak ingin jadi penyanyi Agus ingin serius belajar sehingga bisa kuliah di Institut Teknologi Bandung.

 

PINDAH CITA-CITA

Setamat SMP dan melanjutkan ke SMA Negeri I Serang, cita-cita menjadi arsitek masih melekat erat. Namun saat duduk di bangku SMA, Agus malah tertarik dengan pelajaran Geografi. Kepiawaiannya di usia remaja itu mengagumkan, Ia  meraih nilai 9 tanpa ujian di pelajaran Geografi karena menjadi satu-satunya murid di kelasnya yang mampu menjelaskan pertanyaan tentang teori lempeng tektonik.

Saat kuliah di ITB, cita-cita jadi arsitekpun pupus berganti dengan ‘ahli bumi’. Tetapi perjalanan nasib agaknya belum selesai, di kampus beken itu Agus malah lebih aktif di kegiatan Dewan Mahasiswa. Hobi nyanyi dan melukisnya terpendam habis, ia mulai menekuni hobi yang lain, yaitu menulis. Tulisannya kala itu acapkali tampil di buletin intern Institut Teknologi Bandung dan didaulat jadi Pemimpin Redaksi Majalah GEOF. Kendati akhirnya tidak mematok cita-cita baru sebagai wartawan, namun aktivitas menulis masih terus berlanjut ketika ia terdaftar sebagai PNS di Departemen Pekerjaan Umum (DPU), jabatannya sebagai pemimpin redaksi pun berlanjut di Majalah Kajian Pustra dan Majalah PU.

Lalu bagaimana dengan cita-cita mulianya yang hendak ‘ahli bumi’ itu? Agus mengaku setamat dari ITB pada 1985 ia memang langsung bekerja di konsultan bidang eksplorasi. Tetapi ia tak berminat lagi menekuni pekerjaan yang linier dengan ilmunya,  pertimbangannya selalu keluar masuk hutan di Kalimantan dan Sumatera. Ia tak ingin seumur-umur kerja di hutan melakukan eksplorasi timah, geotermal, emas, pokoknya yang terkait dengan mineral. Bahkan ia makin berpikir kembali saat melihat senior-seniornya yang sudah bekerja lima tahun, masih berkeliaran di hutan.

Keinginan bekerja di kota pun menggodanya. Konsekuensinya jenjang S2 Bidang Perencanaan Wilayah dan Kota mesti ditempuhnya. Ternyata untuk mewujudkan minatnya itu tidak langsung bisa, karena harus ada rekomendasi dari dosen. Celakanya, para dosennya di S1 tidak mau merekomendasi kecuali di jurusan yang sama. Akhirnya agar mendapat rekomendasi dari Prof. Dr. Soeratmaja Dosen dan Guru Besar ITB.

Agus M (selendang sutera)

MASUK DPU 

Gerbang menuju instansi DPU berawal saat menulis tesis S2. Kala itu ia harus bolak balik mendatangi DPU guna melengkapi data dan berkonsultasi dengan pejabat di Subdit Perencanaan Wilayah. Kemudian ia pun melakukan penelitian dan dibantu Kepala Subditnya Roslanzaris. Pasca penelitian itu, Agus diajak bekerja di DPU pada akhir tahun 1989 sebagai  tenaga honorer. Pada tahun 1991 diangkat menjadi CPNS. Dari sinilah Agus mulai berkarir di Departemen Pekerjaan Umum hingga tahun 1998 dengan jabatan Kepala Bagian Humas, dimana jabatan itu dilalui tanpa harus menjadi Kasubid terlebih dulu seperti yang selama itu berlaku.

Selama berkarir sebagai PNS sejak 1991 – 2016, sebanyak 23 jabatan dilaluinya dan Satya Lencana Pembangunan dari Presiden RI telah diraihnya pada tahun 2010. Sebuah karir yang jarang dialami orang lain. Banyak kesan dan lika -liku  yang dilalui selama bekerja melayani masyarakat dan membantu delapan menteri tersebut. Masing-masing punya gaya kepemimpinan tersendiri. Prinsipnya sebagai staf dituntut mampu menyesuaikan. Tidak sebaliknya pimpinan yang disuruh menyesuaikan.

Apa kiat yang membuat Agus begitu betah mengabdi di dunia birokrasi padahal ia punya pilihan lain yang lebih menjanjikan? Kunci bekerja, kata dia, harus tulus dan ikhlas. Latar belakang pendidikan fisika dan matematika, hukum kekekalan energi malah jadi acuannya, dimana  energi yang dikeluarkan akan sama dengan yang diterima. Kalau energinya kebaikan, akan menerima kebaikan juga. Namun kerja ikhlas dan berserah diri kepada Sang Pencipta saja tidak cukup sambung Agus. Kunci keberhasilan kerja juga harus ditopang pengetahuan (knowledge) yang diperoleh dari pendidikan formal maupun nonformal; keterampilan (skill); jaringan pergaulan (network); dan pandai menciptakan/memanfaatkan peluang. Selain itu, pergaulan yang luas juga menjadi kunci bagi suksesnya sebuah pekerjaan. Namun demikian, pesan Agus semua berpulang kepada sikap mental dan perilaku yang bersangkutan serta jangan lupa berdo’a. Mereka yang berlaku jujur, amanah dan dapat dipercaya, justru merekalah yang umumnya mampu bertahan di dunia kerja dan di masyarakat.

Lalu apa lagi cita-cita Agus yang belum terpenuhi? Ia hanya tertawa seraya mempersilakan kami menghirup teh yang sudah mulai dingin lantaran asyiknya mendengar Agus Muharram bertutur tentang cita-citanya yang panjang itu. Jalan hidupnya diakui berliku dan tak tahu bakal berlabuh dimana. Biar saja mengalir, yang pasti hidup harus diisi dengan karya dan kerja-kerja amal yang bermanfaat bagi manusia lainnya. (Slamet AW)

Bagikan ke: