Masyarakat Koperasi AS menunggu kebijakan Baru Donald Trump

What will Donald Trump do for Co-operatives? Pertanyaan itu adalah judul artikel yang ditulis  AncaVoinea,  penulis masalah politik internasional dan juga berita olahraga. Tulisan yang  muncul dalam Co-operative News, situs berita koperasi  yang terbit di Inggris ini, menarik diulas lantaran kontribusi koperasi sangat signifikan terhadap perekonomian akar rumput di negeri paman sam itu. 

 

donald-t

Kemenangan Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat (AS) ke 45 memang di luar dugaan. Pengusaha kontroversial yang bacotnya sangat rasis dan polling suara selalu tercecer di belakang rival utamanya, Hillary Clinton, justru mampu membalik keadaan. Sebagai konsekuensi dari demokrasi, kini mau tidak mau, rakyat AS harus menerima Trump sebagai kepela negara mereka yang baru, dan dilantik pada 20 Januari 2017 ini. Banyak pihak meragukan apakah Trump bakal mampu membawa AS yang damai dan makmur dalam lima tahun ke depan?  Tak terkecuali gerakan koperasi yang pertumbuhannya belakangan kian massif merambah berbagai sektor usaha. Di masa kampanyenya, di bulan Februari 2016, Trump  pernah umbar janji di  negara bagian Carolina Selatan. Kala itu ia berbicara di tengah masyarakat koperasi listrik (Broad River Co-operative) dan menyatakan dukungan untuk membantu energi pedesaan. Ia menyoroti arti penting listrik yang dapat diandalkan oleh masyarakat. Kendati tidak menyatakan solusi yang jelas, tapi berjanji untuk mencabut sejumlah aturan yang merugikan koperasi listrik di negeri itu. Sebelumnya NRECA, National Rural Electric Cooperative Association mengkritk sebuah perusahaan energi dan pengolahan air (Clean Power Plan and Waters ) milik pemerintah lantaran kebijakannya untuk membebani koperasi listrik dengan biaya yang tidak proporsional.

Tampilnya Mike Pence, Gubernur Indiana sebagai Wakil Presiden, dinilai dapat membantu pertumbuhan koperasi. Ia pendukung berat koperasi kredit (Credit Union-CU) dan sebaliknya CU merupakan kontributor dana sepanjang karir politiknya. Sedangkan Trump sendiri, awal tahun ini telah mengumumkan Komite Penasehat Pertanian barunya, yang di antaranya terselip nama Chuck Conor, Presiden Dewan Nasional Koperasi Pertanian dan mantan sekretaris deputi pertanian era pemerintahan George W Bush.

Di luar ekspektasi CU yang tinggi terhadap balas budi dari Pence,  kalangan koperasiwan umumnya meragukan komitmen Trump. Pengembangan koperasi internasional diduga  bakal terpengaruh oleh kebijakan presiden yang juga raja properti AS ini. Seperti dikatakan,  Executive Director of The US Overseas Cooperative Development Council (OCDC), Paul Hazen yang menilai kebijakan Donald  Trump untuk koperasi masih tidak jelas dan meragukan. “Setahu saya dia tidak memiliki posisi di koperasi. Saya sangat khawatir ia akan menghentikan bantuan ekonomi di negara berkembang dan yang akan menempatkan jutaan orang kembali ke dalam kemiskinan, “katanya. OECD beranggotakan sembilan organisasi dengan  tujuan untuk mengembangkan koperasi internasional yang efektif.

histortic-farmville

BERKACA PADA OBAMA

Kendati kebijakan Trump terhadap  bisnis koperasi masih tanda tanya besar, namun media massa di AS sudah menyandingkan sejumlah kebijakan manis yang ditoreh Barack Obama selama dua periode bercokol di Gedung Putih.  Ide-idenya  mereformasi UU kesehatan dilakukan dengan mengeluarkan UU Perawatan Terjangkau  (The Affordable Care Act) atau dikenal dengan Obamacare, yang memberikan landasan hukum untuk membangun  Consumer Oriented and Operated Plans (CO-OP).  Dana disiapkan sebesar USD2,4 miliar untuk membantu organisasi start-up yang ingin membangun CO-OP. Belakangan CO-OP tumbuh mencapai 23 unit dan lembaga ini sepenuhnya dimiliki oleh konsumen, namun tidak semua dari mereka bekerja atas nama koperasi.

Memasuki era Trump,  CO-OP agaknya bakal bubar. Trump telah membuat rencana yang jelas untuk mencabut Undang-Undang Perawatan Terjangkau (Obamacare). Reformasi kesehatan versi Obama dinilai sebagai ‘bencana’ dan akan diganti dengan keringanan pajak untuk mendorong orang membeli asuransi.

Kehadiran Mike Pence dan Chuck Conor, dua tokoh koperasi AS itu, memang diharapkan dapat melanggengkan komitmen pemerintah terhadap  koperasi.  Seperti dilakukan Barack Obama- dan mungkin presiden AS pertama – yang peduli dan memahami peran sentral koperasi sebagai mesin ekonomi masyarakat. Pada Mei 2012, untuk pertama kalinya Gedung Putih mengadakan briefing nasional dengan gerakan koperasi seluruh AS. Peristiwa bersejarah bagi dunia koperasi AS ini ditengarai ikut memicu  United Nation (PBB) untuk melansir 2012 sebagai Tahun Internasional Koperasi (IYC).

Briefing Gedung Putih itu diikuti sebanyak 150 pemimpin koperasi dari seantero AS dan International Co-operative Alliance menghadiri sesi khusus dengan pemerintahan Obama untuk membahas masa depan koperasi. Berbeda halnya dengan Indonesia, koperasi di AS adalah bisnis yang terang benderang yang merambah berbagai sektor ekonomi antara lain pertanian, keuangan, ritel, perumahan, kesehatan, listrik dan energy, hingga pendidikan bahkan adapula koperasi penitipan anak dan koperasi senior (kaum manula).

150 pemimpin koperasi yang hadir dalam briefing Gedung Putih itu merupakan representasi dari sekitar 30 ribu koperasi AS yang total penjualan tahunannya mencapai USD 652 miliar (sekitar Rp 8.476 triliun) dan menyerap lebih dari 2 juta tenaga kerja.

Agaknya, lantaran itu pemerintah AS tak berani gegabah dengan eksistensi koperasi dan layak dilibatkan dalam dialog nasional guna membantu pengembangan masyarakat, penciptaan lapangan kerja dan kesempatan ekonomi lainnya. Bagaimana dengan koperasi Indonesia? (Irsyad Muchtar)

 

Bagikan ke: