Masih Bisa Tancap Gas

Di balik sukses Primkokas melebarkan sayap usahanya, nama Agus A Musabiq agaknya tidak bisa dikesampingkan. Bukan lantaran wong Kediri kelahiran 8 Agustus 1965 ini  menjabat ketua dua periode, tapi karena  ia dikenal sebagai inisiator yang jeli mengintip peluang usaha.  Keputusannya melepas kontrak usaha dengan Mister Bakso (franchise) pada 2013 dan diubah menjadi Ecco Resto terbukti jitu. Resto yang berlokasi di Krakatau Junction ini memberikan peningkatan omzet cukup lumayan bagi Primkokas. Usaha lainnya dikembangkan Gusmus, begitu panggilan akrabnya adalah melebarkan sayap usaha K-Store ke kota Serang, Bank Tanah dan perumahan bagi anggota yang notabene karyawan PT Krakatau Steel.

Agus Musabiq

Pengembangan usaha di luar anggota, menurut insinyur teknik mesin Institut Teknologi Bandung ini adalah keniscayaan yang harus dilakukan Primkokas dalam eksistensinya sebagai koperasi yang terbuka untuk umum. “Kami memang koperasi karyawan di lingkungan PT Krakatau Steel dengan layanan utama pada anggota yang juga karyawan PT Krakatau Steel. Namun sesuai prinsip koperasi, kami juga punya tanggung jawab sosial terhadap masyarakat, ” tutur Agus yang kini menjabat General Manager Human Resource & General Affair yang diperbantukan di PT Krakatau Osaka Steel. Gusmus punya impian bahwa keberadaan Primkokas menjadi bagian dan putaran ekonomi penting bagi masyarakat kota Cilegon. “Seperti halnya Gudang Garam di kota kelahiran saya, yang menjadi urat nadi angkatan kerja bagi masyarakat kota Kediri,” sambungnya lagi. Lantaran itu, Agus menerbitkan Kartu Mitra Corporate dan Mitra Transaksi yang melayani karyawan di luar PT KS dan Grup. Menurut sarjana Strata 2 Teknik Material Universitas Wolonggong ini, koperasi mampu mengambil peran ekonomi di lapis bawah masyarakat. Prinsip kebersamaan, suka rela dan pengelolaan yang demokratis bakal dapat mengantarkan masyarakat kepada ekonomi berkeadilan. Namun, dalam faktanya ia harus sering mengurut dada lantaran masih lemahnya pemihakkan terhadap koperasi. “Koperasi itu dari dan untuk anggota, namun koq kebijakan hukumnya sering disamakan dengan PT, ”keluhnya. Lantaran kebijakan yang kurang fair itu, bisnis koperasi pun sulit berkembang. Kalau saja pemerintah memberikan kemudahan usaha bagi koperasi, kata Ketua Majelis Pakar Dekopinda kota Cilegon ini berandai-andai, Primkokas masih bisa tancap gas dan melejitkan bisnisnya lebih besar lagi.   (Irm)

Bagikan ke: