Marwah Musik di Ranah Politik

Memadukan kemampuan berkesenian dengan dunia politik menjadikan manusia lebih santun. Pesan moral, pesan sosial, empati pada sesama, dapat disampaikan lewat lagu, melalui rancang grafis, direkam lalu dipanggungkan. Itu yang dilakukan I Ketut Suryadi, seniman multi talenta yang juga  Ketua DPRD Kabupaten Tabanan.

marwah musik

Konduktor Musik, Orkestrator Politik

KABUPATEN Tabanan di Bali tak hanya dikenal sebagai lumbung beras dan memiliki pantai dan pura Tanah Lot, icon destinasi wisata dunia. Tabanan juga dikenali sebagai lumbung seni budaya, acapkali terjadi inkulturasi antara seni tradisional dan modern, seperti bertemunya musik gamelan Bali dengan musik rock di satu panggung. Salah satu penggiat seninya adalah I Ketut Suryadi, sarjana ilmu sosial yang pernah studi Seni Rupa di Universitas Udayana bali dan  menimba ilmu berkesenian  di Yogyakarta.

konduktor politik

Tahun 2005 warga Tabanan mengenal I Ketut Suryadi yang biasa disapa Boping –Bocah Pinggiran– sebagai pelukis yang concern pada kesenian, termasuk musik. Boping mensupport perkembangan band indie Tabanan – Band Remaja Tabanan (Baret), satu diantaranya Cleopatra Band. Tahun 2007, sosok kelahiran  Bajera, 12 April 1963 ini  ikut membangun komunitas band underground Tabanan di bawah bendera Gastam Music Community yang dikomandani oleh I Putu Sugi Darmawan dan Raharjo, dan men-support musisinya manggung 3 bulanan, membuka distro, untuk menggali jiwa entrepreneur musisi.

Pada Oktober 2009, melalui penyanyi Ayu Weda, Boping diperkenalkan dengan Sawung Jabo, leader band Sirkus Barock yang dekat dengan kemunitas seni yang dibangun almarhum Rendra di Yogya. Pertemuan ini membius minat Boping menggeluti musik secara serius, padahal saat itu Boping dengan nama I Ketut Suryadi, S.Sos, MM sudah menjadi pimpinan DPRD Tabanan. Dimanapun Sirkus Barock manggung, di Bali, Yogya, Surabaya atau Jakarta, Boping selalu hadir, akhirnya Jabo menjulukinya ‘Boping Anak Angin’. Kelak, pada 12 April 2010, Boping dan sejumlah seniman muda Tabanan lintas usia, suku, agama, status profesi, mendirikan Sanggar Seni Anak Angin yang dikomando Putu Sugi Darmawan dan Teddy Irawan. Sanggar Anak Angin ini menempati gedung megah milik pengusaha sukses teman Boping, I Nyoman Muliadi.

Masih di tahun 2010, Boping dan dukungan Sawung Jabo, dan budayawan Sugi Lanus menggagas digelarnya Kemah Budaya, yang akhirnya terwujud pada tanggal 10 – 15 April 2011 dan digelar di area Pura Tanah Lot dan Pura Pakendungan, Kediri, dalam bentuk workshop seni, pentas musik, tari, sastra, teater dengan support dana Rp350 juta dari Pemkab Tabanan. Workshop seni budaya ini menampilkan sejumlah seniman kondang Singaraja, Tabanan, Sanur, Jakarta, Yogya, dan Malang seperti Ayu Laksmi, Ayu Weda, Ayib Budiman, Oppie Andaresta, Sawung Jabo, Tan Lioe Ie dan Totok Tewel.  Selain Sawung Jabo dengan Sirkus Baroknya yang selalu hadir dari tahun ke tahun adalah pemusik Roby Navicula, pelukis Putu Bonus, Made Budiana, Putu Liong Sutawijaya dan Jango Pramarta. Dari workshop ini lahir lagu ‘Merah Mega Mega’ dan ‘Padamu Negeri’ yang liriknya ditulis Boping. Hasil workshop seni dan 2 lagu ini dipentaskan di Taman Kota Tabanan pada 16 April 2011, dihadiri oleh Bupati Ni Eka Wiryastuti dan Wakil Bupati Tabanan I Komang Gede Sanjaya.

Memasuki tahun 2017, suami dari Ni Wayan Suartini ini  menggagas  ‘Parade Pentas Seni’ bentuk apresiasi seni yang digelar saban 2 pekan sekali, digelar pertamakali di Kecamatan Kediri, 22 April lalu, selanjutnya akan dipentaskan di Balai Banjar di 9 Kecamatan lainnya di Kabupaten Tabanan. Pentas Seni ini menampilkan olah seni masyarakat setempat dalam bentuk band, gamelan, tari, teater, akan menjadi pembuka Kemah Budaya ke 7 yang akan digelar pada 30 Juli sampai dengan 5 Agustus 2017.

Kini rakyat Tabanan dan Bali umumnya, mengenal I Ketut ‘Boping’ Suryadi. Putra tokoh PNI Bali I Made Lontar ini tak hanya sebagai Ketua DPRD Kabupaten Tabanan, tapi juga sudah dianggap sebagai konseptor, konduktor seni budaya dan orkestrator politik berbasis seni di Kabupaten Tabanan.

LIRIK KRITIK SOSIAL DAN EMPATI PADA SESAMA

Awal tahun 2014, Sawung Jabo mengajak Anak Angin masuk dalam kompilasi album rekaman indie di bawah label Sirkus Barock Production, menampilkan lagu ‘Padamu Negeri’ yang ditulis bersama Boping, Teddy Irawan dan Iwan Andrean, direkam di studio milik Anang Rachman. Pengalaman rekaman inilah yang mendorong Boping dan kawan kawan terus berkarya, dan akhirnya didorong Sabung Jabo untuk benar-benar membuat album rekaman seperti layaknya band profesional, “Jabo adalah mentor kami, saya pengagum berat karya lirik dan lagunya, dan Jabo yang meracuni Anak Angin masuk rekaman. Akhirnya, kami sepakat membuat studio rekaman sendiri, menjadi jantung proses kreatif kami dari Sanggar Anak Angin, “kata Boping.

peduli kintamani

Menurut Putu Darmawan yang kini ditugasi sebagai manajer band dan EO Mata Angin Communications, dana membangun studio rekaman ini datang dari dana hibah Pemkab Tabanan Rp50 juta ditambah dengan uang pribadi Boping mendekati Rp50 juta juga. Di studio rekaman inilah, Anak Angin merekam album berisi 10 lagu, Boping menulis lirik dan basic melodinya, aransemen digarap bareng oleh Teddy Irawan dan Iwan Andrean.

Pengalaman menulis lagu dalam konsep workshop di Kemah Budaya 2011 berlanjut dalam cara menulis lagu band Anak Angin – sebagian besar personilnya adalah pemain Cleopatra Band, dengan formasi sekarang I Ketut ‘Boping’ Suryadi (lead vocal), Teddy Irawan (keyboards, gitar, vokal latar), Iwan Andrean (gitar), Anang Rachman (bas, vokal latar) dan Dean Andreana Hakim (drums). Pada 3 lagu yang membutuhkan suara solois perempuan, atas saran Sawung Jabo, Boping dan kawan-kawan memilih 3 penyanyi perempuan yang masih siswa SMA di Tabanan, sebagai penyanyi dan backing vocals. Dila Mufidah (kelas 2 SMA) membawakan lagu ‘Bercerminlah”, Mitha Intan Wulandari menyanyikan lagu ‘Angin Menyambar’ dan Anindita Setyanandani terpilih menginterpretasikan lagu ‘Menjadi Matahari’, sebuah nomor lagu karya Boping Suryadi yang relatif sulit pada struktur melodi dan butuh power vokal yang mumpuni.

“Para penyanyi perempuan ini dipilih pada saat mengikuti workshop Kemah Budaya, Sawung Jabo ikut memberi masukan, menentukan. Mitha sama Dila awalnya gak bisa nyanyi. Mas Jabo menggali bakatnya, kebodohannya dilihatin. Pada saat kosong, bodoh, muncul potensinya, bisa baca puisi, ada yang bisa  main biola, bisa nyanyi. Mitha awalnya merasa berbakat nari, Jabo bilang, Kamu susah jadi penari, nyanyi saja. Lalu dapat lagu yang cocok dengan karakter vokalnya, ‘Angin Menyambar’. Yang memilih tiga penyanyi itu Jabo, gak bisa aku bantah Jabo. Tiga penyanyi itu karakter vokalnya nya beda….” masih kata Boping.

Sawung Jabo juga meyakinkan kemampuan musikal Boping. “Menulis lagu sebenarapa dibutuhkan, seperlunya tapi benar, gak usah kamu lebih lebihin, nanti kacau…Kamu nyanyi buat album, pasti jadi” kata Sawung Jabo.

Saat jatuh sakit, Boping mendengar terjadi bencana alam di Kintamani, ia mengangkat gitar, menemukan melodi lagu dan liriknya, lagu jadi tanpa ada coretan koreksi, basic melodi lagu dan puisi Kitamani itu dikirim ke Teddy jadilah lagu empati pada rakyat Kintamani yang terkena bencana tanah longsor. Anak angin juga membuat konser amal buat Bencana Tsunami Aceh, menggelar Konser Amal buat Rakyat Kintamani, hasilnya diserahkan pada team dana Pemda setempat.   (Bens Leo)

Bagikan ke: