Majalah Peluang Luncurkan Buku 100 Koperasi Primer Terbaik Jakarta

Irsyad Muchtar menyerahkan buku karyanya “100 Koperasi Primer Terbaik DKI Jakarta”kepada Asisten Deputi Pengawasan Koperasi dan UKM Suparyono pada peluncuran buku tersebut dan penganugerahan koperasi primer terbaik di Hotel Bidakara, Jakarta, Rabu (21/9/2022). Foto : Peluang.

Jakarta (Peluang) : Setelah sukses meluncurkan 100 Koperasi Besar Indonesia sepanjang empat sejak 2012-2021, Majalah Peluang kembali meluncurkan buku100 koperasi lainnya, yaitu Koperasi Primer Terbaik Anggota PKPRI DKI Jakarta.

Penulis buku ini Irsyad Muchtar mengatakan, ia tergerak untuk menulis dan mengangkat profil Koperasi Primer (Koprim) di lingkungan pemerintahan karena potensi ekonominya yang cukup baik dalam menopang kebutuhan dan kesejahteraan anggotanya.

Namun ia mengakui kinerja usaha koprim umumnya belum memenuhi skala ekonomi layak, lantaran mereka lebih berorientasi pada pemenuhan kebutuhan anggota ketimbang mengejar profit.

“Kita juga patut berbangga ada pula Koprim yang mampu mencerak aset ratusan miliar, bahkan satu di antaranya mampu mencapai aset lebih dari satu triliun rupiah,” ujar Irsyad saat peluncuran Buku 100 Koperasi Primer Terbaik Anggota PKPRI DKI Jakarta, Rabu 21 September 2022 di Hotel Bidakara Jakarta.

Acara dihadiri para pegiat koperasi, di antaranya Asisten Deputi Pengawasan Koperasi dan UKM Suparyono Kepala Dinas PPKUKM Provinsi DKI Jakarta Elisabeth Ratu Rante Allo, Ketua Umum Kadin DKI Jakarta Diana Dewi, Ketua Umum PKPRI DKI Jakarta Syahnas Rasyid, dan Penulis Buku 100 Koperasi Primer Terbaik DKI Jakarta Irsyad Muchtar.

Irsyad Muchtar berfoto bersama Asisten Deputi Pengawasan Koperasi dan UKM Suparyono, Kepala Dinas PPKUKM Provinsi DKI Jakarta Elisabeth Ratu Rante Allo, Ketua Umum Kadin DKI Jakarta Diana Dewi, Ketua Umum PKPRI DKI Jakarta Syahnas Rasyid, pada peluncuran buku 100 Koperasi Primer Terbaik DKI Jakarta. Foto : Peluang.

Dalam hal inisiasi penerbitan buku ini, Irsyad mengakui ada anggapan bahwa upaya yang dilakukannya tidak populer lantaran kinerja Koprim yang rerata rendah.

“Saya ingin menepis asumsi yang keliru tersebut, bahwa cukup banyak koprim yang mampu mencetak kinerja unggul. Dalam buku ini sedikitnya ada 7 koprim memiliki aset di atas Rp 100 miliar, dengan tata Kelola usaha profesional,” tuturnya.

Dalam konteks tersebut, Irsyad mengambil contoh Koperasi Keluarga Guru Jakarta (KKGJ ) yang berada dalam klaster sekolah.

Meskipun anggotanya hanya para guru sekolah dasar di seantero DKI Jakarta, namun koperasi berusia 70 tahun dengan total aset Rp 225 miliar ini memiliki kantor sendiri di luar sekolah dan mampu menerobos bisnis lainnya di luar sekolah, seperti membuka unit SPBU dan keagenan gas LPG.

Hal yang sama terlihat pada Koperasi Pegawai Pemda DKI Jakarta (KPPD) yang juga sudah berkantor sendiri di luar lingkungan kantor pemda DKI Jakarta.

Dari sebanyak 30 koprim di lingkungan Pemda DKI Jakarta, 6 koprim berhasil masuk katagori terbaik, selebihnya tidak menggelar RAT dan bahkan ada yang bubar.

Keberhasilan sejumlah koprim yang mampu memiliki kantor sendiri di luar lingkungan kantor induk instansinya, sambung Irsyad, membuktikan bahwa koprim bukan usaha ecek-ecek.

“Koprim juga seperti bisnis koperasi lainnya, mampu tampil besar sepanjang punya tata kelola yang baik, transparan dan kredibel,” pungkasnya.

Bagikan ke:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.