Lumbung Pertanian Berselimut Vulkanik

Dataran tinggi Tanah Karo di bentangan Bukit Barisan, Sumatera, amat kondusif untuk buah, sayur dan bunga. Sektor pertanian ini berperan strategis dalam struktur pembangunan perekonomian nasional, jika disertai perhatian serius. Atas ekses erupsi Gunung Sinabung, sejak 2010, diperlukan 8 tahun untuk pemulihan. Itu pun bila ekonomi tumbuh rerata 5%.

 derita sinabung

Jika sekali waktu kita berjalan dari Medan menuju Berastagi dan Kabanjahe, ibu kota Kabupaten Karo, terus menuju Kutacane, Aceh Tenggara, yang terlihat menyejukkan mata di kiri-kanan sepanjang jalanan adalah hamparan kebun kol, kentang, kebun cabai, ladang jagung, kebun jeruk, markisa, dan lain-lain. Bagaikan permadani, tanaman pertanian ini tumbuh subur sejauh mata memandang.

Kota Berastagi cocok untuk tempat wisata dan peristirahatan. Berastagi adalah salah satu daerah subur, pusat kegiatan masyarakat bercocok tanam, buah, sayur, dan bunga. Di sana sini banyak dijumpai petani cabai, wortel, jeruk, dan kol, tengah sibuk mengemas hasil panennya tersebut untuk dibawa ke pasar. Kabupaten Karo merupakan sentra produksi komoditAS jeruk. Varitas jeruk yang ditanam di Kabupaten Karo saat ini adalah jenis Siam, Washington, Sunkist, Padang, Siam Madu dan sebagainya.

Sektor pertanian mempunyai peranan strategis dalam struktur pembangunan perekonomian nasional. Komoditas tanaman hortikultura yang merupakan unggulan Tanah Karo ialah buah-buahan, sayur-sayuran, bunga-bungaan, dan biji-bijian. Buah-buahan yang unggul di Tanah Karo antara lain ialah jeruk, markisa, terong belanda, dan tomat; lalu sayuran kubis, wortel. kentang, dan bawang prei (bawang daun). Ini berkat potensi wilayah, topografi iklim, serta keadaan alam yang sangat mendukung dengan syarat tanam-tanaman tersebut.

Di atas wilayah seluas 2.127,25 km2 dan berpenduduk sekitar setengah juta jiwa, kabupaten ini berlokasi di dataran tinggi Karo, Bukit Barisan, Sumatera Utara, 77 km dari Kota Medan. Produk pertanian Kabupaten Tanah Karo disumbangkankan oleh berbagai daerah : Simpang Empat, Naman Teran, Merdeka, Kabanjahe, Berastagi, Tiga Panah, Dolat Rayat, Merek, Barusjahe, Tiga Binanga, Payung, Tiganderket, Mardinding, Juhar, Munte, Kutabuluh, Munte. Khusus cabai dan jagung dapat dihasilkan di seluruh kecamatan di wilayah Kabupaten Karo.

Di dalam negeri, beraneka hasil bumi Tanah Karo tersebut telah dipasarkan ke Medan, Pakanbaru, Tanjungbalai, Aceh, Sibolga, Riau, Rantau Parapat, Langkat, Siantar, Pulau Batam, Binjei, Bandung, Jakarta, Semarang, dan Surabaya. Pasar ekspor aneka buah Tanah Karo yang sudah berjalan dengan lancar adalah Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, dan beberapa negara Eropa.

Ekonomi Kabupaten Karo sangat didukung oleh pertanian. Tidak kurang dari 75% penduduk mata pencahariannya petani. Meski potensinya sedemikian bagus, sayangnya, teknologi pertanian masih rendah di samping pemasaran yang kurang baik. Lebih dari itu, perhatian pemerintah dirasakan lemah. Mulai dari proteksi, kredit hingga kebijakan lain kurang memprioritaskan sektor ini. Dengan harga kopi terus anjlok, jadi Rp12.000–Rp15.000/kg, petani akan membabat tanaman kopinya, seperti jeruk. Harga jual kopi paling tidak bertahan di kisaran Rp20.000/kg untuk meningkatkan kesejahteraan.

 

Penurunan Kualitas Hidup

Malang tak bisa dielakkan, bencana alam datang dari puncak Gunung Sinabung. Erupsi yang menyemburkan debu vulkanik gunung kebanggaan masyarakat Karo itu berlarut-larut sejak letusannya yang pertama, lima tahun lalu. Pantauan kondisi terakhir menunjukkan, wilayah di luar radius 5 km harus menjadi perhatian. Bahkan di Desa Cinta Rakyat, yang berjarak 7 km dari Sinabung, masih diselimuti banyak debu. Kondisi debu vulkanik juga terjadi di 46 desa lain dengan jumlah penduduk 21.466 KK.

Akibat yang paling langsung, sejak 2012, perekonomian menurun 45%. “Bila pertumbuhan ekonomi ke depannya rata-rata 6%, dibutuhkan waktu tujuh tahun agar perekonomian Kabupaten Karo kembali seperti di tahun 2012, saat Sinabung mulai mengalami erupsi. Itu pun kalau semburan Sinabung berhenti saat ini,” ujar Arya Mahendra Sinulingga dalam pertemuan Keluarga Besar Karo Institut Teknologi Bandung (KBK ITB) dengan kalangan mahasiswa dari berbagai kampus di Pendopo USU Medan, Mei 2015.

Kalau pertumbuhan ke depan diambil rata-rata 5%, dibutuhkan waktu delapan tahun bagi Kabupaten Karo untuk mencapai posisi ekonomi seperti tahun 2012, yaitu sejak Sinabung menyemburkan isi perutnya. “Pertumbuhan pertanian yang menjadi andalan utama turun 40-45%. Pertumbuhan pendidikan diperkirakan turun 35 persen,” kata Arya Sinulingga. Dalam hitungan dan kajian KBK ITB, Kabupaten Karo mengalami kerugian Rp2 triliun/tahun sejak erupsi terjadi. Jika tanpa ditangani dengan baik, Kabupaten Karo akan mengalami penurunan kualitas hidup.

Kalkulasi Kepala Dinas Pertanian Provinsi Sumut, M. Roem, debu vulkanik Sinabung mengakibatkan penurunan produksi 30 persen pada setidaknya 2.959 hektare areal pertanian. Areal tersebut terdiri atas 35 ha tanaman pangan dan 2.924 ha tanaman hortikultura. Untuk tanaman hortikultura terdiri atas 2.063 ha sayuran, 860 ha buah. Komoditas yang mengalami kerusakan cukup parah yaitu cabai (367 ha), kentang (230 ha), kembang kol (222 ha), dan lain-lain.

Langkah lebih lanjut setelah tahap tanggap darurat adalah penanggulangan terencana, terprogram dan berjangka panjang. “Atas penurunan hasil pertanian, saya berharap ada bantuan mekanik, sehingga petani dapat mengolah pertanian yang menghasilkan komoditas bernilai jual lebih tinggi,” kata Arya Sinulingga. (Nay)

Bagikan ke: