LPS Koperasi Mendesak

Regulasi baru untuk mendukung gerakan koperasi agar lebih maju menjadi keniscayaan. Pasalnya UU Nomor 25 Tahun 1992 tidak adaptif terhadap Perkembangan teknologi.

Secara gradual, perkembangan koperasi di Indonesia sudah berjalan bagus. Jika dilihat ada kurangnya, tentu pasti. Tetapi sejumlah koperasi yang menunjukkan kualitas baik, bisa jadi lokomotif bagi koperasi lainnya, bahwa perbaikan untuk menata manajemen terus berjalan. Koperasi-koperasi berkualitas baik ini terlihat dari tinggginya partisipasi anggota, dan juga pertumbuhan aset dan volume usaha dilevel triliunan rupiah.

Hanya saja koperasi yang tergolong bagus ini didominasi koperasi simpan pinjam. Sementara koperasi sektor riil belum maksimal dan kalaupun ada yang bagus jumlahnya tidak banyak.

Memang, di tengah keberhasilan sejumlah koperasi memikat masyarakat, masih ada masyarakat yang memandang minor pada gerakan koperasi. Hal ini disebabkan ada beberapa kasus koperasi gagal bayar dan kasus KUD di masa lalu. Karenanya sosialisasi perkoperasian harus terus menerus kita publikasikan agar publik mafhum bahwa bisnis koperasi kini makin keren.

Kita perlu membuat pendidikan perkoperasiaan dan mengajak  masyarakat berbicara bagaimana membangun koperasi yang baik. Namun untuk itu, sebagai pelaku koperasi harus menunjukkan laporan keuangan yang transparan dan bisa diaudit. Selain itu koperasi harus membangun suasana komunikatif dan demonstratif.

Ketika pertama bergabung dengan Kopdit Obor Mas sebagai manajer pada 1998, kepercayaan publik untuk menabung di koperasi ini waktu itu sangat minim.     

Lalu, secara perlahan saya perbaiki mulai dari Menyusun laporan keuangan diaudit. Hasilnya publik bisa memahami dan dapat menilai secara transparan. Dari sini kepercayaan publik tumbuh dan mulai berani menabung dan memanfaatkan jasa koperasi. Berbeda dengan 24 tahun lalu saat saya bergabung, kini Kopdit Obor Mas makin dipercaya publik. Pelayanan terhadap anggota pun kita sesuaikan dengan kebutuhan zaman, yaitu berbasis digitalisasi.

Saat ini ada kami punya sembilan aplikasi untuk mempermudah pelayanan anggota, di antaranya Obor Mas Pay, Obor Mas Mobile, hingga Padi Mas. Yang terakhir ini pasar digital di mana anggota yang punya usaha bisa dibantu mengembangkan usahanya. Berkat kepercayaan kian meningkat itu dimana jumlah anggota sudah menapai 125.430 orang, kinerja keuangan kita pun ikut naik dengan capaian aset per tahun buku 2021 sebesar Rp1,240 triliun dengan simpanan Rp857,325 miliar dan saldo pinjaman beredar Rp1,049 triliun.

Ke depan, saya berharap pemerintah dapat segera mewujudkan lahirnya Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) untuk koperasi. Ini kita perlukan untuk memperkuat kepercayaan publik. Saat ini di Kopdit Obor Mas sudah ada anggota yang menyimpan di atas Rp1 miliar karena percaya atas transparansi. Tentunya akan lebih pede lagi jika diperkuat dengan adanya lembaga penjamin dari pemerintah. (Irm)

Bagikan ke: