LPEM UI Proyeksi Suku Bunga BI Juli 2021 Bertahan di Level 3,5%

Ilustrasi-Foto: Infobanknews.

JAKARTA-–Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Indonesia (UI) memproyeksikan  Bank Indonesia (BI) masih akan mempertahankan suku bunga acuan di level 3,5% pada Juli  2021 ini.

Ekonom LPEM-FEB UI Teuku Riefky menyampaikan BI perlu mempertahankan suku bunga acuan di 3,5% pada Juli 2021.  Angka ini bisa menjaga nilai tukar dan stabilitas keuangan di masa ketidakpastian krisis Covid-19 harus menjadi prioritas utama bank sentral.

“Peningkatan jumlah kasus Covid-19 diperkirakan akan menghambat pemulihan ekonomi. Seluruh indikator ekonomi, seperti inflasi, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK), Purchasing Manufacturing Index (PMI), dan surplus neraca perdagangan, mulai menunjukkan prospek yang suram,” papar Teuku Riefky dalam Laporan Seri Analisis Makroekonomi Juli 2021 yang diterima pada Rabu (21/7/21).

Riefky memprediksiindikator-indikator tersebut akan terus mengalami penurunan di bulan Juli, terutama setelah pemerintah memutuskan untuk menerapkan PPKM darurat di Jawa dan Bali.

Sementara itu dari sisi eksternal, rupiah cenderung bergerak sideways karena investor mempertimbangkan perkembangan terakhir dalam kasus Covid-19 dan bagaimana sikap bank sentral, terutama The Fed.

Dia menyebut tidak ada ruang bagi BI untuk mengubah kebijakannya karena sisi penawaran masih redup.

Dengan pemberlakuan PPKM darurat sebagai upaya untuk meredam peningkatan infeksi Covid-19, pemulihan ekonomi kemungkinan akan tertunda.

Sejumlah  pihak melihat  kondisi yang sedang berlangsung sebagai trade-off antara ekonomi dan kesehatan masyarakat. Pemulihan ekonomi tidak akan terjadi tanpa adanya masyarakat yang sehat. Dengan demikian seyogyanya  pemerintah tetap memprioritaskan penanganan krisis kesehatan masyarakat.

Dari sisi eksternal, pasar keuangan saat ini mengamati dengan cermat bagaimana varian delta mendorong kembali krisis Covid-19 di seluruh dunia sambil memantau bagaimana pembuat kebijakan, terutama The Fed, akan bereaksi.

“Meskipun penurunan suku bunga kebijakan biasanya merupakan alat utama yang diterapkan oleh bank sentral selama periode inflasi rendah, kami melihat bahwa penurunan suku bunga kebijakan saat ini akan sia-sia karena sisi penawaran praktis masih redup di masa meningkatnya Covid-19 ini,” tutur dia.

Setelah The Fed mengisyaratkan akan melakukan dua kali kenaikan suku bunga acuan pada tahun 2023 dalam rapat FOMC tanggal 15-16 Juni, rupiah mengalami depresiasi terhadap US$, berkisar antara Rp14.220-14.530 per dolar karena investor memindahkan modalnya dari pasar negara berkembang.

Sejak saat itu, rupiah relatif stabil di sekitar Rp14.500 per dolar, meskipun ada jumlah kasus Covid-19 dan PPKM Darurat di Jawa dan Bali.

Riefky juga menilai rupiah dinilai cukup kuat karena beberapa faktor eksternal, termasuk sikap The Fed untuk kebijakan moneter yang akomodatif meskipun inflasi AS meningkat lebih tinggi dari perkiraan.


Bagikan ke:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *