Loedroek

Dalam khazanah seni panggung, hanya dua pertunjukan yang penontonnya sah menjadi pelakon, nyelonong ke dalam alur cerita. Yaitu ludruk Jawa (Timur) dan lenong Betawi. Skalanya memang lokal. Adapun untuk yang berlingkup nasional, rakyat disuguhi serial tontonan yang alot, nyaris tak terputus. Yaitu atraksi ludruk/lenong politik—melalui ketiga pilar negara: eksekutif, legislatif dan yudikatif, tanpa kecuali partai politik dan lembaga-lembaga penegak demokrasi.

Dalam satu tahun pelaksanaan demokrasi rezim hasil Pemilu 2014, rentetan selonongan ala ludruk lumayan seronok. Awali saja dari laporan Bank Indonesia. Posisi utang luar negeri Indonesia pada Agustus 2015 diketahui US$303,2 miliar—ULN sektor swasta US$169,3 miliar (55,8% dari total) dan ULN sektor publik US$134 miliar (44,2%). Ketika ini dikonfirmasikan dengan janji Tri Sakti ala Soekarno, Nawa Cita, dan UUD 1945 pasal 33, nilai ludruk ‘bela negara’ itu tampak nyata.

Jika di-review, serial gertak sambal ala ludruk berpangkal pada Februari. Komjen Budi Gunawan, orang dekat Megawati, urung dilantik jadi Kapolri. Mengingat dia tahu banyak riwayat patgulipat di balik kemenangan Jokowi-Kalla—termasuk rekayasa dalam rekapitulasi suara dalam Pilpres 2014. Maka, ‘masuk akal’ jika mantan Kepala Lembaga Pendidikan Polri ini mainkan jurus bluffing. Inti pesannya, “Saya mengincar Trunojoyo 1, dan (jika tak kesampaian) saya pegang kartu troef sampeyan, lho, Mas…”

Bulan berikut, giliran Akbar Faisal, mantan anggota Tim Transisi, yang nyanyi. Rilis berita tentang mesin sedot data menyentak banyak pihak. Faisal minta KPU menyelidiki dugaan kerja kotor yang dikomandani Luhut Panjaitan itu—mesin tersebut nangkring di halaman KPU di masa penghitungan suara. Desakan mengecek mesin siluman itu gigih disuarakan Ketua Komite Pemilih Indonesia (Tepi), Jerry Sumampouw.

Medio Juli, giliran analis politik Lembaga Pemilih Indonesia/LPI dari kubu petahana, Boni Hargens, yang nyanyi tak kalah sumbang. Bahwa kecurangan pada Pilpres 2014 lebih masif dan terstrukur. “Pilpres kali ini paling brutal,” kata Boni. Kebrutalan itu dimulai dari tingkat bawah, TPS dan kelurahan. Di antara modusnya, memunculkan pemilih siluman.

Lakon ludruk terbaru terkait nama yang sangat ‘powerful’ dalam posisinya yang bukan eksekutif, bukan legislatif juga bukan yudikatif: Surya Paloh. Pasca-penetapan Sekjen Partai Nasdem, Patrice Rio Capella—sebagai tersangka dalam kasus dana bansos Pemprov Sumut—bukan tak mungkin Paloh, sang juragan partai politik dengan slogan restorasi, nyanyi dengan kartu troef kasus bus TransJakarta yang melibatkan Jokowi.

Dijungkirbalikkan macam apa pun, jatidiri ludruk tetaplah sebuah peristiwa panggung. Ada sajian kisah, ada alur, ada tokoh, ada konflik dan ketegangan. Semuanya seolah-olah mengejawantahkan kenyataan. Bluffing yang dipertunjukkan seakan hajat yang mengekspresikan kesungguhan niat dan tekad. Satu hal yang mereka lupakan: laku lagak manipulatif macam itu hanya menghibur rakyat tak tamat SD.

Bagikan ke: