Lo Kheng Hong, Dituntun Naluri Value Investing

Saat krisis 1998 terjadi, dia hanya memiliki uang sisa 15% dari seluruh hartanya. “Uang saya berkurang 85%. Saya waktu itu sudah full time investor. Istri hanya ibu rumah tangga. Anak dua. Saya nggak kerja lagi,” katanya.

DIA investor value Indonesia jenis individu. Lo Kheng Hong (LKH) disebut-sebut sebagai Warren Buffett-nya Indonesia. Ia pemegang saham dengan kepemilikan di atas 5% di beberapa emiten, seperti PT Clipan Finance Indonesia Tbk, emiten multifinance dari Grup Panin, lalu saham pabrik ban PT Gajah Tunggal Tbk  dan saham emiten media Grup MNC PT Global Mediacom Tbk. Pada tahun 2012 ia memiliki aset berupa saham bernilai Rp2,5 triliun.

Menjadi investor saham di BEI begitu nikmat dan mengasyikkan. “Kita hidup santai saja tapi dapat duitnya banyak sekali. Ketika kita memiliki saham wonderful company, kita tidur saja bisa menghasilkan uang lebih banyak hasilnya daripada orang yang kerja keras. Saya akan menjadi investor saham sampai akhir hidup saya, sampai dipanggil oleh yang Kuasa,” ujar lelaki kelahiran 20 Februari 1959 itu.

Dicontohkan ketika membeli saham Indika Energy, tambang batu bara terbesar ketiga di Indonesia. Waktu itu nilai buku per saham Rp1.600, harga saham Rp110, kan murah. Ngapain bangun usaha sendiri yang ribet. Kedua, saya bisa dapat perusahaan yang udah jadi dan belinya at discount. “Pas Indika ini seperti mobil Mercy harga Bajaj. Dan itu hanya terjadi dan ada di bursa saham, tidak ada di dunia nyata,” kata LKH.

Dengan memegang saham, LKH seperti sudah punya perusahaan yang besar sekali. “Sekarang saya punya pabrik ban terbesar di Asia Tenggara, pemegang saham terbesar ketiga di sana. Nggak usah bisnis, saya jadi pemegang saham terbesar kedua di perusahaan media,” tutur pria yang menjadi full-time investor pada usia 37 tahun itu.

Lo Keng Hong terlahir sebagai anak sulung dari 3 bersaudara di keluarga yang sederhana. Ayahnya berasal dari Pontianak, Kalimantan Barat, yang merantau ke Jakarta. Semasa kecil ia merasakan kehidupan yang susah. Rumahnya di Jakarta sempit, hanya 4 × 10 meter.

Saat krisis 1998, LKH hanya memiliki uang sisa 15% dari seluruh hartanya.

“Uang saya berkurang 85%. Saya waktu itu sudah full time investor. Istri hanya ibu rumah tangga. Anak dua. Saya nggak kerja lagi. Duit tinggal 15%,” katanya.

Sadar dirinya akan bangkrut, LKH memutuskan untuk menyimpan seluruh sisa hartanya di saham PT United Tractor Tbk. (UNTR). Saat itu, harga saham UNTR Rp 250 per saham. Keputusan ini diambil karena LKH yakin perusahaan tersebut memiliki prospek cerah dan valuasinya tinggi.

“Masak harga saham Rp250, laba usaha per saham Rp7.800. Laba usahanya Rp1,1 triliun, dibagi jumlah saham 138 juta, kan (laba per saham) Rp7.800. Saya put    everything di United Tractor. Beli seluruhnya hanya di 1 counter,” ujarnya. Ia sempat ragu. Akan tetapi, dia tetap mempertahankan prinsip value investing, yaitu berinvestasi dengan membeli saham dengan harga murah tapi berpotensi tumbuh.

Setelah enam tahun memegang saham UNTR, pada 2004 LKH menjual seluruh asetnya di sana. Harga saham UNTR saat LKH menjualnya Rp15 ribu per saham. “Saya gemetar. Kan duit saya kecil tiba-tiba jadi banyak. Saya piker, kalau nanti dia turun lagi, uang saya hilang bagaimana? Saya salah, saya jual. Akhirnya (saham itu) naik jadi Rp600 ribuan.●(Zian)

Bagikan ke:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.