Lintas 71

Angka ‘keramat’ 17 jika disusun terbalik jadi 71. Lumayan tua juga, ya, usia negeri ini. Tanggal dan bulan yang sama diperingati Gabon, di barat Afrika, sebagai hari kemerdekaan (1960)—setelah penjajahan Porto sejak abad ke-15 dilanjutkan Prancis per medio 1800-an. Apa refleksi penting di umur yang kebetulan setara dengan usia rata-rata harapan hidup (70,1 tahun) orang Indonesia?

Kalau cuma  disparitas pembangunan Jawa dan luar Jawa, itu isu lama. ‘Bahaya kuning dari utara’ secara de facto jauh lebih destruktif. Silakan tengarai ekses 30 ribu ton sabu yang sudah masuk di Tiongkok, eksodus ribuan/puluhan ribu kuli kasar mereka plus yang ilegal, dan klaim ‘nine dash line’ wilayah seluas 2 juta km² di Laut Cina Selatan yang mengangkangi 30% laut Indonesia di Natuna, 80% laut Filipina, 80% laut Malaysia, 50% laut Vietnam, dan 90% laut Brunei.

Lalu, kaitkan dengan tabiat mereka yang suka perang dan menginvasi negeri lain. Tibet dan Uyghuristan mengalami itu. Cina jadi sahabat baik Tibet, 700 tahun silam. Tibet ‘dibantu’ membangun infrastruktur (kereta api, jalan dan lain-lain). Pada saatnya, para pekerja Cina mengeluarkan senjata, menodong polisi dan tentara, peradaban di Tibet hancur, sampai sekarang mereka dikuasai Cina.

Cukuplah Zimbabwe yang harus menggunakan mata uang Yuan per 1 Januari 2015. Itu solusi penghapusan utang US$40 juta/Rp554 miliar, yang jatuh tempo akhir Desember 2015. Cukuplah Angola yang membarter minyak dengan pembangunan sejumlah infrastruktur. Lalu Luanda, ibukota Angola, mereka bangun jadi kota yang maju dengan memarjinalkan pekerja lokal atas nama efisiensi kerja.

Cukuplah di Timor Leste Cina membangun pangkalan militer sebagai imbal balik pembangunan infrastruktur (jalan dan jembatan) dan pemberian utang jutaan dolar AS untuk bikin istana kepresiden baru. Cukuplah Sri Lanka yang masuk perangkap serupa dengan mulai membangun pelabuhan senilai US$1,5 miliar.

Cukuplah di Kuala Lumpur 30 ribuan puak Melayu (16/9/2015) turun ke jalan-jalan menentang dominasi ekonomi etnis Tionghoa. Cukuplah ratusan warga Filipina dan Vietnam berkumpul (16 Mei kemarin) di depan konsulat Cina, Manila, meneriakkan “Cina, Keluar!” Cukuplah memahami kesepakatan Joko Widodo dengan Presiden Xi Jinping tentang pertukaran hingga 10 juta penduduk itu ceroboh—kalau bukan bodoh—seperti disitir Sri-Edi Swasono dan Yusril Ihza Mahendra.

Kita dililit soal pengangguran yang 5,50% (7,0 juta) per triwulan pertama 2016; ketimpangan pendapatan serius (0,43) pada akhir 2015 karena 50,3% kekayaan nasional dikuasai oleh hanya 1% rakyat Indonesia; utang US$304,6 miliar/Rp4.234 triliun per November 2015. Di lintas 71, sudikah kita jadi bangsa keledai?

 

Salam,

Irsyad Muchtar

Bagikan ke: