Lewat Tambak Terintegrasi Ekspor Udang Ditargetkan Tembus USD4  Miliar pada 2024

Ilustrasi-Foto: tinemu.

JAKARTA—Kementerian Kelautan dan Perikanan melakukan berbagai upaya untuk memberikan kontribusi ekspor di antaranya budi daya udang.

Di antaranya mengembangkan kawsn tambak terintegrasi di Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Timur.  Dengan adanya tambak udang terintegrasi ini diharapkan ikut meningkatkan nilai eksor udang sebesar USD4 miliar dari capaian USD2,23 miliar pada 2021.

Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono mengatakan target nilai ekspor tersebut kurang lebih setara dengan volume produksi 2 juta ton udang per tahun pada 2024. Tahun ini, volume produksi udang diproyeksikan mencapai 1,2 juta ton. Sementara nilai ekspornya ditarget meningkat 30 persen.

“Tambak udang terintegrasi ini akan dikembangkan dalam bentuk tambak modern,” ucap Sakti  di lokasi percontohan shrimp estate, Sumbawa, NTB, Jumat (18/3/22).

Menteri menyatakan, modernisasi tambak udang rakyat juga paralel dilakukan di dua daerah lainnya, yakni Aceh dan Sulawesi Tenggara.

Produktivitas tambak dalam pengembangan berbasis kawasan ini dibidik mencapai 40 ton per hektare, jauh di atas rata-rata produksi tambak tradisional yang hanya 0,6 ton per hektare.

Pemerintah merogoh kocek USD500 juta untuk membuat modenrisasi tambak rakyat ini. Rinciannya, masing-masing USD150 juta di tiga lokasi tambak udang terintegrasi, dan sisanya USD50 juta untuk revitalisasi tambak di Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara dan Kota Baru, Sulawesi Tengah.

Modeling tambak udang terintegrasi di Sumbawa mencakup total luas lahan 528 hektare dengan luas kolam 221 hektare. Sisa lahan di luar kolam tambak akan dimanfaatkan untuk fasilitas penopang seperti tandon, Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), kantor pengelola, dan lain-lain.

Proses konstruksi kawasan tambak ini akan dimulai pada tengah tahun ini dan diperkirakan dapat selesai dalam 1,5 hingga dua tahun ke depan.

Lahan, seluruhnya merupakan lahan milik nelayan dan dalam pengelolaannya di kemudian hari akan menggunakan sistem bagi hasil dengan pemerintah.

Menurut rencana, pada saat yang sama  akan paralel dibangun seluruh faktor pendukung, seperti industri pakan.

“Hatchery juga di sini, karena kalau bibitnya bisa diambil dari mana-mana, bisa berdampak buruk karena kita tidak tahu apa yang terjadi dengan bibit-bibit itu,” ungkap Sakti.

Pada tahap lanjutan, Kementerian Kelautan dan Perikanan akan memperluas kawasan tambak terintegrasi menjadi lebih dari 1.000 hektare sehingga luas kolam dapat mencapai 500 hektare.

.


Bagikan ke: