LEE

Ia memang tak bisa dipisahkan dengan kelahiran negeri di pulau kecil seluas 700 km2 itu. “Bahkan saat kalian siap-siap menguburkan saya, jika saya merasa ada yang salah dengan Singapura, saya akan bangkit,” ancamnya. Tapi usia punya batas waktu, Senen 23 Maret 2015 bapak orang Singapura itu wafat di usia 91 tahun. Kata-katanya kembali bergema.

Selama tiga dekade memimpin negeri di pulau kecil, memang tidak mudah bagi Lee Kuan Yew. Terlebih ia tinggal di lingkungan tetangga yang tidak ramah. Toh ia tidak peduli, otoriter dan tetap arogan dengan berbagai pernyataannya.   Ketika Presiden BJ Habibie menyindir bahwa dalam peta, Singapura hanyalah satu titik kecil berwarna merah tak sebanding dengan bentangan warna hijau yang sangat luas, Lee tak juga menunjukkan amarahnya. Terlalu mahal baginya untuk berkonflik dengan Indonesia. Bukankah ia punya pengalaman konflik rasis yang lebih buruk di masa lalu.

Di tahun 1965, negeri yang semula hanya gardu pangkalan dagang Inggris ini, berpisah dari Malaysia. Kerusuhan antar Melayu dan etnis Cina, memaksa Lee untuk membawa Singapura menjadi sebuah negara baru. Ia cemas dengan sumber daya alam yang sangat terbatas, tetapi Ia tidak punya pilihan.

lee

Lee sang pembuka jalan itu   mengingatkan kita pada Jose Arcadio Buendia. Ia membangun sebuah kota bernama Macondo, tempat di mana ia membangun dinasti dan keturunan.   Jose dan Macondo, keduanya hidup dalam novel imajinatif Gabriel Garcia Marquiz, One Hundred Years of Solitude.

Novel yang meraih Nobel Kesusasteraan pada 1982 ini berkisah tentang perjuangan membangun sebuah dinasti. Hanya sebuah fiksi memang , tetapi orang melihat bahwa sesungguhnya Marquiz tengah merangkai fakta dan fantasi tentang sejarah tak resmi negerinya, Kolombia.

Seperti Buendia yang membangun Macondo dengan imajinasi yang liar, Lee yang tidak punya pilihan harus membangun rumah yang aman bagi rakyatnya dengan mimpi besar menjadikan Temasek sebagai kota yang jadi pusat perdagangan penting dunia. Ia tak peduli dengan keterbatasan alam, juga tak peduli dengan demokrasi. Masyarakat sejahtera dibenaknya hanya bisa dibangun lewat disiplin yang ketat. Itu sebabnya ia otoriter.

Di negeri Lee, waktu berjalan satu jam lebih cepat dari Jakarta kendati masih dalam sengatan panas matahari yang sama.

Ketika orang-orang di Jakarta masih asyik membaca koran di teras rumahnya pada jam tujuh pagi, pada saat yang sama orang-orang di Singapura sudah duduk di ruang kantornya menekan kontrak penjualan pertama.

Berada di tengah himpitan dua melayu, Lee berupaya tampil beda dengan tetangganya, tetapi juga tak ingin membangun konflik.

Ia sadar sebagai titik kecil saja di khatulistiwa. Tetapi di barisan perekonomian Asia, Singapura tampil teratas dengan income per capita pada 2014 US$ 55.000 per tahun, hampir 12 kali lipat income per capita Indonesia yang US$4.800. Ekonom kita baru merancang income per capita US$ 18.000 itupun akan tercapai pada 2030.

More than you ever imagined. Dan di tahun 90-an munculah Mega Top Singapore Airlines (SQ), sebuah service pelayan teknologi audio visual paling modern di udara . SQ memang ingin yang pertama membuat inovasi di udara. Tahun 2004, misalnya, SQ memulai penerbangan terjauh Singapura – New York non-stop 18 jam untuk jarak tempuh sekitar 16.600 km.

Layanan di jasa transportasi udara adalah icon bisnis Singapura yang merebak ke mancanegara. Maka tak heran jika negeri mini ini menjadi yang pertama pengguna Airbus A-380, pesawat super besar yang pernah dibuat di dunia.

Dari sebuah pulau gersang yang awalnya bernama Temasek di abad ke XIV, Singapura tumbuh menjadi kota dengan lalu lintas perekonomian paling maju di dunia.   Ia dibangun oleh kekuatan imajinasi, yang kata Albert Einsten, lebih kuat dari ilmu pengetahuan. Sebab, imajinasi tidak mempunyai batas.

(Irsyad Muchtar)

Bagikan ke: