Laju Otomotif Masih Menjanjikan

Berkaca pada kesusksesan ajang Indonesia Internasional Motor Show (IIMS) pada 2014, industri otomotif nasional memiliki prospek cerah di 2015. Dalam event yang berlangsung 18-28 September 2014 itu, mampu meraup penjualan total sebesar Rp 5,45 triliun. Ini berarti terjadi kenaikan signifikan dibanding tahun 2013 yang meraup penjualan mencapai Rp 4,94 triliun.

Beberapa faktor bisa menghambat laju perkembangan di industri ini di tahun depan. Yakni antara lain, kenaikan harga BBM (atau dalam bahasa pemerintah mencabut subsidi BBM), tren pelemahan rupiah yang terjadi diakhir 2014, dan isu penaikan tarif Pajak Penambahan Nilai atas Barang Mewah (PPnBM).

Perubahan regulasi terhadap mobil LCGC (Low-Cost-Green-Car) yang semula tidak dikenakan PPnBM, akan dikenakan pajaknya bakal meningkatkan harga mobil LCGC. Faktor di atas merupakan kendala yang bisa menghambat laju penjualan otomotif tanah air di 2015.

Kendala yang terpampang di depan mata, bukan menjadi hambatan berarti mengingat lonjakan jumlah kelas menengah di Indonesia. Di 2014, tercatat ada sekitar 90 juta kelas menengah, naik dari sebelumnya (2013) yang berkisar di angka 60-70 juta. Peningkatan jumlah kelas menengah diyakini akan mendorong penjualan kendaraan bermotor di Indonesia. Apalagi kecenderungan konsumen kelas menengah di Indonesia ingin menonjolkan gaya hidupnya, salah satunya adalah jumlah kepemilikan mobil. Jika dulu kita melihat bahwa rumah tangga yang memiliki satu mobil sudah bisa dianggap sebagai keluarga yang mapan. Kini, biasa saja, apalagi dengan munculnya mobil-mobil murah (LCGC). Dalam satu keluarga sudah mulai muncul kebutuhan untuk memiliki lebih dari satu mobil di rumahnya.

Dengan didukung oleh berbagai tawaran mobil murah dan kredit kepemilikan kendaraan yang semakin fleksibel hingga tenor enam tahun, membuat keluarga kelas menengah tergoda untuk menambah jumlah koleksi mobil di halaman parkirnya. Satu mobil untuk si Ayah ke kantor, satu mobil untuk si Anak kuliah, dan satu mobil yang lebih besar untuk dipakai jalan-jalan bersama keluarga.

Menurut data dari Gaikindo tercatat bahwa LCGC memberi kontribusi sebesar 14 persen dari total penjualan kendaraan dalam periode Januari-Agustus 2014. Beberapa produk LCGC yang beredar di pasaran saat ini adalah Astra Toyota Agya, Astra Daihatsu Ayla, Suzuki Karimun Wagon R, Honda Brio Satya, dan Datsun GO Panca.

Pasar Mobil Bekas

Saat ini jangka waktu kepemilikan mobil baru sangat singkat, rata-rata tidak ada yang lebih dari lima tahun   bertahan dengan mobilnya. Jika dulu orang bertahan dengan mobil yang sama lebih dari 5 tahun. Sekarang, rata-rata orang sudah mengganti mobilnya dengan yang baru setelah bertahan dengan mobil lamanya selama 3-5 tahun. Hal ini biasanya terkait dengan alasan kebosanan dengan model/fitur mobil yang sebelumnya, kekecewaan dengan performa mobil sebelumnya, dan karena mobil lamanya tersebut sudah memasuki tahun depresiasi nilai sehingga jika terus dipertahankan malah akan menambah pengeluaran di biaya peremajaan mobil tersebut.

Konsumen yang cepat gonta-ganti mobil dalam kurun waktu kurang dari 5 tahun biasanya adalah tipe konsumen yang aktif mencari perkembangan atau tren mobil terbaru, memiliki penghasilan tinggi, dan memiliki pengetahuan tinggi tentang fitur dan spesifikasi mobil. Ketika mereka melihat ada penawaran mobil dengan desain dan spesifikasi yang lebih menarik dibandingkan mobil lamanya, sementara performa mobil lamanya kalah jauh dari mobil impiannya, dan dia memiliki dana yang cukup untuk membeli mobil baru, maka dia akan memutuskan membeli mobil baru tersebut. Terkadang ada konsumen yang tidak menjual mobil lamanya, misalnya diberikan kepada anggota keluarga yang lain yang belum memiliki mobil sendiri. Namun, tak jarang konsumen ini menjual mobil lamanya untuk mendapat mobil dengan model dan spesifikasi terbaru.

Apalagi dari data Gaikindo yang menyebutkan bahwa rata-rata usia (tenor) cicilan mobil baru berkisar antara dua sampai tiga tahun, maka di 2015 pasar mobil seken bakal ramai. Konsumen mobil bekas bisa bermacam-macam, mulai dari anak kuliahan dan keluarga yang belum mampu atau berani membeli mobil baru, sampai perusahaan rental mobil yang menggunakan mobilnya untuk bisnis. Pasar mobil bekas juga akan diramaikan dengan jenis mobil-mobil murah LCGC seken. Jika melihat waktu peluncuran mobil LCGC pada 2013, maka pada 2015 diperkirakan tersedia banyak pilihan mobil LCGC seken. (Gal)

 

Judul: Ritel Asing makin Menggurita

PEMBERLAKUAN pasar bebas Asean (AFTA) ditahun ini makin membuka pasar Indonesia bagi peritel asing. Sebelum permbelakuan AFTA saja, Indonesia sudah diserbu oleh peritel asing. Ini terlihat dengan makin banyaknya waralaba asing masuk ke Tanah Air. Setelah peritel besar seperti Carrefour, Lotte Mart, Circle K, Giant, 7 Eleven, Lawson, Family Mart. Kini tengah mengambil ancang-ancang dan sudah terdaftar sedikitinya 16 waralaba AS bakal berebut pasar ke Indonesia. Mereka antara lain Applebee’s, Denny’s, Johnny Rockets, Carvel Ice Cream, Cinnabon, Schlotzsky\’s, dan Moe\’s Southwest Grill yang semua di sektor makanan.

Dalam laporan terbarunya, Pricewaterhouse Coopers International Ltd (PWC) memprediksi, industri ritel dan konsumer di Asia Pasifik akan tumbuh rata-rata 6% selama 2011 hingga 2015. Angka ini menjadikan Asia Pasifik sebagai kawasan dengan tingkat pertumbuhan ritel tertinggi dibandingkan Amerika Serikat dan Eropa yang diperkirakan hanya tumbuh 1% pada periode sama

Di tahun 2015, PWC memperkirakan penjualan ritel di Asia Pasifik akan mencapai US$ 10,5 triliun, melesat 59% dari perkiraan penjualan ritel tahun ini sebesar US$ 6,6 triliun. Meksi berprospek cerah, krisis ekonomi global yang tak menentu berpotensi memperlambat laju ekspansi di Asia dalam waktu dekat.

Meski begitu, pengusaha tidak perlu khawatir. Tantangan ini akan diimbangi dengan pertumbuhan kelas menengah dan kenaikan pendapatan di Asia. Alhasil, ini merupakan peluang besar bagi peritel.

Untuk tingkat pertumbuhan ritel, Indonesia berada di kisaran 4,5%-5% per tahun selama kurun waktu tahun 2012-2015. “Pertumbuhan ritel dan konsumer di Indonesia akan lebih kuat dari Jepang, Korea Selatan, dan Australia, walau tetap lebih rendah dari China,” ujar Ay Tjing Phan, Ketua Consumer and Industrial Products & Service PWC Indonesia melalui siaran pers, akhir pekan lalu.

Berkembangnya pasar ritel dan waralaba di Indonesia karena investor menyadari pertumbuhan pasar ritel hanya akan terjadi di Asia Pasifik. Dalam 10 tahun terakhir sangat jelas terlihat perubahan mendasar pada pola konsumsi di Asia Pasifik.

Namun, pertumbuhan tertinggi datang dari ritel online. Ini didukung bertambahnya pengguna media sosial, perbaikan infrastruktur telekomunikasi, pembayaran, dan sistem keamanan jaringan. PWC memprediksi, penjualan online di Asia akan naik 20% per tahun. Bahkan di beberapa negara berteknologi maju seperti Jepang dan China, pertumbuhannya bisa menembus 40% per tahun.

boil

Angka ini menjadikan Asia Pasifik sebagai kawasan dengan tingkat pertumbuhan ritel tertinggi dibandingkan Amerika Serikat dan Eropa yang diperkirakan hanya tumbuh 1% pada periode sama

Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Tutum Ruhanta mengakui prospek cerah bisnis ritel. “Ini membuat pertumbuhan penjualan ritel di Indonesia tumbuh 10%-15% per tahun,” ujar Tutum

Lantaran itu Aprindo yakin penjualan ritel tahun ini akan mencapai Rp 138 triliun, naik 15% dari tahun lalu Rp 120 triliun. Ini pula yang membuat peritel modern dan tradisional gencar menambah gerai.

Bagikan ke: