KUR, Bancakan Sistematis Uang Rakyat

KREDIT Usaha Rakyat (KUR) merupakan stimulus pemerintah menumbuhkan semangat wirausaha. Masyarakat yang memiliki usaha atau akan memulai usaha baru,namun kekurangan modal maka KUR menjadi solusinya. Pemeritah menyiapkan anggaran KUR sekitar Rp4-5 triliun, yang diberikan kepada bank-bank plat merah sebagai penyalurnya. Beban bunga KUR di bawah bunga komersil.

Sayangnya,niat baik pemerintah tidak selalu dilakukan dan berakhir baik pula. Tingginnya angka kredit mecet (NPL) KUR yang mencapai 4,2% merupakan indikasi semrawutnya pengelolalan dana itu. Menteri Koperasi dan UKM Puspayoga mengakui bahwa NPL KUR cukup tinggi. Meski demikian, pemerintah tetap melaksanakannya di tahun depan. Bank-bank yang dulu ditunjuk menyalurkan KUR dan memiliki NPL tinggi, di tahun 2015 tidak akan diperbolehkan lagi menyalurkan KUR.

KUR

Tingginya NPL pada KUR,  banyak sebabnya. Jika memang usaha yang dilakukan kreditor atau penerima KUR yang bangkrut masih bisa dimaklumi. Namun, jika kredit macet yang disebabkan kelalaian atau ada upaya kongkalikong dari bank penyalur KUR maka itu adalah pelanggaran pidana. Majalah PELUANG menemukan kasus dugaan penyelewengan KUR di lapangan.

Salah satunya adalah yang ditemukan di Temanggung, Jawa Tengah.  Ani salah satu penerima KUR , di sana mengaku ditawari KUR oleh teman yang bekerja di bank swasta, dia bilang tidak perlu dikembalikan. KUR itu dana bantuan sosial yang diberikan pemerintah kepada masyarakat, jadi terserah mau dikembalikan atau tidak.

Lantaran itu,  Ani sontak tertarik untuk mengajukan pinjaman KUR ke BRI  melalui temannya yang bekerja di bank swasta itu. Seperti kata pepatah, tidak ada makan siang yang gratis, begitupun bantuan yang diberikan teman Ani tersebut.  Hitung-hitungannya, ungkap  Ani, maksimal pinjaman dari KUR sebesar Rp25 juta. Dari total pinjaman itu, Ani hanya menerima Rp15 juta. Potongan total sebesar Rp10 juta itu, rinciannya Rp 5 juta untuk orang dalam dan Rp 5 juta dipinjam yang mengurusnya.

Dalam pengajuan KUR itu,ungkap Ani, semua persyaratan dilengkapinya termasuk agunan. Lucunya, agunan yang diajukan nilainya jauh lebih rendah dibandingkan total jumlah pinjamannya. Ani menyodorkan BPKB Honda Beat tahun 2010 yang harga barunya saja tidak mencapai Rp15 juta. Karena melalui orang dalam, pengajuan KUR nya disetujui dan telah dicairkan awal April 2014.

“Ya  karena awalnya dibilang KUR itu bantuan hibah dan agunan saya juga nilainya kecil…ya saya biarkan saja. Hitung-hitung saya jual motor, semuanya dapat untung,” jawabnya enteng.

Bagikan ke: