“Kuambil Lagi Hatiku”, Nasionalisme  Borobudur

Adegan dalam “Kuambil LagiHatiku”-Foto; instagram Lala Karmela

JAKARTA—-Sinta (Lala Karmela)  melangkahkan kakinya dengan perlahan ke pedepokan tempat Bu De-nya Dewi (Ria Irawan)  mengajar menari beberapa anak.  Irama musik membuat dia menggerakan tangan dan kemudian tubuhnya dan terus mendekat. Tatapannya matanya menunjukan dia terpikat.  Dewi menyambutnya dengan sinis.  Latihan tari dihentikan dan anak-anak diminta pulang.

Di desa  tak jauh dari Canda Brobudur  yang letaknya ribuan kilometer dari tempat kelahirannya  dan tempat  tinggalnya di  Agra, India  Sinta menemukan pesona lain dari negeri  yang tadinya hanya dikenalnya melalui foto  dan percakapan renyah dengan ibu dan pembantunya. Sinta lebih mengenal Taj Mahal.

Sinta seorang perempuan India keturunan sebetulnya sedang merencanakan pernikahannya dengan Vikas  (Sahil Shah).   Namun menjelang acara seserahan, Widi (Cut Mini) pulang  ke Indonesia setelah mengetahui ayahnya  sudah meninggal.  Kepulangannya ke kampung halamannya disambut dengan tidak bersahabat oleh kakaknya Dewi.

Keluarganya keturunan ningrat sudah menganggapnya sebagai anak hilang karena dulu Sinta  kawin  lari dengan seorang pria India.  Keluarganya memiliki sebuah guest house yang dikelola oleh adiknya Widi, Dimas (Dian Sidik) di perdesaan itu. Namun Widi berkeras ingin mengadakan selamatan untuk ayahnya.

Sinta datang menyusul bermodalkan sebuah foto lama orangtuanya, bermaksud menjemput kembali ibunya agar  ikut upacara  serahan menurut tradisi India.   Persoalannya bukan saja  tidak mudah membujuk ibunya, tetapi Sinta menemukan rahasia keluarganya yang selama ini tidak diceritakan ibunya.

Berbagai  peristiwa termasuk berurusan  dengan sindikat pencurian candi,  pertemuan dengan Panji, seorang arkeolog  muda (Dimas Aditya),  membuat Sinta gamang akan jati dirinya.  Kegamangan  yang tidak saja membuatnya  harus  memilih  jalan hidupnya, tetapi juga mengancam pernikahannya.

Film  yang disutradarai Azhar  Kinoi Lubis ini dan skenarionya ditulis  Salman Aristo  mengungkapkan selapis demi selapis penemuan jati diri Sinta. Adegan pembuka ketika Sinta kecil  belajar menari India kemudian ditarik ibunya akhirnya  membuat  Sinta   menampik  permintaan menari  dari keluarga  calon suaminya, yang saya tadinya tempelan ternyata  punya makna yang saling kait mengait dengan adegan selanjutnya.

Kuambil lagi Hatiku bukan  sekadar film menjadikan Candi Borobudur sebagai tempat  setting film  tetapi  memberikan pesan,  berkaitan kearifan lokal dan keragaman  budaya.  Pesan nasionalisme  disematkan secara halus dalam film ini.

Kinoy  mampu memberikan panorama memikat bukan saja Candi Borobudur, tetapi juga  suasana asri perdesaan dan guest house dengan arsitektur Jawa yang  ciamik.

Film ini merupakan produksi pertama dari BUMN Produksi Film Nasional (PFN) setelah vakum selama 26 tahun.  Menurut Direktur  PFN Muhammad Abduh Aziz  membuat film di era milenial  ini tidak sama ketika masa Orde Baru, di mana propaganda negara menjadi pesan utamanya.

“Kami ingin memberikan  pesan sesuai misi PFN, tetapi tidak menggurui,” ujar Abduh  kepada awak media dalam press screening, Rabu (13/3/2019).

Pemilihan India  sebagai  lokasi syuting  memang berbeda dengan sejumlah film Indonesia ketika memilih lokasi syuting kebanyakan memilih negara-negara Eropa atau Amerika Serikat. Menurut Abduh  secara budaya Indonesia  dan India relatif dekat.

“Penggunaan empat bahasa  dalam dialog  film  ini seperti Bahasa India, Bahasa Inggris,Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa  membuka kemungkinan  film ini bisa dipasarkan  di negera-negara Asia,” pungkas Abduh, seraya  menyebutkan PFN sedang menyiapkan beberapa film lagi   pada 2019 ini (Irvan Sjafari).

 

Bagikan ke: