KSU Tunas Jaya Bertahan dengan loyalitas anggota

Ambruknya ratusan usaha retail berbasis koperasi di berbagai kota di tanah air tak menggoyahkan KSU Tunas Jaya menggulirkan roda usahanya. Loyalitas anggota yang tinggi membuat koperasi ini tetap eksis di tengah persaingan bisnis yang tidak sehat.

Nama koperasi serba usaha (KSU) yang sempat harum di masa lalu, agaknya bakal jadi kenangan manis saja lantaran lemahnya kepedulian berbagai pihak, terutama pemerintah terhadap bisnis retail andalan warga koperasi ini. Di masa lalu, KSU memang pernah menjadi program populis pemerintah yang dihujani banyak fasilitas, sehingga KSU tumbuh subur di mana-mana. Di ibu kota Jakarta, icon Waserda sebagai branding KSU marak di berbagai kampung dengan perpaduan warna merah dan kuning yang cukup komersial.
KIni masa ‘bulan madu’ antara koperasi retail dengan pemerintah itu boleh dibilang selesai. Jika Anda mampir ke pelosok kampung, tidak hanya di Jakarta, tapi juga di berbagai kota besar lainnya di tanah air. Gedung dan kantor KSU nyaris hilang, berganti dengan gerai-gerai minimarket yang merangsek hingga ke dalam kampung.
Tentu saja tidak ada yang salah jika minimarket modern tumbuh dan berkembang dengan baik sesuai regulasi yang ditetapkan pemerintah daerah setempat. Masalahnya jadi lain, manakala kehadiran minimarket tersebut justru banyak yang melanggar Perda. Seperti disinggung Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat bahwa semua minimarket yang beroperasi 24 jam di Jakarta tidak memiliki izin. Karena, peraturan daerah (Perda No 2 Tahun 2002 tentang Perpasaran Swasta) menegaskan operasional minimarket hanya sampai pukul 22.00 WIB. Karena itu, pihaknya akan mengevaluasi keberadaan minimarket di Ibu Kota. “Setiap minimarket di kelurahan dan kecamatan harus dikontrol,” ujarnya beberapa waktu lalu.
Pernyataan orang nomor dua di Pemprov DKI Jakarta itu memang menggembirakan, apalagi sebelumnya Wakil Presiden Jusuf Kalla juga meminta agar minimarket ditata ulang agar tidak mematikan usaha kecil di sekitarnya.
“Kita tunggu saja actionnya di lapangan, karena pernyataan angin sorga seperti ini sudah sering kali berhembus, tapi prakteknya di lapangan kan beda, pelanggaran tetap saja jalan,” kata Ketua KSU Tunas Jaya Sugiharto.

Pengurus tunas jaya

Andalkan Loyalitas Anggota

Berbeda dengan KSU lainnya di belantara Jakarta yang satu persatu tutup dan bahkan ada yang menyewakan gedungnya untuk usaha minimarket modern, Tunas Jaya adalah pengecualian. Koperasi berusia 38 tahun ini masih tetap setia melayani anggotanya yang kebanyakan adalah warga di lingkungan RW 07 Kelurahan Bendungan Hilir Jakarta Pusat.
Diakui, akibat persaingan usaha retail yang tak terkendali itu, usaha Tunas Jaya di sektor retail sempat limbung dengan perolehan omset yang terus merosot. Omset toko Tunas Jaya per tahun buku 2014 tercatat Rp 672,5 juta, lebih rendah dibanding 2013 sebesar Rp 813,7 juta dan 2012 sebesar Rp 964,4 juta. Namun, kata Sugiharto loyalitas anggota di bidang usaha lainnya seperti jasa dan simpan pinjam, membuat KSU dengan anggota sebanyak 1.789 orang ini tetap eksis.
Sepanjang tahun 2014, koperasi dengan aset Rp 35,041 miliar ini berhasil meraih omset sebesar Rp 65,529 miliar dengan pemasukan terbesar dari tabungan dan simpanan koperasi sebesar Rp 33.106 miliar atau mencapai 85% dari target Rp 39 miliar. Sedangkan penerimaan dan angsuran piutang simpan pinjam Rp 19,290 miliar.
Realisasi penerimaan tabungan dan simpanan tahun buku 2014, kata Sugiharto adalah terendah dalam tiga tahun terakhir. Sebelumnya dapat dihimpun Rp 33,933 miliar pada 2013 dan Rp 38,7343 miliar tahun 2012.
Sedangkan pengeluaran KSU ini pada periode yang sama sebesar Rp 60,095 miliar dengan pengeluaran terbesar dari penarikan tabungan sebesar Rp 27,625 miliar dan penyaluran pinjaman Rp 21,708 miliar. SHU diterima sebesar Rp 470,548 juta, yang merupakan selisih antara pendapatan sebesar Rp 5,581 miliar dan beban biaya operasional Rp 5,112 miliar. Kemampuan koperasi ini dalam memenuhi kewajibannya dapat dilihat dari likuiditasnya yang mencapai 170,70 %, solvabilitas 114,70% dan rentabilitas 11,70 %.
Sugiharto menyadari persaingan usaha antara usaha besar, kecil dan mikro belakangan ini makin bebas tanpa rambu-rambu yang melindungi usaha kecil. Kondisi tersebut diperparah oleh lemahnya kepedulian pemerintah pusat maupun daerah terhadap koperasi dan UKM.
Namun dia yakin koperasi yang dipimpinnya mampu melewati persaingan tidak sehat itu karena dukungan anggota yang cukup solid. Tahun 2015, KSU Tunas Jaya menargetkan perolehan usaha toko Rp 900 juta, usaha jasa Rp 2,4 miliar, penerimaan angsuran piutang simpan pinjam Rp 24 miliar dan penyaluran pinjaman Rp 27 miliar. Total omset diharapkan Rp 73,500 miliar.

Bagikan ke: