KSP SB Iwan Setiawan Saatnya mencari format RAT yang efisien melalui pemanfaatan IT

Selama 18 hari di bulan Februari 2015 ini Koperasi Simpan Pinjam Sejahtera Bersama (KSP SB)  menggelar persiapan Pra RAT di seluruh cabang yang tersebar di berbagai kota di Pulau Jawa. Aktivitas rutin dan formal itu cukup melelahkan dan memakan waktu dan biaya tidak sedikit. Namun berdasarkan aspek legal perkoperasian (UU No 25 Tahun 1992) ajang RAT wajib dilaksanakan sebagai barometer dari hidupnya usaha dan dinamika koperasi.

Kegiatan Pra RAT yang berlangsung sejak 10 Februari hingga 27 Februari 2015 di delapan cabang KSP SB  itu sedikitnya dihadiri sekitar 300 anggota dari masing-masing wilayah, sehingga jika di total keseluruhan anggota KSP SB yang hadir dalam Pra RAT adalah sebanyak 2.400 orang. Dari jumlah tersebut, akan dipilih 200 orang untuk mewakili cabang-cabang menghadiri RAT KSP SB pada akhir Maret ini di Kantor Pusat KSP SB di Bogor Jawa Barat.

Iwan Setiawan

Menyimak perjalanan Pra RAT yang cukup panjang, melelahkan dan biaya yang tidak murah itu, Ketua Pengawas KSP SB Iwan Setiawan menilai sudah saatnya pelaksanaan RAT dilaksanakan dengan cara yang lebih efektif dan efisien agar tidak terjadi penghamburan waktu tenaga dan dana.  “Koperasi yang melakukan RAT secara estafet  seperti  ini saya dengar bukan hanya KSP SB, tapi sejumlah koperasi dengan rentang cabang yang luas  (multi-lokasi) juga melakukan aktivitas  serupa dengan KSP SB. Karenanya perlu dicari format RAT yang efisien, misalnya dengan memanfaatkan teknologi informasi,” ujarnya saat berbincang dengan Majalah PELUANG di sela acara Pra RAT KSP SB Regional Bogor akhir Februari lalu.

Perkembangan teknologi yang semakin canggih dewasa ini berdampak pula pada gaya hidup dan kerja masyarakat. Jika dulu penggunaan Ponsel hanya sebatas menelpon dan mengirim pesan, kini ponsel nyaris berubah fungsi menjadi komputer mini, kamera, bahkan sarana  komunitas dan media sosial.

Karenanya menurut Iwan Setiawan, sangat relevan jika teknologi informasi yang berkembang saat ini dapat dimanfaatkan untuk melakukan efisiensi RAT Koperasi. ‘ Koperasi di luar negeri sudah menggunakan internet untuk mengundang dan menjalin aktivitas usaha bersama anggotanya. Bahkan salah satu koperasi besar di Canada, Mountain Equipment Co-operative cukup mengirim email kepada seluruh anggotanya sekitar 3,3 juta orang (data 2011) yang tersebar di mancanegara untuk mengundang RAT. Tentu saja tidak semua bisa hadir, namun jawaban yang diberikan  melalui email tersebut sudah dianggap sebagai kehadiran anggota, sangat simple, dan itu berkat IT.

“Nah, jika KSB menyiapkan media komuniasi internal untuk 50 ribu lebih anggotanya, dimana berbagai  informasi, transaksi keuangan maupun undangan rapat tercover di dalamnya, saya kira kita akan melakukan efisiensi yang luar biasa.  Gampangnya, mungkin seperti Group What’s App, BBM atau Line yang banyak digunakan berbagai kalangan masyarakat sekarang ini,” ujarnya.

 

Meningkatkan modal anggota

Penerapan manajemen berbasis teknologi informasi memang sangat mendesak bagi KSP SB, hal ini berkaitan dengan target   pertumbuhan 1.000.000  anggota dan Gebyar Pertumbuhan Anggota dan Pertumbuhan Tabungan sehingga koperasi ini mampu membiayai permodalannya sendiri. 

Partisipasi anggota identik dengan peningkatan modal kerja, karena basis utama koperasi adalah orang yang implikasinya tentu akan menghimpun modal. “Koperasi yang baik itu kan jika partisipasi anggotanya tinggi yang membesarkan koperasi melalui simpanan pokok, simpanan wajib serta partisipasi lainnya. Jika target 1.000.000 anggota bisa kita capai, insyaallah kendala permodalan bisa selesai,” kata Iwan.

Masalahnya memang tidak mudah lantaran koperasi ini baru saja melakukan transformasi dari KSU menjadi KSP guna menyelaraskan kerja dengan UU No 17 Tahun 2012 tentang Perkoperasian. Belum lagi genap setahun membenahi sistem yang baru itu, koperasi ini diminta untuk kembali menyesuaikan diri dengan  UU N0 25 Tahun 1992, UU Perkoperasian lama yang dinyatakan berlaku kembali karena UU 17 Tahun 2012 dianulir oleh Mahkamah Konstitusi.

Perubahan yang serba cepat itu berdampak pada kinerja KSP SB yang sudah smooth menggalang modal anggota melalui SMK (Sertifikat Modal Koperasi). Ketika SMK berubah kembali menjadi Simpanan Wajib, maka substansinya sudah tidak sama. Kalau di SMK, anggota hanya sekali beli dan boleh menambah seperti halnya saham. Sementara Simpanan Wajib rutin. Karenanya, tahun  tahun 2015 ini, KSP SB  akan menerapkan lagi Simpanan Wajib tapi tidak setiap bulan sekali tetapi setahun sekali sebesar Rp.50.000.

Mengenai kesiapan koperasi ini mengejar  pertumbuhan 1.000.000 anggota,  target itu akan terus dicanangkan bersamaan dengan peluncuran program Gebyar Pertumbuhan Anggota dan Pertumbuhan Tabungan dan penerapan teknologi informasi yang lebih canggih.

Jika RAT masih menggunakan pola yang berlaku saat ini, maka akan sulit dan biayanya bakal membengkak.  Misal target 1.000.000 anggota itu tercapai dan mereka ikut RAT semua, baik di tingkat cabang maupun Pusat dengan  cost rata-rata Rp 10 ribu saja per orang, maka sudah Rp 10 miliar dana yang terserap percuma. Sekarang saja biaya RAT KSP SB sudah menghabiskan Rp 1 miliar. Karenanya Iwan akan mengusulkan kepada Kementerian Koperasi dan UKM untuk mengadakan RAT secara on line. Kalau sudah on line, artinya tidak ada lagi perwakilan, semuanya bisa ikut memberikan pendapat.

Iwan berencana mengusulkan adanya RAT secara on line kepada Deputi Kelembagaan Kementrin Koperasi dan UKM, sehingga tidak ada lagi sistem perwakilan karena semuanya ikut memberikan pendapat.

 

“Pertama, kami  silakan anggota masuk ke website kami yang melakukan RAT secara on line, masing-masing punya kartu member dan passwordnya; dan bagi yang tidak punya komputer di rumahnya kita akan menyediakan komputer di kantor-kantor pelayanan KSP-SB. Dari orang-orang yang mengikuti RAT online itu maka akan dipilih secara acak 200 orang yang mewakili RAT di kantor pusat, jadi biayanya hanya dikantor pusat saja,” pungkas Iwan.

Bagikan ke: