KSP Lombok Sejati NTB Melawan Stigma Koperasi ‘Rentenir’

Tudingan sebagai koperasi yang menjalankan praktik rentenir memang tak mengenakkan, terlebih bagi Koperasi Simpan Pinjam Lombok Sejati, yang menyadang posisi terbaik dan terbesar di Nusa Tenggara Barat. Kinerja keuangannya tumbuh tipis sebesar 3,55%

lombok sejati NTB

PERTUMBUHAN kinerja usaha di tahun buku 2016 agaknya tidak begitu menggembirakan bagi Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Lombok Sejati. Bukan lantaran mengalami penurunan kinerja yang justru tetap baik, KSP ini menghadapi tudingan melakukan praktik rentenir. Memang tidak mengenakkan. Tapi Supardjito,  menanggapinya dengan senyum. “Saya menghadapi orang-orang yang mindset-nya gaya sebelum era reformasi, yaitu masih beranggapan dana koperasi itu dari pemerintah dan tidak merasa bersalah kalau ngemplang, ”ujar Ketua KSP Lombok Sejati itu kepada PELUANG, awal April lalu di Mataram, NTB.

Ia pun bertutur mengenai adanya piutang macet dari sejumlah anggota koperasi, namun saat dilakukan penagihan berkali-kali sesuai dengan keputusan bersama, yang terjadi justru munculnya tudingan tak sedap itu.

Persoalan tagihan macet itu, lanjut dia, sebenarnya sudah bisa diselesaikan melalui  Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) dan dinyatakan selesai. Belakangan masih ada pihak yang mengajukan tuntutan secara hukum lantaran dibebani tagihan yang kian membesar. Namun Supardjito menegaskan siap menghadapi tuntutan tersebut karena proses yang dilakukan KSP Lombok Sejati dalam menangani tagihan macet sudah sesuai prosedur.

Mengacu pada laporan Rapat Anggota Tahunan 2016, kinerja koperasi ini cukup menggembirakan dengan pencapaian usaha yang tumbuh tipis. Dana dihimpun mencapai Rp46,497 miliar atau tumbuh 3,55% dibanding tahun 2015 sebesar Rp44,902 miliar. Secara kualitas, pencapaian ini telah mengalami pertumbuhan yang baik karena produk dana KSP ini masih diminati oleh anggota. Sedangkan pinjaman disalurkan mencapai Rp 36,651 miliar, naik 3,51% dibanding tahun 2015 sebesar Rp35,408 miliar. Pemberian pinjaman di tahun 2016, kata Supardjito, lebih ketat. Pihaknya tidak hanya menerapkan prinsip kehati-hatian yang mengacu pada 5 C tapi juga ditambah dengan satu faktor C lainnya, yaitu Constraint, atau hambatan terhadap lingkungan usahanya. “Kami sudah  buatkan regulasi mengenai faktor Constraint itu  untuk dijadikan acuan dalam menganalisa calon peminjam,” tutur Supardjito.

Sepanjang 2016 koperasi yang berdiri pada 2004 ini berhasil mengantongi aset sebesar Rp52,8 miliar dan modal sendiri Rp6,124 miliar. Anggotanya tercatat sebanyak 9.625 orang, bertambah 3.945 orang atau 57,01%  dibanding tahun 2015 sebanyak 6.130 orang.(Ira)

Bagikan ke:

3 thoughts on “KSP Lombok Sejati NTB Melawan Stigma Koperasi ‘Rentenir’

  1. Very good article post.Much thanks again.

  2. I cannot thank you enough for the post. Will read on…

  3. Enjoyed every bit of your article post.Thanks Again. Awesome.

Comments are closed.