KPPD Tumbuh dengan Semangat Optimistis Pengurus

Koperasi fungsional di lingkungan perusahaan atau kantor pemerintahan terkesan aman-aman saja menjalankan usaha. Maklum keberadaannya mendapat dukungan kuat dari induk perusahaan.

RAT KPPD

Demikian pula halnya jika sepintas kita tengok kiprah Koperasi Pegawai Pemerintah (KPPD) DKI Jakarta yang tampak sehat dan tumbuh baik. Koperasi dengan jumlah kekayaan mencapai puluhan miliar rupiah ini seolah tak pernah didera masalah karena berada lingkungan kekuasaan.

Faktanya seperti banyak koperasi di tanah air, koperasi pegawai pemda DKI Jakarta ini juga pernah kolap. KPPD sempat ambruk pada periode 1989 akibat salah kelola. Beruntung waktu itu, muncul sosok bernama Hasanudin Bsy yang berani membenahi koperasi yang hampir ambruk ini.

Bersama pengurus lain, ia menghadap Sekretaris Daerah (Sekda), melaporkan kondisi koperasi. Untuk menutup utang yang menumpuk. Satu-satunya adalah menjual aset berupa tanah. Setelah usulan itu disetujui, sebidang tanah di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan dijual.

Pernah pemotongan gaji diblokir oleh Bank BPD (Bank DKI) karena menangguk utang Rp 400 juta. Jadi secara total sudah tidak ada pelayanan anggota dan karyawan tidak digaji.

Meskipun di era Orde Baru pemerintah “memanjakan” koperasi dengan berbagai kebijakan – skema bantuan. Tetapi Hasanudin mengaku KKPD tidak termasuk koperasi yang mendapatkan bantuan dari pemerintah. Jadilah ia dan kawan-kawan berjuang mengembangkan bisnis dengan modal sendiri seadanya. Pengurus berkomitmen mandiri, tidak cengeng dan harus berani mengahadapi tantangan.

Kini KPPD sudah lama kembali ‘pede’ alias percaya diri, berkat kinerja yang diukir sangat baik. Meski hanya sebagian kecil pegawai di lingkungan Pemprov DKI yang mencapai 70 ribu orang hanya sekitar 9.000-an yang masuk sebagai anggota. Koperasi ini telah membukukan kekayaan Rp 98,4 miliar, naik Rp 9 miliar dari tahun lalu Rp 89,1 miliar. Piutang anggota mencapai Rp 64,613 miliar.

Komitmen itu telah dibuktikan dengan capaian-capaian dari beberapa unit usaha, terdiri USP, kredit elektronik, kredit sepeda motor, penyewaan rumah kos, persewaan ruangan/kantor/toko, pertokoan, kerja sama pihak ke-III, serta usaha Fotocopy dan paket daging lebaran. KPPD bahkan merupakan sedikit koperasi yang modal sendirinya (ekuitas) lebih besar dari pada modal pihak ke III sebesar Rp 86,702 miliar. Semuanya terdiri simpanan pokok Rp 270,8 juta, simpanan wajib Rp 70 miliar, simpanan hari tua Rp 875,5 juta, simpanan suka rela Rp 5,058 miliar, simpanan khusus penyertaan modal Rp 1,823 miliar, simpanan khusus 7,776 miliar dan cadangan Rp 780 miliar. SHU yang dibukukan sekitar Rp 7 miliar. (Saw)

Bagikan ke: