Koperasi Usaha Tani Ternak (KUTT) Suka Makmur Bersama Koperasi, Indonesia Bisa

Susu sapi berkualitas tinggi yang diolah bersumber dari 2.500-an peternak tua-muda di lima kecamatan Pasuruan, Jatim, dengan produksi 64 ton/hari. Pengelolaannya saat ini di tangan seorang anak muda kreatif.

Pada usia 47 tahun pada tanggal 12 Juli 2015, aset KUTT Suka Makmur di Grati, Pasuruan, Jawa Timur, mencapai Rp5,2 miliar, omset Rp164,758 miliar, dan anggota 4.469 orang. Artinya, lapangan pekerjaan tercipta dan pendapatan warga di sana meningkat. Padahal, cikal bakalnya hanya koperasi peternakan sapi perah dan penampungan susu.

Segelintir peternak waktu itu mampu memproduksi 38 liter sehari. Hampir setengah abad kemudian, koperasi ini menghasilkan 1.700 kali lipatnya atau 64 ton susu sapi segar/hari. Anggotanya tersebar di lima kecamatan di Pasuruan. Tim agri service KUTT Suka Makmur terjun langsung melatih dan mendampingi peternak untuk memproduksi susu sapi segar berkualitas bagi konsumen. KUTT Suka Makmur juga memiliki beberapa bisnis unit yang sudah sangat stabil dan terpercaya untuk mendukung produksi susu segarnya yaitu Green Feed dan Yellow Feed, pakan ternak terbaik yang sudah mengantongi sertifikat ISO 9001-2008 untuk manajemen kualitas.

Pasokan susu KUTT berasal dari peternak di lima kecamatan wilayah Pasuruan; yaitu Grati, Lekok, Nguling, Lumbang, dan Rejoso. Dari 18 ribuan ekor ternak dengan sapi laktasi (menyusui) 9.000 ekor dan produktivitas 9 liter/ekor per hari yang dimiliki 2.500-an peternak itu diperoleh akumulasi 64 ton/hari. Hasil perahan peternak ini segera dikirim ke Pos Penampungan Susu
dalam kondisi fresh, lalu secepatnya didinginkan untuk menjaga kualitas. Selanjutnya, truk tangki membawanya ke pabrik pengolahan milik Koperasi Suka Makmur.

Jika dibandingkan dengan kemampuan sapi di negara-negara yang teknologi peternakannya sudah maju, “Produktivitas sapi perah di Pasuruan ini sebenarnya belum optimal. Masih jauh dari angka ideal yakni 15 liter per hari per ekor,” katanya. Saat ini, sekitar 90 persen susu yang dihasilkan koperasi tersebut disalurkan untuk industri susu Frisian Flag dan 10 persen ke Nestle. Dari total susu sapi yang dikelola KUTT Suka Makmur, 90 persennya dikirim ke Jakarta.

Riwayat sukses petani peternak masyarakat Pasuruan ternyata punya catatan sejarah panjang. Nama Koperasi Usaha Tani Ternak (KUTT) Suka Makmur baru digunakan sejak 26 November
1987. Ini kelanjutan dari Koperasi Peternakan Sapi Perah Rakyat dan Penampungan Susu Suka Makmur yang didirikan Zainal Abidin Akbar pada 22 Maret 1978, yang mampu membeli penampungan susu milik pemerintah di Grati, Pasuruan.

Sebagai sebuah tim, solidaritas KUTT Suka Makmur terjada sebagaimana layaknya satu keluarga besar. Di dalamnya berhimpunpara petani ternak dan kalangan profesional yang memiliki berbagai macam keahlian. Anggota termuda berumur 16 tahun dan yang tertua berumur 85 tahun.

Secara alamiah, generasi tua akan berkecenderungan berbagi pengalaman agar generasi muda bergairah dan optimistis menekuni profesi di sektor produksi ini. Lebih dari PT atau CV pada umumnya, koperasi adalah badan usaha yang mencari keuntungan tapi sekaligus memikul komitmen yang tinggi dalam mewujudkan misi sosial. Dengan konsep ‘dari rakyat untuk rakyat’, pengelolaan yang baik dan sinergi dengan berbagai pihak, “Koperasi memiliki keunggulan dalam endurance dan sustainability, dan bisa jadi backbone perputaran ekonomi di Indonesia,” ujar Sanggar dengan yakin.

Memasuki usia Republik Indonesia yang ke-70, gerakan koperasi Indonesia semakin mendorong pemerintah untuk memberikan perhatian dan dukungan yang lebih banyak untuk mencapai kemandirian ekonomi. Walau masih sering dipandang sebelah mata oleh masyarakat, koperasi sebenarnya memiliki potensi besar yang mampu mendukung perekonomian daerah dan bahkan nasional.

Bagikan ke: