Koperasi Susu India, AMUL Ketika Susu menjadi simbol protes

Marah dengan kartel perdagangan susu yang eksploitatif yang digalang oleh para tengkulak Inggris, sejumlah patriot nasionalis India mendorong para peternak susu sapi untuk memotong rantai perdagangan susu, membangun pasar sendiri dan menyingkirkan pedagang perantara. Solusinya lahirlah koperasi susu pada 1946.

India tak hanya dikenal dengan produk tekstil, bajaj atau industri filmnya, Bollywood. Negeri berpenduduk satu miliar jiwa lebih ini juga mencatat reputasi besar dalam sejarah koperasi susu.

Sejarah panjang koperasi susu India yang terkenal dengan merk AMUL (Anand Milk Union Limited), bermula 70 tahun lampau. Kala itu, para petrernak susu di Anand, sebuah kota kecil di negara bagian Gujarat mendapat perlakuan buruk dari para tengkulak atau pengepul susu yang seenaknya menurunkan harga. Terinspirasi oleh gerakan pejuang nasional India, Sardar Vallabhbhai Patel, Morarji Desai dan Tribhuvandas Patel mereka nekad membangun usaha sendiri berbentuk koperasi pada 1946.

Begitulah, di bawah pimpinan Tribuvandhas Patel, seorang peternak lokal, mereka memutuskan mogok memasok susu ke para tengkulak . Aksi mogok itu berlangsung selama 15 hari, sehingga pemerintah Inggris kewalahan dan mengijinkan peternak membentuk koperasi, Kaira District Co-operative Milk Producers Union Limited. Izin diberikan karena Inggris berasumsi petani tidak bakal mampu menjalankan perdagangan susu di bawah panji koperasi. Aksi itu ditaksir hanya bertahan dalam beberapa minggu saja, dan setelah itu peternak akan kembali merengek kepada para tengkulak untuk membeli produk susunya. Selain itu, susu adalah perishable goods ( barang yang tak tahan lama) yang cepat rusak, di produksi di pedesaan dan dikonsumsi di perkotaan, sehingga Inggris yakin peternak tidak punya pilihan selain menjual susunya kepada tengkulak. Apalagi kala itu hanya ada Polson, pabrik pengolah susu milik Inggris

Adalah nonsens kala itu sebuah koperasi mampu melakukan pengadaan, sekaligus pengolahan dan memasarkan sendiri produk anggotanya.

 

Memang bukan pekerjaan mudah bagi koperasi yang bangkit dari semangat kebangsaaan ini. Awalnya, hanya diikuti dua koperasi desa dengan penjualan 247 liter susu. Namun tekad untuk mandiri yang diinspirasi oleh para pejuang nasiona India itu membuat koperasi susu yang kemudian terkenal dengan merek dagang AMUL ini bertahan, bahkan membawa harum nama India di masyarakat koperasi dunia. Kini, AMUL l (berasal dari bahasa sanskerta: Amoolya= tidak ternilai) merupakan merk dagang bernilai US$2 miliar dengan penjualan lima miliar liter susu per tahun.

Kebesaran AMUL tidak bisa dilepaskan dari peran besar Verghese Kurien, yang dipercaya memimpin koperasi ini pada 1950. Putra Calicut kelahiran 1921 ini mendapat bea siswa dari pemerintahnya untuk mempelajari teknologi persususan di Wisconsin University Amerika Serikat.

 

Revolusi Putih India

Usai menggondol gelar Master di bidang Metalurgi dan Fisika pada 1949, Kurien bergabung dengan pabrik produk susu milik pemerintah di Anand. Ia mendirikan Federasi Koperasi Pemasaran Susu Gujarat (GCMMF) pada tahun 1973, dan memimpin sebagai ketua sampai tahun 2006 ketika ia mengundurkan diri karena kesehatannya menurun. Ia wafat pada 9 September 2012 dalam usia 90 tahun. Beritanya merebak ke seantero India hingga ke luar negeri. Kurien juga dikenal sebagai ‘Bapak Revolusi Putih India’ lantaran kecemerlangannya membangun ketertinggalan India dalam konsumsi susu hingga menjadi produsen susu terbesar dengan produksi rata-rata 20 juta-an ton per hari. Jumlah itu mampu memenuhi kebutuhan domestik dan ekspor ke 43 negara. Kurien mengangkat jutaan orang dari kemiskinan dan menumbangkan sistem kasta yang kaku melalui koperasi susunya. Salah satu jasa penting Kurien membangun koperasi susu India adalah menjauhkannya dari keterlibatan para politisi. Sehingga profesionalisme koperasi tidak terganggu oleh campur tangan politik maupun birokrasi.   Revolusi putih yang digagas Kurien mengubah bisnis peternakan susu dan meratakan sistem kasta India yang kaku melalui koperasinya dimana semua anggota diperlakukan sama, tanpa memandang latar belakang sosial maupun keagamaan mereka. Melalui proses ini, penjual susu desa, terutama para perempuan, mendapatkan kembali rasa percaya diri yang selayaknya dimiliki mereka.

india kopsus

Di balik sukses gerakan koperasi susu India yang mendunia dan dimiliki langsung oleh jutaan peternak penghasil susu, patut diperhatikan bahwa keberhasilan tersebut dicapai hampir tanpa campur tangan terlalu banyak dari pemerintah. Sebaliknya pemerintah malah memberikan dukungan dengan membentuk Dewan Susu Pembangunan Nasional (Nasional Diary Development Board-NDDB) pada 1965 diprakarsai oleh Perdana Menteri India, Lal Bahadur Shastri. NDDB bertujuan untuk mengembangkan produk susu rakyat ke pelosok India dengan mengadopsi keberhasilan AMUL Karenanya pemerintah meminta Kurien memimpin NDDB yang selanjutnya lahirlah konsep Revolusi Putih yang dikenal dengan Operation Flood.

Saat ini NDDB sangat berperan dalam pengembangan peternakan dan persusuan di India. Aktivitasnya meliputi bidang Product & Process development, Engineering, Animal Nutrision, Veterinary, serta Breeding. Semua fungsi ini dilaksanakan bertujuan untuk mendukung peternak agar menghasilkan susu, memberikan keuntungan bagi peternak, menghasilkan produk susu yang berkualitas dan menjual susu dengan harga terjangkau bagi konsumen.

Kendati namanya tidak sepopuler AMUL, namun tak pelak lagi lantaran GCMMF (Gujarat Cooperative Milk Marketing Federation) bendera AMUL berkibar di seantero India dan sejumlah negara seperti AS, Jepang, Cina, Australia dan kawasan negara teluk. Di india sendiri, GCMMF adalah eksportir produk susu terbesar yang mendapat penghargaan APEDA Award dari pemerintah India selama 16 tahun berturut-turut.

Sebagai perusahaan yang punya pengalaman panjang di sektor persusuan, GCMMF terus melakukan berbagai inovasi produk agar tidak ditinggalkan pasar. Tidak hanya fokus kepada susu, yang dipasteurisasi dengan kualitas tinggi. GCMMF juga memproduksi susu bubuk untuk bayi, mentega, keju, es krim, yoghurt dan bahkan cokelat. Tiga generasi penduduk India tumbuh besar dengan mengenal slogan produk AMUL “Utterly Butterly Delicious” (Amat Sangat Lezat).   Kini , AMUL mengekspor susu bubuk, mentega dan keju ke 37 negara termasuk negara tetangga, Bangladesh, Nepal dan Afghanistan, juga ke Asia Tenggara, Timur Tengah dan Amerika Serikat. Koperasi dengan omset US$3,4 miliar pada 2014 ini memproduksi susu sekitar 14,85 juta liter per hari berasal dari 18,536 susu desa koperasi, 17 serikat anggota yang meliputi 31 kabupaten, dan 3,6 juta anggota produsen susu Gujarat. Lebih dari 70% dari anggota adalah petani kecil, kaum marjinal dan buruh tak bertanah dari kalangan kasta rendah.

Dalam rapat anggota Tahunan ke 41 GCMMF pada Mei 2015, omsetnya dalam lima tahun terakhir dilaporkan tumbuh dari Rs 8.005 crores menjadi Rs. 20.733 crores, bahkan omset kumulatif kelompok GCMMF untuk semua produk yang dijual di bawah merek AMUL adalah Rs. 29.000 crores atau US$ 4,6 miliar.

Shri Jethabhai Patel, Ketua, GCMMF, memprediksi permintaan pasar dalam lima tahun ke depan masih sangat prospektif dengan pertumbuhan rata-rata 20% per tahun. Pada tahun 2019-2020 mendatang dia memprediksi omset GCMMF melebihi Rs. 50.000 crores atau setara US$ 8 miliar.

Pelajaran berharga yang dapat kita tarik dari sukses AMUL adalah, adanya kordinasi yang kuat dan jelas antar tingkat organisasi koperasi. Di tingkat federasi menangani pemasaran pada tingkat nasional dan internasional serta mengkordinasi para pengecer dan pedagang, Di tingkat distrik/union (sekunder) terlibat dengan prosessing/pengelolaan produk, menyediakan makanan ternak, menyediakan dokter hewan dan menyelenggarakan pendidikan/pelatihan. Sedangkan di tingkat organisasi primer mengumpulkan/membeli susu dari peternak untuk disetorkan/dijual kepada koperasi distrik/union dengan harga layak. (Irsyad Muchtar)

Bagikan ke: