Koperasi Pertanian Korsel Dari Intervensi Pemerintah hingga Perdagangan Internasional  

Gebrakan usaha koperasi pertanian, bernama NACF di Korea Selatan sungguh membuat kita iri. Rambahan usahanya menyebar ke berbagai lini mulai dari penyaluran pupuk, asuransi, pengadaan beras, minimarket, food center, perbankan hingga pabrikasi yang bertujuan membendung serbuan produk pertanian impor. Selain itu  pemerintahnya memberi dukungan positif berupa keringanan pajak.  Kapan koperasi Indonesia mendapat perlakuan yang sama dari pemerintah seperti halnya NACF?

Korea

NATIONAL AGRICULTURAL COOPERATIVE FEDERATION (NACF) adalah simbol sukses koperasi yang awalnya dibentuk pemerintah pada 1961 sebagai sarana pembangunan ekonomi di pedesaan.  Seiring dengan perubahan iklim totaliter ke iklim demokrasi (1987), struktur organisasi koperasi pertanian Korsel yang sejak awal pendiriannya dikendalikan oleh pemerintah (termasuk Ketua NACF yang ditunjuk oleh Presiden Korea Selatan) berubah menjadi organisasi ekonomi yang demokratis, yang kepengurusan maupun kebijakan organisasi dan usahanya ditentukan dari bawah (bottom-up). Meskipun demikian pemerintah tetap memberikan dukungan dalam berbagai bentuk di antaranya keringanan pajak.

Kini, NACF tetap menjadi koperasi pertanian (dalam bahasa Korea  NongHyup) yang usahanya telah berkembang dalam berbagai bidang meliputi produksi, pemasaran, distribusi, serta jasa keuangan (perbankan dan asuransi). Selain itu, kegiatan NACF tetap berfokus pada pelayanan kepada anggota, bukan saja berkembang pada tingkat nasional,  juga meluas ke tingkat internasional.

Dari segi organisasi/kelembagaan, NACF selalu berupaya meningkatkan efisiensi melalui restrukturisasi. Jika pada awal pembentukannya terdapat 21.239 koperasi primer, dengan anggota perorangan rata-rata 105 orang, pada 1968 diciutkan melalui merger menjadi 16.089 koperasi dengan anggota rata-rata 139 orang. Sedangkan pada tingkat sekunder (township level) dari dua koperasi menjadi 72 koperasi.

Pada 1968, kegiatan koperasi-koperasi primer hanya terbatas pada pemberian pinjaman untuk modal-modal pertanian dan pembagian pupuk, terutama koperasi sekunder bergerak dalam kegiatan pelayanan kredit, asuransi, proyek-proyek pengembangan dan konsultasi.

Pada 1973 koperasi-koperasi primer tinggal 1.500 dengan rata-rata anggota per koperasi sebesar 1.400 orang (dari sebelumnya 139 orang pada tahun 1968). Pada periode ini koperasi-koperasi primer mulai dilibatkan dalam penyaluran kredit serta pengembangan waserda yang menyediakan kebutuhan sehari-hari bagi anggota.  Sejak 1971, koperasi-koperasi primer dikembangkan menjadi koperasi serba usaha dengan mengambil alih beberapa kegiatan usaha kunci dari koperasi tingkat sekunder, termasuk pelayanan kredit pertanian, penyediaan/distribusi pupuk, serta pelayanan asuransi koperasi.

Pengambilalihan beberapa kegiatan pelayanan kepada anggota petani mendorong usaha NACF semakin berkembang hingga penjualan polis asuransi, pinjaman jangka menengah dan panjang, demikian pula pinjaman dan asuransi serta penjualan mesin-mesin pertanian yang sebelumnya ditangani koperasi sekunder berpindah tanggung jawab kepada koperasi primer.

Dengan berkembangnya koperasi-koperasi primer, sebagai koperasi serba usaha, maka keberadaan koperasi tingkat sekunder menjadi tidak efektif lagi sehingga pada tahun 1981 struktur koperasi pertanian Korea, yang semula terdiri dari tiga tingkat dirampingkan menjadi hanya dua tingkat dengan meniadakan koperasi sekunder (city/county cooperative) yang selanjutnya peranannya menjadi kantor cabang NACF. Penghapusan tingkat sekunder yang memungkinkan pelayanan langsung oleh NACF sebagai koperasi pertanian tingkat induk/nasional kepada koperasi primer, yang dikuatkan dengan undang-undang ini, sangat mengurangi biaya operasional serta meningkatkan efisiensi pelayanan koperasi

Pada 1993 misalnya dalam rangka peningkatan pengumpulan hasil produksi pertanian anggota, NACF telah membangun 181 titik pengumpulan hasil pertanian, 116 gudang berpendingin udara dan 30 pusat penyortiran buah.

Pada saat itu juga didirikan kompleks pengolahan beras modern untuk pengeringan, penggilingan, pengepakan, dan pengemasan hasil panen padi di beberapa daerah. Jumlah pasar swalayan (supermarket) juga meningkat tajam, dari 38 menjadi 217 unit, warung pemasaran langsung dari 38 menjadi 151 unit dan pusat pengapalan hasil pertanian dari dua menjadi enam unit.  Upaya untuk mengurangi produk-produk impor dari luar negeri, pada saat itu NACF membangun sembilan pabrik pengolahan makanan.

 

Rambah  Pasar Internasional

NACF juga terlibat aktif dalam pengembangan usaha di tingkat perdagangan internasional. NACF pada 1990 mendirikan Korea Agricultural Cooperative Trading Co, dan membuka perwakilan di New York, (Amerika Serikat) dan Fokuoka, (Jepang) sebagai pusat pembeliaan barang-barang kebutuhan petani (Agricultural Product Shopping Center) untuk memasarkan hasil pertanian anggota dan sekaligus melayani kebutuhan mereka melalui toko serba ada (Department Store), pasar swalayan (Supermarket),dan pusat jajan makanan (food center).

NACF mendirikan Korea Agricultural Cooperative Marketing Co, sementara untuk melayani pupuk kepada petani, NACF  memiliki saham sebanyak 70% pada Nawhal Chemical Corporation, pabrik pupuk terbesar di Korea yang melayani 70% kebutuhan petani Korea. semua perusahaan ini berstatus sebagai subsidiari.

Koperasi pertanian itu pada perkembangannya memiliki unit usaha perbankan dan asuransi. Untuk perbankan jumlahnya di tingkat wilayah/provinsi ada 17 buah, sedangkan pada tingkat kabupaten (country) terdapat 155 kantor bank dengan cabang di seluruh Korsel sebanyak 712 buah, yang melayani 1.332 koperasi primer.

Kantor-kantor tingkat kota/kabupaten yang jumlahnya 155 ini menjadi pusat pelayanan koperasi-koperasi primer tingkat wilayah, sehingga setiap satu bank tingkat kabupaten melayani 6-10 koperasi primer.

Secara keseluruhan kinerja perbankan koperasi pertanian/NACF merupakan bank komersial terbesar nomor dua di antara 32 bank di Korea (2000). Dilihat dari depositonya, bank-bank koperasi pertanian yang mencapai 127 triliun won atau 101 miliar dollar AS dan merupakan bank terbesar di Korea pada 2000.

Sedangkan unit asuransinya, yang merupakan perusahaan asuransi terbesar nomor empat di Korsel menawarkan 21 jenis asuransi jiwa dan tujuh asuransi non jiwa.

 

Ranking 12  Dunia

Dalam ranking 300 koperasi terbesar dunia yang digelar International Co-operative Alliance, Global 300 ICA, posisi NACF berada di tempat  terhormat yaitu pada posisi 12  dunia pada tahun 2011 berdasarkan perolehan usaha (turnover). Urutan tersebut mengacu pada jenis koperasi  yang bergerak di berbagai sektor, seperti jasa keuangan, ritel, kesehatan, pertanian dan asuransi.  Jika dikelompokan dalam koperasi sejenis, yaitu pertanian dan pangan, NACF  berada di  posisi tiga besar dunia.

Penilaian tersebut tidak hanya mengacu pada volume usaha sebesar USD 31,27 miliar,   juga kinerja sosialnya yang menonjol.

Dari segi tanggung jawab sosial, NACF memfokuskan kegiatannya pada aspek kemasyarakatan dan lingkungan. Antara lain meluncurkan kampanye bagi kemakmuran bersama kota-kota dan desa-desa pertanian melalui perbaikan kualitas hidup orang-orang kota dan pada petani, dan untuk menjadikan desa-desa pertanian sebagai tempat yang nyaman untuk dihuni.

NACF memainkan peranan kunci pada pemeliharaan budaya lokal dan unik dari setiap wilayah di Korea Selatan. Salah satu kegiatannya yang cukup penting dalam budaya lokal ini adalah program “Menemukan Akar”, dimana orang-orang dapat menelusuri peninggalan sejarah bangsa Korea. NACF juga mensponsori kegiatan-kegiatan tradisional pada tingkat wilayah melalui kegiatan di antaranya Pesta Ginseng, Pesta Padi, Pesta Lada Merah, doa bersama pada panen raya.

Mengenai kepedulian pada lingkungan, NAFC membantu mengembangkan pertanian yang ramah lingkungan dengan mendukung kelompok-kelompok pertanian koperasi dalam memproduksi hasil pertanian yang ramah lingkungan, dengan mengembangkan teknologi pertanian dan dengan memberikan pelayanan pendidikan/pelatihan kepada petani dan konsumen. NACF juga mendukung pertanian yang ramah lingkungan dengan memberikan bimbingan manajemen berbasis komputer terhadap kelompok-kelompok pertanian koperasi.

NACF juga melaksanakan proyek perintis untuk sistem produk ternak organik dan sarana pertanian yang ramah lingkungan. Koperasi itu menawarkan pendidikan manajemen teknologi dan informasi yang berkaitan dengan pertanian untuk membantu para petani dalam menjaga keamanan dan penerapan bahan-bahan kimia dan pupuk.

Dalam laporan tahun buku 2014,  jumlah anggota NACF tercatat sebanyak 1.115 koperasi primer dengan anggota perorangan 2,35 juta orang, dan  total aset mencapai 116,660 triliun Won. (Irsyad Muchtar)

Bagikan ke: