Koperasi Kredit Pintu Air Koperasi ‘kampung’ berkibar di pentas nasional

21 tahun lalu, 1 April 1995, sejumlah warga dusun mendirikan koperasi dengan modal nekad, hanya Rp 500 ribu. Kini, siapa nyana asetnya Rp 442,8 miliar dengan akumulasi pembiayaan sebesar Rp 667,2 miliar.

Nama dusun Rotat di Desa Ladogahar, Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, boleh jadi hanya sebuah dusun kecil biasa-biasa saja, seandainya Koperasi Kredit Pintu Air (Kopdit Pintar) gagal mengemban misinya membangun ekonomi rakyat berbasis kesetaraan dan kebersaman. Tetapi dari dusun kecil itulah semangat berkoperasi tumbuh menggelora lantaran tekad para pengelolanya untuk memperbaiki perekonomian masyarakat yang kala itu memang jauh dari sejahtera. Bahwa hanya dengan berkoperasi saja, kesetaraan ekonomi bisa dicapai.

Kini dalam rentang dua dasawarsa dusun Rotat mencuat dalam peta nasional sebagai rumah lahirnya koperasi terbaik di Provinsi NTT.

kopditpintu air

Koperasi yang digagas oleh 50 orang ini, bermula dari kegiatan arisan warga di lingkungan dusun Rotat. Lantaran hanya sekadar kegiatan simpan pinjam di lingkungan terbatas, maka perjalanan awal koperasi ini tak menggembirakan; bahkan Badan Hukumnya pun baru diperoleh pada tahun 2004.

Perubahan mulai terlihat, ketika Yakobus Jano penggagas koperasi ini turun langsung sebagai ‘motor’ penggerak   usaha. Awalnya, ia memang hanya bermain di balik layar (part-timer), maklumlah kala itu ia masih berstatus pegawai Bank BRI. Saat memasuki masa pensiun pada tahun 2010, Yakobus Jano melibatkan dirinya secara total (full-timer) di Kopdit Pintar. Pengalaman yang relatif panjang dalam cara merekrut nasabah di bank pemerintah, jadi modal besar bagi upayanya menumbuhkan Kopdit Pintu Air.

Dalam tempo lima tahun, Yakobus membuktikan mampu mendongkrak kinerja Kopdit Pintar dengan sangat mengagumkan. Jumlah anggota yang dalam 15 tahun terakhir (1995-2010) hanya berkisar 13 ribu-an orang, mulai menggeliat dengan pertumbuhan mencapai 108.964 orang pada 2015. Kopdit Pintar yang semula hanya bergulat di dusun Rotat dan Maumere, kini berkembang hingga 27 cabang di seantero NTT; mulai dari Atambua, Kefa, Soe, Kupang, Alor, Lembata, Adonara, Larantuka, Mamuere, Paga, Masebewa, Watuneso, Mbay, Mataloko, Bajawa, Aimere, Kisol, Ruteng, Cancar, Lembor, hingga Labuan Bajo. Sesuai namanya Pintu Air, Yakobus memang mengusung misi menjadikan Kopdit Pintar mengalir ke berbagai penjuru tanah air. Menjadikan seluruh lapisan masyarakat anggota koperasi.

“Koperasi boleh saja tumbuh di dusun seperti halnya Kopdit Pintar, namun tetap harus dikelola profesional dan harus punya sistem akuntansi yang dihormati sebagai ‘panglima’ oleh segenap pengelola dan anggota. Karenanya tidak boleh ada one man show dalam berkoperasi,” ujar Yakobus Jano saat berbincang dengan Majalah PELUANG di sela Rapat Anggota Tahunan Kopdit Pintar ke-XX pada 27 Februari lalu di Kantor Pusat Kopdit Pintar Rotat, Desa Ladogahar, Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka, NTT.

Dihadiri sekitar 300 orang anggota yang mewakili 27 cabang Kopdit Pintar se-NTT, RAT tersebut berlangsung bagai pesta rakyat yang disesaki para penduduk di desa tersebut. Yang menarik di arena RAT itu terpampang poster ukuran 2×4 meter yang memuat kinerja keuangan Kopdit Pintar sepanjang 2015.  Sebagai badan usaha yang demokratis dan terbuka bagi siapapun, kata Yakobus, pengurus selalu membuka diri bagi anggota yang ingin mengetahui kinerja koperasi. Itu sebabnya ikhtisar keuangan Kopdit Pintar dipasang dalam sebuah poster besar yang bisa dilihat oleh seluruh masyarakat anggota.

Wakil Bupati Sikka NTT Paolus Nong Susar dalam sambutannya mengatakan koperasi telah memainkan peran penting dalam peningkatan ekonomi rakyat. Koperasi tak hanya bergerak di usaha simpan pinjam. Pemkab Sikka tengah menggiring koperasi juga bergerak di sektor serba usaha karena potensi alam Sikka sangat kaya dengan produk coklat, kelapa dan pariwisata.

Kontrol Bulanan

Masih kata Yakobus Jano, selain menabung dan mengakses modal untuk berwirausaha, Kopdit Pintar mewajibkan anggota mengontrol pergerakan koperasi. Kontrolnya adalah kontrol sosial dengan cara mengawasi perilaku pengelola mulai dari kantor pusat sampai kelompok. Karenanya setiap bulan Kopdit Pintar menggelar pertemuan dimana masyarakat sebagai anggota dan pemilik koperasi menyampaikan hasil pengamatan dan pengalamannya selama sebulan sehingga bila ada kesalahan bisa langsung diperbaiki.

Dalam rentang dua dasawarsa berkoperasi, Yakobus meyakini bahwa koperasi yang benar ditandai dengan jumlah anggota dan modal yang terus meningkat. Jika hanya modal saja yang meningkat tapi anggotanya tidak tumbuh, patut dicurigai bahwa koperasi tersebut menyimpang dari jati dirinya. Itu pula sebabnya, Yakobus tidak sepakat jika kriteria koperasi besar hanya mengacu pada hitungan aset dan omset saja. “Kriteria seperti itu sama saja dengan bank, padahal koperasi berbasis pada kekuatan anggota. Makin besar anggota, makin besar pula aset dan omsetnya,” tegas Yakobus. Lantaran itu pula untuk meningkatkan jumlah anggota, Kopdit yang mendapat penghargaan The Most Improved Cooperative of The Year tahun 2016 dari Gubernur Sulawesi Selatan ini merancang sejumlah strategi. Antara lain melalui getuk tular dan membuka produk tabungan yang menarik minat masyarakat.

“Kita mempunyai produk pelayanan pada anggota, khususnya bagi yang meninggal dunia. Mereka diberikan santunan dan bantuan untuk biaya pengurusan jenazah.

Cukup SMS saja, selanjutnya perlengkapan hingga penguburan dan acara selamatan datang dari koperasi, misalnya pakaian, peti, hewan ternak untuk dipotong. Prosesi pemakamannya selain sesuai tuntunan agama juga menggunakan cara adat,” tutur Yakobus.

Produk tabungan seperti ini sangat diminati di pedesaan, karena perihal kematian memang harus ditangani secara baik dan sakral, sementara dana mereka tidak ada. Akhirnya meminjam ke rentenir sehingga mereka malah menjadi korban. Tetapi dengan menjadi anggota koperasi mereka sudah tercover asuransi. Selain itu, promosi menarik Kopdit ini adalah pinjaman tanpa jaminan yang sudah berlangsung sejak koperasi ini berdiri. Syaratnya, cukup menjadi anggota saja. Akibat pinjaman tanpa agunan itu tingkat kredit macet Kopdit Pintar melonjak hingga mencapai 3,65%. Namun, kata Yakobus angka itu belum mengganggu operasional.

“Arisan saja ada yang nakal apalagi kita koperasi yang anggotanya banyak dan menyebar di mana-mana pasti ada yang nakal. Yang namanya bisnis pinjam-meminjam pasti ada saja yang macet,” pungkas Yakobus. Ke depan, guna meningkatkan perekonomian dan partisipasi anggota, Kopdit Pintar tak hanya bergerak di jasa keuangan, koperasi ini tengah bergegas menyiapkan unit usaha ritel yang diharapkan dapat menampung produk dan usaha anggota.

 

(Irsyad Muchtar)

 

Bagikan ke: