Koperasi Karyawan Bank Bukopin Jakarta Unit Simpan Pinjam masih andalan usaha

Dalam tiga tahun berturut-turut Koperasi Karyawan PT Bank Bukopin Tbk Jakarta membukukan lonjakan aset fantastik. Unit usaha simpan pinjam  anggota menempati sektor pendapatan terbesar.

Suasana RAT 36

Tak terpungkiri, koperasi besar dan berkualitas acapkali ditopang oleh partisipasi aktif anggotanya. Hal itu sejalan dengan peran ganda anggota sebagai pemilik dan sekaligus pelanggan koperasi. Indikator sukses tersebut terlihat pada Koperasi Karyawan PT Bank Bukopin Tbk Jakarta (KKBJ) yang kinerja usahanya sepanjang tahun  buku 2015 tumbuh mengesankan. Dalam tiga tahun berturut-turut aset koperasi ini melonjak hampir tiga kali lipat. Mengacu pada tahun buku 2015, total aset KKBJ dilaporkan sebesar Rp 200 miliar atau meningkat 55,98% dibanding 2014 sebesar Rp 128,3 miliar. Sedangkan pada tahun 2013 aset koperasi milik karyawan Bank Bukopin ini tercatat Rp 73,8 miliar.

Keberhasilan kopkar menjaga kinerja unggul, kata Ketua KKBJ Yanuedi Melayanto, tidak bisa dilepaskan dari dukungan penuh perusahan induk (PT Bank Bukopin Tbk.) yang memberikan fasilitas dan kerja sama  usaha sehingga koperasi yang berdiri pada 1979 ini tetap  eksis. Namun demikian, lanjut dia, dukungan paling besar adalah partisipasi aktif anggota yang selalu memanfaatkan jasa dan usaha KKBJ. “Dari total aset KKBJ di tahun buku 2015, sebesar

Rp 161 miliar berasal dari pinjaman yang diberikan (PYD). Artinya, KKBJ menyalurkan  pinjaman rata-rata Rp 13,4 miliar per bulan,” ujarnya saat memberikan sambutan dalam RAT ke 36 KKBJ Tahun Buku 2015 Sabtu, 9 April 2016 di Hotel Santika KS Tubun Jakarta. Hadir dalam kesempatan itu Deddy SA Kodir selaku Ketua Masyarakat Perkoperasian Indonesia (MPI) yang juga sebagai Ketua Umum Kopelindo.

Dibanding tahun 2014, PYD mengalami pertumbuhan 156,99% atau meningkat Rp 58,55 miliar. Sedangkan pada posisi pasiva total kewajiban pada tahun 2015 sebesar Rp 160,87 miliar mengalami kenaikan sebesar Rp 66,46 miliar atau 170,38% dibanding  tahun 2014 sebesar Rp 94,42 miliar.

Khusus penyaluran kredit kepada anggota, kata Dedi, panggilan akrab Yanuedi, pada tahun buku 2015 disalurkan pinjaman kepada anggota sebesar Rp 135,93 miliar. Sumber dananya berasal dari simpanan anggota sebesar Rp 40,29 miliar, pinjaman komersial perbankan Rp 69,76 miliar dan pinjaman Structure Financing  SKBDN sebesar Rp 25 miliar.

Selain mengandalkan usaha simpan pinjam sebagai pelayanan utama anggota, KKBJ merintis sejumlah usaha lainnya, seperti unit ritel dan kantin, serta jasa. Sedangkan usaha yang bersinergi dengan perusahaan induk diantaranya adalah pengelolaan alih daya (outsourcing), pengisian uang ATM, pengelolaan PPOB serta pengelolaan dana. Kopkar dengan anggota sebanyak 2.106 ini juga mengembangkan usaha non-anggota berupa pengembangan Lembaga Keuangan Mikro, Swamitra di empat lokasi, di seputaran Jakarta. Sepanjang 2015, total ekuitas KKBJ teratat sebesar Rp39,23 miliar naik

Rp 5,36 miliar atau tumbuh 15,83% dibanding tahun 2014 sebesar Rp 33,87 miliar. Sedangkan SHU sebelum pajak yang berakhir pada tanggal 31Desember 2015 sebesar Rp9,83 miliar mengalami kenaikan Rp 1,45 miliar atau 17,27% dibanding periode tahun sebelumnya sebesar Rp 8,39 miliar. Dedi menegaskan, ratio keuangan KKBJ tahun 2015 secara umum menggembirakan dan menunjukkan perkembangan positif. Ratio likuiditas sebesar 199,24%, ratio solvalibilitas 124,38% ratio rentabilitas yang diantaranya Return on Asset (ROA) sebesar 5,24%. Sedangkan pinjaman bermasalah hanya 0,25%.

Mengacu pada kinerja sehat di tahun lalu, untuk periode 2016 ini pengurus menargetkan peningkatan aset hingga Rp210,92 miliar, PYD Rp 180,46 miliar, ekuitas Rp 44,05 milair dan SHU Rp 10,27 miliar.   (Irsyad Muchtar)

Bagikan ke: