Koperasi Inggris GALAU PASKA BREXIT

Berbagai keraguan terhadap masa depan perekonomian Inggris – paska hengkangnya dari komunitas Masyarakat Ekonomi Eropa – melanda banyak pihak. Termasuk bisnis berbadan hukum koperasi yang harus menata ulang keberadaan organisasi dan usahanya.

koperasi inggris

Juli lalu, untuk pertama kalinya  Co-operatives Group, organisasi koperasi tetinggi di Inggris melakukan sensus  terhadap kinerja usaha para anggotanya.  Langkah tersebut menyusul keputusan drastis Inggris yang menyatakan hengkang dari komunitas Masyarakat Ekonomi Eropa (MEE) lantaran dinilai tidak memberi keuntungan finansial. Di bawah naungan Co-operatives Group sedikitnya terdapat  7000 organisasi koperasi dengan akumulasi bisnis miliaran poundsterling. Ragam usahanya mencakup sektor pertanian, perbankan, energi hingga  kegiatan sosial yang dikelola para relawan.  Sebelumnya data mengenai bisnis koperasi di Inggris  hanya terbatas pada apa yang dilaporkan ke Companies House atau Otoritas Pelaksana Keuangan, namun  cukup banyak pula  koperasi yang tidak melaporkan usahanya, atau dikenal dengan istilah ‘hidden  co-operatives (koperasi tersembunyi).   Seperti  ditulis Rebecca Harvey di  portal Co-operatives News,  akibat  ketidakpastian kondisi British Exit (Brexit) ke depan,  pegiat  koperasi di  Inggris menilai perlu menata ulang bisnis para anggotanya melalui sensus. Tujuannya  untuk mempertegas  jati diri bisnis koperasi dalam konteks menghadapi ketidakpastian pasar.  Sensus diharapkan dapat menginventarisasi posisi pasar koperasi, setidaknya dapat  menemukan “apa yang bisa dikerjakan, apa tantangannya, di mana posisi mereka dan apa yang mereka butuhkan untuk sampai ke sana”.  Sensus tersebut mendorong semua gerakan koperasi untuk ambil bagian.

Perkembangan koperasi di negeri Ratu Elizabeth itu selama ini sangat menjanjikan karena turut ambil bagaian dalam berbagai aktivitas perekonomian, utamanya ritel, pertanian maupun sektor keuangan.  Seperti dikatakan Sekjen Co-operatives UK, Ed Mayo,  bahwa  sektor koperasi secara komersil  berkinerja baik,   tumbuh kuat dengan anggota  terus meningkat.  Melalui sensus pertama itu diharapkan memberi informasi dan memprediksi apakah bisnis koperasi akan terus berkembang dan melakukan berbagai inovasi. “Boleh jadi koperasi akan menghadapi tantangan yang lebih besar, namun yang terpenting kami harus  memfokuskan semua energi terbaik kami,” tutur Ed Mayo.

 

Sebagaimana kita ketahui, 23 Juni lalu, referendum di Inggris berakhir dengan hasil mengejutkan yaitu Inggris menyatakan keluar dari Uni Eropa atau dikenal dengan istilah Brexit.  Sebanyak 52% rakyat Inggris memilih ‘cabut’ dari Uni Eropa, dan  implikasinya merembet pada kepanikan pasar.  Sehari setelah itu mata uang Inggris  melorot USD 1,323 per 1 poundsterling, atau kehilangan lebih dari 10 persen dari nilai awal, sejak dibukanya perdagangan harian. Kalangan bankir di London yang bekerja lembur mengekspresikan kekhawatiran dan  mengaku  tidak pernah melihat sesuatu seperti volatilitas menyapu aset Inggris. Kejatuhan juga merambah sekutu Inggris, seperti  Dolar Australia merosot 3 persen lebih rendah untuk 73,82 sen AS.  Sementara Euro juga tak luput terkena imbas yang mengalami penurunan sebesar 23,3 persen terhadap dolar AS,  menjadi USD1,103 per 1 Euro.  Sedikitnya sebesar USD 3 triliun telah menguap  dari pasar global dalam dua hari dan poundsterling jatuh ke level terlemah dalam tiga dekade terhadap dolar.

 

Bagi pelaku koperasi,  langkah Brexit disikapi dengan merapatkan barisan dimana mereka memfokuskan negosiasi di sekitar akses ke pasar tunggal Eropa, Bagaimanapun dampak Brexit bakal  mempengaruhi harga dan pergerakan barang dan orang.  Karenanya  putusan jitu yang dilakukan kalangan koperasi adalah memperkuat kerja sama dalam menghadapi ketidakpastian pasar, baik di Inggris sendiri maupun  dengan komunitas koperasi di

seantero Eropa.  Seperti dikatakan Richard Pennycook, chief executive dari Grup Co-operative, pihaknya telah menyerukan agar koperasi seantero Eropa menggalan kebersamaan guna menghadapi ketidakpastian ekonomi dan politik paska Brexit. Ia menyoroti kekhawatiran dari warga negara Uni Eropa yang tinggal di Inggris, dan warga negara Inggris yang tinggal di tempat lain di Uni Eropa.  Gerakan untuk menggalan persatuan di antara sesama gerakan koperasi itu, juga dikirim oleh Ed Mayo melalui surat terbuka dan diikuti oleh Channel Islands Co-operative Society dan Dewan Euro Co-op serta kooperator Eropa lainnya.  “Nilai-nilai dan prinsip-prinsip gerakan koperasi  internasional melampaui batas-batas nasional,” tulis mereka.  Namun demikian agaknya tak dapat dipungkiri bahwa  para pegiat dan pebisnis berbadan hukum koperasi di dataran Eropa memang galau dengan lahirnya Brexit.

 

(Irsyad Muchtar, dari berbagai sumber)

Bagikan ke: