Kopdit CU Sumber Rejeki Bersiap Menjadi Koperasi Skala Nasional

Ekspansi wilayah kerja yang tersebar di dua provinsi mengharuskan CU Sumber Rejeki mengubah statusnya menjadi koperasi skala nasional. Untuk itu, peningkatan kapasitas kelembagaan dan pemutakhiran sistem TI tengah dilakukan.

Nama Ampah masih terasa asing di telinga sebagian besar masyarakat. Wajar saja karena Ampah adalah ibukota kecamatan Dusun Tengah, Kabupaten Barito Timur, Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng). Dari Palangka Raya, dibutuhkan waktu sekitar 5 jam perjalanan darat untuk bisa sampai ke sana. Kota kecil ini dihuni sekitar 75 ribuan warga. Sebagian besar penduduknya menyandarkan penghasilan dari hasil sadapan karet. Maka jangan heran, harga komoditas karet di pasar global
sangat memengaruhi dinamika kehidupan di kota kecil tersebut.

Di tempat yang jauh dari ingar bingar perkotaan inilah Koperasi CU Sumber Rejeki (CUSR) berkiprah. Perlu diketahui, koperasi ini merupakan CU tertua di Kalteng, berdiri pada tahun 1998 akhir berbarengan dengan krisis moneter. Dengan setting sosial ekonomi yang sedang krisis, saat itu banyak warga yang ekonominya sulit. Meminjam ke rentenir dengan bunga mencekik menjadi pilihan paling mudah. Praktik berburu rente pun merajalela. Bukannya sejahtera, kehidupan mereka justru semakin terpuruk karena terlilit utang yang menggunung.

CU

Prihatin  dengan kehidupan masyarakat tersebut, akhirnya dengan modal awal hanya Rp 2 juta hasil patungan dari para pendiri berdirilah CUSR. Sebelumnya mereka sudah menempa ilmu tentang Kopdit di Kalbar. Dengan  komitmen dan pengelolaan yang profesional, kini koperasi itu telah tumbuh menjadi salah satu koperasi besar di Tanah Air.  Sampai akhir Desember 2014, total aset sebesar Rp 385,52 miliar dengan pinjaman yang disalurkan  Rp 318,92 miliar. Sedangkan jumlah anggota sebanyak 25.239 orang.

Adriyansun, Ketua Pengurus CUSR mengatakan perkembangan koperasi utamanya ditopang oleh dukungan anggota. Meski berada di daerah pinggiran namun loyalitas anggota tidakperlu diragukan. “Anggota kami sangat peduli dengan perkembangan koperasi. Mereka pun aktif berkontribusi untuk memajukan usaha bersama ini,” ujarnya.

Daerah pinggiran memang menjadi pilihan bagi eksistensi koperasi CUSR. Dengan kelas sosial yang mayoritas menengah ke bawah, peran koperasi amat dibutuhkan untuk meningkatkan kesejahteraan. Dengan pendidikan ala Kopdit, masyarakat yang telah bergabung menjadi anggota dapat mengatur keuangannya.  Selama ini, pendidikan anggota memang menjadi pembeda antara kopdit dengan koperasi lainnya. Dengan pendidikan dasar tentang  kopdit, anggota pun tercerahkan. Sehingga wawasannya tentang koperasi pun bertambah, tidak hanya sekadar kegiatan simpan pinjam. Dari pendidikan pula, terjalin
hubungan emosional yang kuat dengan koperasi.

Pendidikan dan pelatihan tidak hanya untuk anggota saja, tetapi juga diberikan kepada seluruh komponen yang ada seperti
pengurus, pengawas, dan pegawai. Hanya saja materi yang diberikan  berbeda sesuai dengan kompetensi  yang dimiliki. Sehingga semua pihak yang terlibat mengalami proses belajar yang kontinu. Banyaknya anggota yang bergabung dengan CUSR juga tidak lepas dari ekspansi jaringan kantor yang dilakukan. Saat ini, terdapat 17 Tempat Pelayanan (TP). 12 TP ada di Kalteng dan 5 TP ada di Kalsel. Sesuai regulasi, saat ini pengurus sedang mempersiapkan CUSR koperasi menjadi koperasi skala nasional. Sehingga nanti jangkauannya dapat lebih luas.  Untuk menjadi koperasi berskala nasional, pembenahan terus dilakukan. Misalnya dalam sistem akuntansi, saat ini telah digunakan standar akuntansi keuangan entitas tanpa akuntabilitas
publik (SAK ETAP). Selain itu juga memutakhirkan sistem teknologi informasi agar sesuai dengan perkembangan zaman.

Pengurus juga meningkatkan kapasitas kelembagaan koperasi. Adriyansun menambahkan, meski berkantor pusat di daerah
pinggiran namun ia yakin usaha koperasi akan terus berkembang. Asalkan pengelolaannya dilakukan sesuai dengan prinsip dan nilai-nilai dasar kopdit. “Dalam pengembangan usaha koperasi ini kita perlu berpegang teguh pada nilai-nilai dasar kopdit,” ujarnya.

Bagikan ke: