Komunitas Bandul Fragmen Radio Djadoel

Masa keemasan radio berlalu sudah. Beraneka produk elektronika mutakhir yang kian memanjakan konsumen datang menggantikan. Mujurnya, segelintir orang mengawetkannya atas nama kenangan. Berhimpun sebagai kelompok pendengar atau kelompok pelestari pesawat radio kuno. Dan jarum waktu seakan diputar melawan arah.

Seperti koran dan media cetak umumnya, media dengar bernama radio tak pernah punah pamor. Di tengah revolusi beraneka
gadget yang makin memanjakan, selalu ada pangsa pembaca media cetak dan pendengar media audio. Lihat saja jalur FM (frequency magnitude) di hari-hari ini. Sekian pemancar setia mengudara.

Di Bandung ada 56 stasiun radio,  Jakarta (67), Surabaya (42), Medan (39), Makassar (32). Radio jadi sahabat berkendara
untuk info situasi jalanan ramai-lancar atau padat-merayap. Masyarakat perkotaan kini menyetel radio untuk request dan update lagu terbaru dan hiburan pada jam prime time. Sedangkan di daerah-daerah, khususnya pedalaman, radio merupakan
sumber info utama, selain pelestari budaya lokal.

Di masa lalu, sebelum TVRI memancar pada 1962, radio merupakan satu-satunya sarana hiburan, informasi dan pendidikan nan murah meriah. Perlahan dan pasti, pamor radio redup dan menciut dilindas popularitas TVRI, stasiun audio visual tunggal. Tuah radio makin terpinggirkan setelah, 27 tahun kemudian, RCTI berkibar sebagai tv swasta pertama (1989). Lalu MNCTV (1991), SCTV dan ANTV (1993).

Memasuki tahun 2000, muncul MetroTV, diikuti Trans TV (2001), TV One dan GlobalTV (2002). Kini, total jenderal TV nasional dan lokal berjumlah lebih dari 230 channel, meski masih belum mengalami ledakan jumlah channel TV satelit, channel TV Premium, channel tv internet dan channel IPTV. Generasi yang lahir tahun 60-an mungkin masih punya
ingatan yang sayup-sayup tentang masa jaya radio. Makin kesini, generasi yang lebih muda hanya kebagian cerita tentang sejarah radio sebagai ‘penyampai’ kemerdekaan bangsa Indonesia.

Cerita tentang diskusi pagi di kedai-kedai kopi masyarakat Minang yang gayeng bicara politik lokal dan internasional. Bahwa sumber informasi mereka adalah ABC Australia, BBC Inggris, VOA Amerika, Radio Netherland siaran Indonesia Belanda, NHK World Jepang, atau Deutsche Welle Jerman. Siaran yang dipancarkan dari berbagai penjuru dunia itu tergolong acara favorit.
Siaran mereka dalam bahasa Indonesia, pukul 4 atau jam 5 pagi atau siaran jam 10 malam. Kebanyakan dibacakan oleh penyiar asal Indonesia yang gawe disana. “Waktu itu, banyak orang mencari siaran dari luar negeri karena berita-beritanya lebih lengkap daripada berita dalam negeri/RRI,” ujar Eddy Setiawan.

Bersama Rudy Hartono dan sejumlah pendengar, Eddy mendirikan klub dengan nama Radio Listeners Club (RLC) pada tahun 1972. Pada tahun 2010, Rudy Hartono mendirikan Borneo Listeners Club. Dari segi keanggotaan, RLC sendiri ter komunitas olong SW (short wave) yang cukup besar. Terakhir tercatat anggotanya mencapai 200 orang.

kru radio makasar

Pada 1 Januari 2014 lalu, kompanyon RLC merayakan ulang tahun ke-42. Selain RLC, juga lahir beberapa komunitas pendengar radio gelombang pendek di Indonesia. Di antaranya, Media Monitoring Club, Kelompok Pencinta Radio
Gelombang Pendek, DX-Indonesia Radio Club. Rerata usia 40-an members RLS di atas 40 tahunan. Hampir tanpa anak muda.  Untuk memori yang tak terlalu jauh ke belakang, beberapa acara sandiwara radio era 80-an menjadi acara favorit di
kalangan pendengar. Demam sandiwara radio di seantero Nusantara menular melalui serial seperti Saur Sepuh, Tutur Tinular,
Misteri dari Gunung Merapi sandiwara radio fiksi tentang Siluman Harimau, Babad Tanah Leluhur, Badai Laut Selatan.

Kelompok lainnya, selain yang ber- himpun dalam kesamaan hobi, ada pula kalangan pecinta radio djaman doeloe yang melestarikan pesawatpesawat radio kuno itu sendiri. Diantara yang cukup dikenal adalah Pelestari Audio Lama dan radio Tabung Yogyakarta (Padmaditya), yang digagas Haris Supriyanto. Grup Padmaditya ini berdiri tahun 2011, mengawali keasyikan nostalgianya dengan 11 anggota. Mereka bahkan sempat melakukan pameran radio-radio langka di beberapa kota
di Jawa.

Tahun lalu, dipamerkan 60-an jenis radio dengan variasi produksi antara tahun 1930 hingga 1970yang beredar seantero Nusantara di Balai Soedjatmoko, Bentara Budaya, Solo, 19-25 September 2014. Di antara yang jadi kebanggaan adalah merek
terkenal seperti Philips, Erres, Telefunken, Blaupunk. Acara bertajuk “Layang Swara” ini melanjutkan acara serupa yang digelar di Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, Denpasar. “Kami memiliki hingga 400-an radio dan megafon kuno,” ujar Didi
Sumarsidi, aktivis Padmaditya. Sekitar 10 radio di antara merupakan buatan setelah masa revolusi, yaitu radio transistor yang lebih ringan, mudah dibawa, dan kualitas suaranya baik pula. ”Kondisi pesawatpesawat kuno itu sekitar 80 persen, karena cukup terawat,” sebut Didi, sembari menyetel radio buatan 1925 yang masih mampu menangkap gelombang AM dan FM.

Merek kuno lain yang ikut dipamerkan adalah Phillips “Aida” dan Phillips “Kompas” keluaran 1946, radio buatan Eindhoven, Belanda, dan ”Bence” radio pertama yang diproduksi di Indonesia pada tahun 1950-an. Didi Widianto, anggota Pradmaditya,
mengaku dirinya tertarik dengan radio kuno, karena desain yang unik, dan nilai sejarah atau kelangkaan. ”Suaranya juga
lebih natural karena memakai tabung dan sifatnya analog, beda dengan sekarang yang menggunakan transistor dan rekayasa digital,” katanya, menunjukkan salah satu radio yang terletak di atas meja berbentuk bulat, di tengah ruangan tersebut.

Dari puluhan jumlahnya pada 70-80-an, saat ini tercatat hanya tinggal 9 stasiun radio internasional yang siarannya
masih bisa didengarkan di gelombang pendek. Banyak yang mengalihkan upaya menarik pendengar lewat media konvergensi dan internet. Walau begitu, menurut Rudy Hartono, siaran gelombang pendek masih sangat dibutuhkan warga di pedalaman.
Maklum, listrik dan jaringan internet belum ramah hingga ke pelosok-pelosok wilayah. Dalam dasawarsa terakhir, satu persatu siaran radio internasional memangkas siaran mereka bahkan pamit dari udara.

Radio Australia, Deutsche Welle, dan BBC sudah pamit dari gelombang SW dan menyisakan siaran internet serta kerja sama siaran dengan sejumlah radio lokal di Indonesia. Radio Nederland Siaran Indonesia (Ranesi) langsung menutup total siaran Indonesianya sejak 1 Juli 2012, setelah mengudara 65 tahun. Begitu pun VOA, setelah 73 tahun mengudara.  Dari enam “raksasa” radio internasional siaran bahasa Indonesia, tinggal Radio Jepang NHK World yang masih memancar. Apa sebab? Jawabannya adalah pudarnya pamor radio siaran internasional, serta kemajuan teknologi media yang pada akhirnya memberikan lebih banyak pilihan kepada para pendengar.

Nyaris semua radio kini juga sudah mengadaptasi teknologi online yang berkembang pesat. Khususnya streaming online. Teknologi ini memungkinkan siaran radio kembali mengglobal seperti masa-masa siaran SW dulu bahkan jangkauannya bisa lebih luas lagi. Berbagai radio internasional itu pun kini sudah memanfaatkan media sosial. Facebook VOA siaran Indonesia
misalnya baru saja merayakan 2 juta pengikut.

Bagikan ke: