Komersial

Di hari koperasi ke 54  Gusdur,  presiden kita yang nyleneh itu berpesan gerakan koperasi jangan dininabobokan dengan konotasi ‘sosial’.   Koperasi jangan menunggu fasilitas dan belas kasihan pemerintah.  Tapi  harus komersial.

Tidak jelas, apakah waktu itu ia serius atau hanya karena lelah melihat perkembangan koperasi Indonesia yang makin jauh dari kompetensi ekonomi. Sebagai badan usaha, koperasi tentu saja harus untung. Masalahnya, istilah ‘komersial’ di tengah masyarakat koperasi  terasa ngilu. Kalimat itu bagai antitesa,  yang tak lazim dan berbau khianat. Bagai tikaman pisau Brutus di perut Julius Caesar.  Padanan yang ditasbihkan kompatibel dan subtil adalah ‘sosial’.  Maka yang enak didengar adalah koperasi dengan muatan sosial.

komersial

Di negeri asalnya, Inggris, ide koperasi lahir di tengah gemuruh mesin industri kaum kapitalis.  Menyeruak di tengah para buruh miskin, yang hak-hak ekonomi mereka terampas oleh maruknya para penyembah harta dan kuasa.  Tetapi kesadaran membangun usaha kolektif  itu tidak muncul dari lorong gelap dan  kumuh  para pekerja kelas bawah. Koperasi justru lahir top-down, di tengah selera ‘humor ’ kaum kapitalis.

Robert Owen mungkin salah satu dari sosok sang kapitalis yang humoris itu. Kita sebut ia lucu lantaran idenya yang aneh tentang harta. Dalam credo kapitalis, posisi harta ditempatkan sebagai yang tertinggi,  kekayaan untuk kepuasan individu.  Ia serakah. Dan itu sebabnya, kata Francis Fukuyama, kapitalisme seringkali merupakan kekuatan-kekuatan destruktif yang menghancurkan kesetiaan dan kewajiban tradisional.

Dan  Owen, juragan pabrik tenun pertama di Manchester, Inggris, itu punya mimpi lain tentang nilai guna harta.  Paradoks memang,  ketika  menyadari kesengsaraan para buruh pabrik oleh eksploitasi upah rendah dan  jam kerja yang tak manusiawi,  Owen merasa punya salah besar. Ia menghapus ketimpangan itu dengan sistem kerja yang tidak melulu mengeruk untung. Ia bangkitkan kesadaran hak-hak buruh untuk hidup dan diperlakukan lebih layak.   Owen memang tidak asal ngomong. Ia membuktikan pemberdayaan itu dengan pengurangan jam kerja, menaikan upah, dan hak pendidikan bagi keluarga buruh. Kata Owen, hanya dengan cara berkoperasi, kita bisa mengindahkan kemanusiaan.  Bertahun kemudian, ketika Schumacher, penulis buku Small is Beautiful, berbicara di depan rapat umum Africa Bureau, London, 1966, ia berujar hak yang sama. Bahwa, pembangunan tidak dimulai dengan   barang, tetapi dimulai dengan orang, pendidikannya, organisasinya dan disiplinnya. Tanpa ketiga unsur itu, semua sumber daya akan tetap terpendam dan hanya menjadi potensi belaka.

Di Indonesia, Aria Wiriaatmadja,  bukanlah buruh pabrik yang kesadaran sosialnya muncul untuk melawan kaum modal. Ia malah  aparat pemerintah bergelar Patih di Purwokerto yang pada 1895  membangun bank untuk melindungi pegawainya dari jerat  kaum lintah darat. Wiriaatmadja memang tak membangun usaha koperasi, tetapi prakarsanya memberi perlindungan bagi kaum lemah, (sebenarnya tidak pas juga, karena kebanyakan yang ia tolong adalah pegawainya sendiri) dianggap sebagai kesadaran awal bagi lahirnya pemikiran koperasi di awal pergerakan kebangsaan 1908.

Lantaran kepedulian terhadap kelas bawah tertindas itukah maka koperasi jadi lekat dengan makna sosial?  Sementara, istilah ‘ ‘komersial’ seperti tidak mendapat tempat.  Ketika Gusdur mengatakan koperasi harus komersial, ia tak sepenuhnya keliru. Bukankah, saat berdirinya, koperasi diingatkan sebagai alat ekonomi yang  harus mengail untung.

Dalam bukunya, Chances of Co-operatives in the future, Hans Munkner mengatakan, kendati koperasi dibentuk dengan modal manusia,  tetapi pelayanan optimal terhadap anggota hanya mungkin dicapai jika perusahaan koperasi layak secara ekonomi.  Dalam konteks itu,  kata Munkner lagi, meskipun penting  tapi koperasi tidak menekankan peranan modal bagi kelangsungan usaha. Padahal, tanpa menciptakan dasar keuangan yang kuat,  sulit bagi koperasi  memenuhi layanan untuk anggotanya. Dan ini  dilema.

Yang mengganjal, agaknya karena segala sesuatu yang berbau komersial, acapkali mengorbankan nilai yang bernama kebersamaan. Sementara visualisasi tentang kebersamaan acapkali dipojokkan pada konotasi kaum kiri.  Tentu saja kita tidak peduli, ketika tembok Berlin runtuh, maka terminologi kiri dan kanan itu sudah semakin tidak jelas. Seperti halnya, celoteh Presiden Gusdur ketika ditanya, apa tolok ukur bagi koperasi yang dianggap sudah maju. Enteng saja, jika sudah tak perlu lagi bantuan pemerintah. Gitu aja koq repot.  (Irsyad Muchtar)

Bagikan ke: