Kisah Jamaluddin, Mantan Pasien Panti Rehabilitas ODGJ BMI Darul Iman yang Berhasil Sembuh

Jamaluddin berkisah perjalanan hidupnya sebelum dan sesudah masuk ke Panti Rehabilitas BMI Darul Iman, Sindang Jaya, Tangerang. Foto : Istimewa.

Jakarta (Peluang) : Setelah dua tahun menjadi penghuni panti, kondisi Jamal membaik. Ia mendedikasikan dirinya untuk membantu merawat pasien menderita gangguan mental.

Pria langsing itu sangat cekatan.Ia begitu bersemangat merawat dan melayani pasien Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) di Panti Rehabilitas BMI Darul Iman di Kampung Kawarong Girang, RT 04 RW 04, Kelurahan Wanakerta, Kecamatan Sindang Jaya, Kabupaten Tangerang.

Dia adalah Jamaluddin yang kerap dipanggil Jamal oleh para penghuni panti. Dengan penuh kesabaran, Jamal menyuapi seorang pasien ODGJ yang tampak enggan untuk makan. 

Bukan tanpa alasan, Jamal dapat melakukannya dengan penuh kasih sayang menyuapi pasien itu. Karena dia dulu sama seperti mereka, menderita gangguan mental. 

Setelah merawat pasien, Jamal pun bergegas ke ruang shalat untuk membersihkan karpet dan sajadah. Dengan penuh keiklasan, pekerjaan itu rutin dilakukannya setiap hari.

Di sela aktivitasnya sebagai seorang perawat pasien gangguan jiwa, Jamal menceritakan kisahnya. 

Pertengahan Maret 2020, di tengah terik matahari dengan keringat menetes dari kening Sugito, yang merupakan tetangga Jamaluddin. 

Sugito membawa Jamaluddin ke Panti Rehabilitas ODGJ BMI-Darul Iman untuk bertemu dengan pengelola panti, Ustad Ahmad Solihin.

Di samping Sugito, duduk pemuda kurus dengan mata nanar penuh gelisah. Tatapan matanya kosong ke arah gelas berisi air teh yang terhidang di meja tamu. Rambutnya tak beraturan. Celana yang dipakainya berganti warna debu dan kotoran.

Pemuda kurus itu adalah Jamaluddin yang menderita gangguan mental.

Kepada Ustad Ahmad Solihin, Sugito meminta izin untuk menitipkan Jamaluddin di panti Rehabilitas ODGJ BMI Darul Iman.

“Saya mewakili keluarga berniat menitipkan Jamaluddin di sini. Keluarganya sudah tak sanggup lagi mengurus dia,” ucap Sugito kala itu kepada pengelola Panti ODGJ BMI Darul Iman, Ustad Ahmad Solihin.

Sugito menyampaikan kalau Jamal cukup terkenal di lingkungannya. Bukan karena prestasi, melainkan karena gangguan mental yang diidapnya. Hampir setiap hari, Jamal selalu berbuat onar, seperti teriak-teriak di tengah malam hingga mengobrak-abrik isi kontrakan tetangganya.

Tak ada yang berani menahannya, termasuk keluarganya. Banyak yang meminta Jamaluddin dirawat di rumah sakit jiwa. Namun, Jamal bukan dari keluarga mapan, mereka hidup serba kekurangan. Keluarganya hanya bisa pasrah, sabar, dan ikhlas menerima kenyataan. 

Hingga harapan itu muncul, setelah Sugito mendengar kabar ada panti yang bisa menerima kondisi Jamaluddin yang malang. 

“Mendengar kisah Jamaluddin, kami siap menanganinya,” kata Ustad Ahmad Solihin, kala itu.

Jamaluddin dan Emi Sudaryanti (hijab), perawat panti yang juga istri pengelola Panti Rehabilitas BMI Darul Iman. Foto: Istimewa.

Hari pertama tinggal di panti, Jamaluddin ditaruh di kamar spesial dan terpisah dengan penghuni yang lain. Sorot matanya masih dingin dan tajam, seolah marah dan penuh kebencian, tapi pilu tak berdaya karena terkurung di dalam kamar.

Terapi ini dilakukan untuk menghadirkan ketenangan jiwa Jamaludin, sekaligus menghindari terjadinya sesuatu yang tak diinginkan. 

Rambut Jamaluddin yang tak beraturan semakin menggambarkan ketidakberdayaannya.

Dalam kamar itu, Jamal berteriak minta makan dengan logat bahasa sunda. “Emam…hayang emam (makan, mau makan).Teriakan Jamaluddin meminta makan pada malam pertama tinggal di panti,” kata Ustad Ahmad Solihin.

Suaranya keras Jamaluddin tak ubahnya suara orang sedang marah. Dari intonasi bicaranya, terdengar jelas. Makanan pun dihidangkan lengkap dengan lauk pauknya. Hidangan itu lahap di makannya dengan cepat.

Keesokan harinya, tingkah Jamaluddin semakin menjadi-jadi. Ia membuat ribut satu panti dengan kelakuannya memutar-mutar rantai pagar besi. 

Suara dentingan rantai besi pagar memekakkan telinga para penghuni. Teguran dari Emi Sudaryanti, istri Ustad Ahmad Solihin yang juga merawat para pasien sempat ingin dibalasnya dengan serangan fisik. Beruntung para perawat termasuk Ustad Solihin bisa mencegahnya.

Ustad Ahmad Solihin mengatakan, kelainan yang dialami Jamaluddin karena penyakit Al-Wahn. Salah satu penyakit hati yang selalu merasa dirinya ketakutan sehingga menimbulkan sifat membela diri dengan hal apa saja tanpa tahu apa akibatnya.

”Karena sudah terlalu cinta dan terobsesi kepada benda atau hal duniawi, pas kehilangan ia merasa seperti tak ada pegangan lagi. Ia lupa ada Allah SWT sebagai tempat bersandar. Akumulasi kehilangan itu membuatnya hilang kontrol atas dirinya. Di posisi tersebut, halusinasi-halusinasi pun hinggap ke pikirannya,” jelasnya.

Dari malam hingga dini hari, teriakan keras kerap terdengar dari bilik tidur Jamal. Ia mengaku melihat makhluk astral, pocong, kuntilanak dan hal lainnya yang di bawa dari alam bawah sadarnya. 

“Bukan hanya berteriak, halusinasi juga membuatnya kerap mengamuk,” kata Ustad Ahmad Solihin.

Setelah dua tahun menjadi penghuni panti, kondisi Jamal membaik. Perhatian pengelola panti yang penuh kasih sayang membuat hatinya mulai tenang, tubuhnya pun mulai berisi. 

Pandangan matanya tak lagi nanar seperti memendam amarah. Melainkan, tatapan penuh senyum dan kasih sayang. Hari-harinya diisi dengan ibadah dan merawat para rekan-rekannya di panti.

Jamaluddin berkisah perjalanan hidupnya sebelum dan sesudah masuk ke Panti Rehabilitas BMI Darul Iman, Sindang Jaya, Tangerang. Foto : Istimewa.

Saat ditemui, Jamal sudah pandai merawat diri, ia datang dengan sarung dan peci. Perkataannya pun mulai terkoneksi dengan baik seperti orang normal lainnya.

 ”Alhamdulillah sekarang saya bisa sholat dan puasa. Kalau dulu (saat gangguan jiwa), saya nggak pernah seperti ini.  Dari kedisiplinan Ustad Ahmad Solihin dan perhatian para perawat termasuk dukungan dari Koperasi BMI, saya bisa begini,” ujar Jamal.

Namun, Jamal tak seperti pasien kebanyakan. Ia tak pulang ke rumahnya setelah divonis sembuh.

Ia memilih membantu pengelola panti untuk merawat rekan-rekannya. Seperti itulah cara Jamal membalas kebaikan dengan kebaikan.

Bagi kebanyakan orang, mungkin berpikiran bahwa orang dengan gangguan jiwa hampir dipastikan sudah berakhir hidupnya dan tinggal menyisakan ketidakwarasan selama sisa masa hidupnya. 

Tapi faktanya, ODGJ bisa dipulihkan dan bahkan hidup produktif dengan bekerja seperti yang dilakukan Jamal.

Ustad Ahmad Solihin menjelaskan bahwa ODGJ bisa pulih dengan memperhatikan beberapa aspek. 

Aspek rehabilitasi tersebut antara lain manajemen ibadah, di mana pasien harus diperlakukan baik dan dikenalkan pada kehidupan normal. 

Hingga kini, Panti ODGJ BMI Darul Iman tak sekalipun memberikan asupan obat terhadap pasien.

”Kita mengenalkan mereka pada kehidupan yang normal dengan sentuhan kasih sayang. Mengajaknya beribadah dan disiplin sholat tepat waktu adalah bentuk pengobatan yang manjur,” ungkapnya.

Selain itu  juga dilakukan manajemen gejala yang timbul. Biasanya halusinasi pasien ODGJ bisa timbul secara tiba-tiba dan perawat bisa menghardik halusinasi tersebut dan mengedukasi dengan penuh kasih sayang dan perhatian. “Mereka juga diajak untuk merawat diri dengan baik,” kata Ustad Ahmad Solihin.

Setelah mengalami aspek perawatan selanjutnya pasien ODGJ dilatih untuk berkomunikasi dengan baik seperti bertegur sapa, berkomunikasi dalam kelompok dan model-model tertentu. 

Terakhir, baru pasien dipersiapkan untuk kembali ke masyarakat dengan diberikan pelatihan berbagai keterampilan yang bersifat produktif.

Dari kisah ini menurut Ustad Ahmad Solihin,  kita bisa mengambil kesimpulan bahwa orang dalam gangguan jiwa adalah sama seperti manusia biasa. 

Mereka berhak untuk hidup seperti orang normal, mendapatkan makanan yang layak, tempat beristirahat dan mendapatkan perlindungan yang sama.

Dalam tinjauan hukum Islam, orang gila termasuk orang yang tidak terkena beban hukum (ghairu mukallaf) dan wajib diperhatikan dengan kasih sayang. Dan tentunya berharap kesembuhan datang menyelamatkan saudara-saudara kita yang mengalami gangguan jiwa.

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءٌ وَدَوَاءُ الذُّنُوْبِ الْاِسْتِغْفَارُ.

Artinya : Nabi SAW bersabda, “Setiap penyakit itu ada obatnya dan obatnya dosa adalah istighfar (meminta ampunan).” (HR Ad-Dailami).

Setiap penyakit yang kita rasakan ada keterkaitan dengan amalan mazmumah yang menimbulkan dosa untuk kita. Datangnya sebuah penyakit bagian cari Allah SWT untuk mengugurkan dosa-dosa kita yang kita perbuat.

Sesungguhnya Allah Ta’ala akan menguji hamba-Nya dengan penyakit hingga penyakitnya itu akan menghapus segala dosa darinya.” (HR. Al Hakim). 

“Kita mulai saat ini untuk selalu memperbanyak beristigfar kepada Allah SWT agar senantiasa menghapus segala dosa, dijauhkan dari segala penyakit dan marabahaya,” pungkas Ustad Ahmad Solihin.

Bagikan ke:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.