Kimia Farma Percepat Kemandirian Obat

PENGEMBANGAN industri farmasi dan alat kesehatan coba dipercepat PT Kimia Farma Tbk. Salah satunya dengan pengembangan dan produksi Bahan Baku Obat (BBO) dalam negeri bersama dengan PT Kimia Farma Sungwun Pharmacopia. Sejauh ini, patungan anak usaha Kimia Farma dengan perusahaan asal Korea Selatan telah menghasilkan 12 BBO dan telah digunakan oleh industri obat.

Pembangunan fasilitas produksi BBO berlokasi di Cikarang, Jawa Barat, rampung tahun 2018. Usaha-usaha inovasi dilakukan untuk mewujudkan ketahanan kesehatan nasional melalui produksi BBO. Sampai kini, PT Kimia Farma Sungwun Pharmacopia sudah memilki sertifikat Cara Pembuatan Bahan Baku Aktif Obat yang Baik dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI.

Sampai tahun 2022 telah diproduksi 12 item BBO bersertifikat GMP dari BPOM RI, yaitu, 3 BBO anti kolesterol yaitu Simvastatin, Atorvastatin dan Rosuvastatin, 1 BBO anti platelet untuk obat jantung yaitu Clopidogrel, 2 BBO anti virus Entecavir dan Remdesivir, 4 BBO Anti Retroviral (ARV) untuk HIV AIDS yaitu Tenofovir, Lamivudin, Zidovudin dan Efavirenz, 1 BBO untuk diare yaitu Attapulgite dan 1 BBO untuk antiseptic dan desinfectan yaitu Iodium Povidon.

Selama ini, bahan baku obat 95% berasal dari impor. “Dengan hadirnya kami, yang bisa memproduksi BBO, Indonesia jadi memiliki ketahanan nasional lantaran mampu menyediakan bahan baku secara mandiri,” kata Direktur Utama PT Kimia Farma Tbk, David Utama, yang memprediksi, Kimia Farma akan mampu memproduksi hingga 28 BBO, hingga impor BBO bisa berkurang hingga 20%..

Tantangan Kimia Farma memproduksi BBO di dalam negeri tidak ringan. Pertama, diperlukan integrasi dengan banyak pihak karena membangun industri BBO butuh dukungan infrastruktur, teknologi, tersedianya industri kimia dasar, fasilitas regulasi hingga prospek potensi pasar. Kedua, tantangan pelaku industri yang mensyaratkan penguasaan teknologi dan terbatasnya SDM yang memiliki keahlian dan keterampilan serta minimnya infrastruktur penelitian.

Ketiga, permintaan pasar Indonesia dibanding pasar dunia sangat kecil, sekitar 0,5%. Untuk mencapai skala ekonomi, volume industri BBO harus besar. Keempat, pasokan untuk industri BBO dari industri kimia dasar belum menunjang dan belum terintegrasi. Meski demikian, akan ada banyak keuntungan ketika mampu memproduksi bahan baku obat di dalam negeri. Salah satunya, nilai impor berkurang.●

Bagikan ke:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *