Kilas Garam di Wilayah Khatulistiwa

Memiliki garis pantai terpanjang kedua di dunia, 54.716 km, produksi garam kita yang hanya 1,2 juta ton/tahun dari kebutuhan 2,6 juta ton/tahun itu menyedihkan, memalukan, dan fatal

 perajin garam

Menurut catatan kuno, di samping gula kelapa, asam, terasi, ikan asin, bawang merah dan bermacam-macam bumbu, garam (uyah) merupakan komoditas makanan dan bumbu-bumbuan. Komoditas tersebut dibawa para pedagang yang lebih profesional dan memiliki jangkauan yang lebih luas di Jawa

Sebelum abad ke-19, tak ditemukan keterangan tentang sejarah garam. Inggris ‘salt’ dengan ‘salty’, Perancis ‘sel’, Spanyol ‘sal’ dengan ‘salado’, Italia ‘sale’, Jerman ‘zalt’, Belanda ‘zout’ selain berarti garam juga mengacu pada rasa ‘asin’. Hanya pada masa Romawi Kuno, harga garam sangat mahal. Saking mahalnya, garam dipakai untuk membayar gaji para pekerja dan prajurit.

Proses kuno pembuatan garam di tempat lain seperti pembakaran tanaman air di Kalimantan dan pengumpulan air laut yang dipercepat penguapannya di pantai selatan Jawa. Orang Maluku membuat garam dengan menuangkan air laut ke unggunan api di pantai kemudian merebus lagi abunya dengan air laut. Di beberapa daerah pantai yang musim kemaraunya panjang, mereka mengusahakan garam dengan membiarkan matahari mengeringkan air laut yang sudah dipetak-petakkan di tepi pantai.

Sebelum pembuatannyadikembangkan secara modern oleh pemerintah Kolonial pada abad ke-19, pembuatan dan penjualan garam dikuasai orang Tionghoa. Sistem ini ditegaskan kembali pada masa pemerintahan Daendels (1807-1810). Setelah buruh garam, terutama di pantai utara Jawa seperti di Banten, Karawang, Cirebon dan Semarang, berhasil menyiasati peraturan monopoli itu; pada tahun 1870 pengusahaan garam dibatasi dengan sewenang-wenang pada Pulau Madura saja (lahan milik petani garam 4.200 ha dan milik PT Garam 1,100 ha).

Semula, pemerintah kolonial hanya membeli garam dari pembuat-pembuatnya dengan harga tetap. Pada 1918, mereka membuka perusahaan pada 1936 mengambil alih seluruh produksinya. Sistem yang dipakai masih berlangsung hingga sekarang. Garam itu berasal dari tambak garam yang luasnya kini sekira 6.000 ha, terletak di berbagai tempat di pantai selatan, terutama di sebelah timur daerah Sumenep (600 ha), di pantai Jawa, di sekitar Gresik.

Monopoli pemerintah kolonial tidak hanya di Jawa dan Madura, tapi juga meluas ke beberapa distrik di Sumatera dan hampir seluruh Borneo.  Zaman Jepang ketika produksi garam di Pulau Jawa berhenti, penduduk Sumatera ramai-ramai merebus air laut untuk mendapatkan garam. Pada 1957, monopoli garam dihapus. Garam negara pun berubah menjadi perusahaan negara pada 1960.

Dari semua itu yang paling mengenaskan adalah para petani garam. Nasib mereka semakin ‘asin’ dan memprihatinkan karena harga garam terus merosot. Ditambah lagi dengan dibukanya kebijakan impor garam oleh pemerintah.

Produksi garam nasional hanya 1,4 juta ton, sedangkan tingkat kebutuhan baik untuk konsumsi maupun industri mencapai 2,6 juta ton per tahun.

Ironi Indonesia, dengan populasi 250 juta, makin miris mengingat negeri ini punya garis pantai terpanjang kedua di dunia. Ke-10 negara dengan garis pantai terpanjang adalah (1) Kanada 202.800 km; (2) Indonesia (54.716 km); (3) Greenland/Divisi Otonomi Denmark (44.087 km); (4) Rusia (37.653 km); (5) Filipina (36.289 km); (6) Jepang (29.751 km); (7) Australia; (25.760 km); (8) Norwegia; (25.148 km); (9) Amerika Serikat; (9.924 km); (10) Selandia Baru (15.134 km) (Nay)

Bagikan ke: