Keruntuhan ‘29

BURSA saham New York terjerembab pada tanggal 24 Oktober 1929. Saham-saham dilepas secara masif. Sebanyak 16 juta lembar saham berpindah tangan dalam waktu sehari. Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) jatuh hingga 11% dalam sehari. Publik menyebutnya “Black Thursday”. Titik terparah terjadi 29 Oktober.

Masyarakat yang hilang trust menarik dana mereka. Masif dan serentak. Bank kelimpungan melikuidasi pinjaman. Kesengsaraan berlanjut sampai 1932. Puncaknya pada 1933, bank-bank semaput dan tutup.

Anjloknya harga saham AS mempengaruhi semua aspek kehidupan masyarakat. Krisis ini diperburuk dengan kebijakan ngasal Presiden Herbert Hoover (1929-33). Pemerintah AS sampai melegalkan sin industry (miras, cerutu, judi, dan prostitusi) di Las Vegas sejak 1930-an, bahkan hingga kini.

Pada 1930, sebanyak 4 juta orang jobless; meningkat jadi 6 juta pada 1931. Tahun 1933, di titik terburuk depresi, 13-15 juta orang Amerika nganggur (populasi saat itu 125,6 juta) dan hampir separuh bank failed. Depresi ini menghancurkan ekonomi, ya negara industri ya negara berkembang. Volume perdagangan internasional, pendapatan pajak, harga, dan keuntungan berkurang drastis. Pendapatan perseorangan idem dito.

Kota-kota besar di seluruh dunia ikut terpukul. Tak cuma di AS. Jumlah tunawisma merebak di kota-kota Amerika. Tak ada harapan. Kelaparan merebak di berbagai pelosok. Nasib warga perdesaan sama sebangun. Petani tidak memanen hasil ladang. Mereka terpaksa membiarkannya membusuk. Produksi terhenti di berbagai wilayah lantaran harga hasil pertanian jeblok 40%-60%.

Satu hal penting, kehancuran bursa itu juga merupakan titik awal dari reformasi penting dari peraturan-peraturan hukum di bidang finansial dan perdagangan.

Presiden Franklin D. Roosevelt (1933-1945), pengganti Hoover, dalam 100 hari pertama kerjanya meluncurkan New Deal. Kontennya 47 program penyelamatan Amerika, yang dibagi dalam tiga tahapan eksekusi, 1933—1939. Inilah reformasi di segala sektor, mulai dari industri, pertanian, keuangan, buruh, air, perumahan dan meningkatkan jangkauan pemerintah federal.

New Deal meliputi penutupan dan pemeriksaan semua bank agar sehat secara finansial; memotong 15% gaji pegawai pemerintah dan militer; mempekerjakan 3 jutaan orang selama 10 tahun untuk menggarap lahan publik; menukar emas dengan mata uang dolar; mendanai pekerjaan di bidang pertanian, konstruksi, pendidikan, kesenian; dan meminjamkan dana agar ladang ternak petani tak disita.

Kebijakan Roosevelt terbukti jitu. Pada tahapan pertama, ekonomi Amerika tumbuh 0,8%. Tahapan kedua 8,9%. Pada 1936, pertumbuhan ekonomi menyentuh angka 12,9%.

Nestapa Amerika 90 tahunan silam itu seakan diingatkan lewat laporan Outlook Ekonomi Dunia terbaru IMF. Kata Direktur Pelaksana, Kristalina Georgieva, “Kami mengantisipasi kejatuhan ekonomi terburuk sejak Depresi Hebat 1930-an. Ekonomi global menyusut gegara pemerintah banyak negara menutup ekonomi nasional, di samping langkah lockdown.”●

Salam,

Irsyad Muchtar

Bagikan ke: