Kerajinan Mawar Ketak, Tumbuh di Lombok, Merambah Mancanegara

DianEka Purnamasari-Foto: Dokumentasi Pribadi.

MATARAM—Warga Lombok  sudah lama memanfaatkan rumput ketak menjadi kerajinan. Rumput diolah menjadi nampan, tatakan piring, keranjang, tempat perhiasan, hingga tas-tas yang memenuhi selera mode perempuan masa kini.  Rumput Ketak itu kuat seperti rotan dan tahan terhadap rayap membuat kerajinan ini jadi unik.

Perajin rumput ketak ada yang sudah berganti generasi di antaranya Mawar Shop Art di kawasan Ampenan Lombok.  Berdiri pada 1997 usaha kerajinan ini dirintis Mawar Yanti dan suaminya Suhartono.  Kini usaha kerajinan ini diteruskan oleh sang anak Dian Eka Purnamasari dengan brand baru Mawar Ketak Lombok.

Bahan baku utama produksi sang anak selain rumput ketak, dengan kombinasi kain tenun khas Lombok dan aksesoris bebatuan. Produk yang ditawarkan Mawar Ketak Lombok adalah produk dengan kualitas anyaman terbaik, dan bentuk yang unik serta menarik.

“Terdapat tiga jaminan yang diberikan Mawar Ketak Lombok untuk setiap konsumen atau pelanggannya, yaitu kualitas terbaik (best quality), harga terjangkau (affordable price), tahan lama (durable guarantee),” ujar Dian kepada Peluang, Rabu (3/3/21).

Sekarang kapasitas produksi per bulan untuk furniture 1000 pieces (kapasitas maximum).  Menurut alumni Politeknik STT Tekstil Bandung ini Mawar Ketak Lombok  sudah memproduksi dan memasarkan  berbagai jenis tas dan furniture (perabot) dengan kualitas terbaik di Lombok ke seluruh daerah Indonesia dengan income terbanyak yaitu Jakarta.

“Pasar internasional kami ke Jepang, Korea, Georgia, Jerman, Spanyol, dan masih banyak lagi, tetapi income terbesar kami yaitu Jepang,” ungkap Dian.

Harga tas dibandroll mulai dari Rp250.000 hingga Rp3.000.000, sementara perabot mulai dari Rp15.000 hingga Rp15 juta.  Kalau lagi ramai Mawar Ketak Lombok meraup  Rp50.000.000. Untuk mendapatkan satu produk berkualitas, perajin mmebutuhkan waktu satu bulan untuk satu produk.

Pandemi sangat berdampak, tetapi  mereka mengupayakan tetap bertahan di antaranya dengan mengandalkan penjualan tas super yang hanya diproduksi 25 buah per bulan.

“Ke depan tentunya akan terus berinovasi dalam pengembangan produk dan berupaya untuk mengajak pemuda-pemuda  untuk ikut peduli dan melestarikan produk lokal, karena itu adalah kekayaan daerah,” tutup Dian (Van).

Bagikan ke: