Kemeriahan Peluncuran Buku Bamsoet 60 Tahun Dihadiri Menteri, Tokoh dan Pengusaha

Ketua MPR RI, Bambang Soesatyo berfoto dengan para tokoh nasional pada perayaan ultah ke-60 dirinya dan peluncuran buku berjudul ‘Meniti Buih di Antara Karang’ di Bali, Senin (12/9/2022). Foto : Istimewa.

Bali (Peluang) : Bambang Soesatyo (Bamsoet) tidak pernah bercita-cita menjadi pejabat negara. Ia menjalani hidup mengikuti takdir Allah SWT.

Ketua MPR RI, Bambang Soesatyo mengapresiasi serta menyampaikan terimakasih kepada keluarga dan para kolega yang menyempatkan diri hadir pada peluncuran buku terbarunya sekaligus syukuran ulang tahun ke-60 yang digelar 10 September 2022 di Jakarta.

Kehadiran para ketua umum partai, politisi, menteri kabinet, pimpinan lembaga tinggi negara, para pengusaha dari HIPMI, KADIN Indonesia, pimpinan Ormas, Perguruan Tarung derajat, hingga perwakilan komunitas otomotif anggota IMI. Ini menunjukan Bamsoet bisa diterima baik oleh semua pihak. Tidak membedakan orang lain berdasarkan status sosial ataupun golongan.

“Dalam berteman, saya tidak membeda-bedakan satu dengan yang lain. Saya berusaha baik, terbuka dengan siapa pun,” ujar ujar Bamsoet dalam perayaan ultah ke 60 dan peluncuran buku terbarunya ‘Meniti Buih di Antara Karang’ di Bali, Senin (12/9/22).

Begitu pula dalam memimpin baik saat Bamsoet menjadi Ketua Komisi, Ketua DPR maupun Ketua MPR, ia selalu bersikap bijaksana.

“Saya menggunakan jurus merangkul, bukan memukul. Karena bagi saya seribu kawan masih terlalu sedikit, satu musuh sudah terlalu banyak. Sekalipun saya tahu dalam dunia politik tidak ada kawan ataupun lawan yang abadi. Dalam perang kita hanya bisa terbunuh sekali, tetapi dalam politik kita bisa mati berkali-kali. Jadi, santai saja,” ungkap Bamsoet.

Ketua DPR RI ke-20 ini menyadari dirinya terlahir bukan sebagai anak pengusaha kaya ataupun politisi yang memiliki banyak jaringan.

Ia lahir sebagai anak seorang tentara yang hidupnya pas pasan, membuat Bamsoet selalu rendah hati dan menghormati orang lain.

“Ayah saya selalu mengajarkan kepada saya sedari kecil untuk tidak sombong dan menghargai orang lain. Almarhum Ayah merupakan panutan dan inspirasi terbesar dalam hidup saya. Beliau meninggalkan kami ketika usia saya 14 tahun. Saya dan adik-adik dibesarkan Ibu sebagai orang tunggal. Tanpa bimbingan, gemblengan keras serta doa restu ibunda, tidak mungkin saya bisa menjadi seperti sekarang,” kata Bamsoet yang merupakan Wakil Ketua Partai Golkar.

Kepala Badan Hubungan Penegakan Hukum, Pertahanan dan Keamanan KADIN Indonesia ini menceritakan, semasa hidupnya sang ayah tidak pernah menuntut dirinya mengikuti jejak sebagai tentara ataupun memintanya menjalani profesi tertentu. Sepeninggal sang ayah, ibunya juga membebaskan Bamsoet memilih jalan hidup.

“Sebenarnya, waktu kecil saya memiliki cita-cita menjadi dokter. Karenanya, saat SMA saya mati-matian masuk IPA. Tapi, selepas lulus SMA ternyata justru masuk Fakultas Ekonomi, lanjut berkarier menjadi wartawan, pengusaha, dan menjadi politisi,” urai mantan Ketua DPR RI Bidang Hukum, HAM dan Keamanan.

Lebih lanjut Wakil Ketua Umum Pemuda Pancasila ini memaparkan, dirinya tidak pernah memiliki cita-cita muluk menjadi pejabat negara.”Saya menjalani hidup mengalir saja. Mengikuti takdir Allah SWT dan garis tangan,” kata Bamsoet.

Berlatar belakang tentara, sang ayah juga selalu menanamkan nilai kedisiplinan, tanggungjawab, kerja keras, kejujuran dan keberanian kepada Bamsoet dan seluruh anggota keluarga. Nilai-nilai tersebut selalu dipegang Bamsoet dalam mengarungi kehidupan selepas ayahanda pergi menghadap Sang Khalik.

“Dalam semua profesi yang saya jalani, nilai-nilai yang dulu ditanamkan ayah selalu saya pegang tinggi dan menjadi pegangan dalam mengarungi kehidupan. Karenanya, meski sesibuk apa pun saat ini, saya pasti akan sempatkan waktu untuk keluarga. Saya telah kehilangan banyak waktu karena terlalu banyak nge-gas waktu muda merintis karier,” pungkas Bamsoet yang merupakan Wakil Ketua Umum FKPPI.

Ketua MPR RI, Bambang Soesatyo berfoto pada perayaan ultah ke-60 dirinya dan peluncuran buku berjudul ‘Meniti Buih di Antara Karang’ di Bali, Senin (12/9/2022). Foto : Istimewa.

Dalam kemeriahan syukuran ulang tahun ke-60 Bamsoet, tampak hadir Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12 Jusuf Kalla, Wakil Ketua MPR RI Ahmad Muzani, Lestari Moerdijat, Sjarifuddin Hasan, Hidayat Nur Wahid, Arsul Sani, dan Fadel Muhammad.

Wakil Ketua DPD Mahyudin dan Sultan Baktiar Najamudin, Wakil Ketua Komisi III DPR RI Ahmad Sahroni, Ketua MK Anwar Usman, Ketua OJK Mahendra Siregar, Ketum Nasdem Surya Paloh, Ketua Dewan Pembina Partai Golkar, Ketum PAN Zulkifli Hasan, Ketum Hanura Oesman Sapta, Ketum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono, Ketum Perindo Harry Tanoe, Sekjen PKS Aboe Bakar Alhabsy. Serta anggota Fraksi PDIP, Golkar, Gerindra, Demokrat, PKS, Nasdem, PKB, PAN, dan PPP.

Para milenial, Youtuber, influencer seperti Atta Halilintar dan Aurel, Raffi Ahmad dan Nagita, Deddy Corbuzier, Ruddy Salim, Rizky Billar, Diaz Hendropriyono, Anang Hermansyah dan Ashanti, Kris Dayanti, Hotman Paris Hutapea dan lainnya.

Hadir pula Menkopolhukam Mahfud MD, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Hadi Tjahjanto, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahuddin Uno, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan, Menteri PUPR Basoeki Hadimoeljono, KASAD Jenderal TNI Dudung Abdurachman, KASAL Laksamana Yudo Margono, dan Danjen Kopassus Mayjen TNI Iwan Setiawan.

Para duta besar (dubes) juga turut hadir. Di antaranya Dubes Maroko Ouadiâ Benabdellah, Dubes Kuwait Abdullah Y B SH Alfadhli, Plt. Dubes Libya Zakarya MM Elmograhbi, dan Duta Besar RRT Lu Kang.

Bagikan ke:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.