Kementan Pertimbangkan Ekspor Jagung

Foto : Istimewa.

Jakarta (Peluang) : Ekspor jagung pakan ternak berisiko menganggu stabilitas pasokan.

Direktur Serealia Kementerian Pertanian (Kementan), Ismail Wahab mengatakan, produksi jagung dalam negeri hingga November 2022 dalam kondisi aman. Surplus produksi diyakini tercapai namun tipis di atas rerata kebutuhan bulanan. 

Sehingga menurutnya, rencana ekspor jagung pakan ternak berisiko menganggu stabilitas pasokan domestik. Meskipun memang keran ekspor jagung pakan  telah diputuskan dalam Rapat Koordinasi Terbatas (Rakortas) Kementerian Koordinator Perekonomian. Di mana, pemerintah mengizinkan ekspor jagung sebanyak 100 ribu ton untuk periode September-November 2022. Ekspor dapat dilakukan oleh pihak swasta.

“Rerata kebutuhan bulanan jagung pakan secara nasional sekitar 800 ribu ton. Sementara, kemampuan produksi jagung nasional sejak Agustus diproyeksi sedikit di atas kebutuhan nasional,” ujar Ismaill dalam diskusi  bertajuk ‘Pusat Kajian Pertanian Pangan dan Advokasi (Pataka)’ secara virtual, Rabu (22/9/2022).

Ismail merinci,  produki jagung kadar air 14 persen pada Agustus diproyeksi sebesar 893.100 ribu ton, September 989.639 ton, Oktober 866.107 ton, dan November 872.682 ton. Angka produksi itu lebih rendah dari tren produksi periode Januari-Juli 2022 yang mencapai di atas 1 juta ton.

“Saya pikir kalau mau ekspor jangan di bulan-bulan Agustus, September, karena produksi tipis. Sehingga saya berpikir, kalau kita ekspor bulan-bulan ini, semoga tidak menjadi masalah,” kata Ismail.

Ia mengatakan, meskipun kuota ekspor jagung yang dibuka hanya 100 ribu ton. Pihaknya harus mempertimbangkan secara matang jika ingin menerbitkan rekomendasi ekspor. 

“Itu demi melindungi stabilitas ketahanan pasokan dalam negeri agar tidak mengalami gangguan yang berimbas pada lonjakan harga,” tegasnya.

Plt Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri, Kementerian Perdagangan (Kemendag),  Syailendra mengatakan, faktor harga jagung dunia harus menjadi pertimbangan. Jika harga rendah, ekspor sebaiknya tidak dilakukan karena kurang memberi keuntungan.

“Harga saat ini cenderung turun, periode Juli-Agustus 2022 turun jadi Rp 5.284 per kilogram (kg). Apakah kita bisa kompetitif untuk ekspor?,” kata Syailendra.

Berdasarkan data panel harga Badan Pangan Nasional, rata-rata harga jagung dalam negeri saat ini sudah berkisar Rp 5.590 per kg. 

Terkait harga itu, Syailendra menegaskan kalau harganya beda tipis sebaiknya digunakan untuk keperluan nasional saja.

“Kalau harganya beda tipis, untung kecil, lebih bagus siapkan untuk keperluan domestik. Jangan sampai kita ekspor, tapi domestik tidak kita perhatikan dengan baik,” katanya.

Asisten Deputi Kementerian Koordinator Perekonomian, Saifulloh menjelaskan,  kebijakan pembukaan keran ekspor jagung telah diputuskan melalui rakortas level Kemenko Perekonomian. Ekspor bukan dilakukan oleh Bulog, melainkan oleh swasta yang sudah siap. 

Namun sejauh ini pemerintah belum memiliki regulasi yang mengatur teknis ekspor jagung pakan. Tapi meski begitu, pemerintah tetap mengizinkan ekspor jika produksi dalam negeri memang mampu mengisi

“Artinya, jika jumlahnya ada dan tidak menganggu kebutuhan dalam negeri, berarti boleh. Tidak perlu regulasi, hanya dimonitor saja jumlah dan termin waktunya,” kata Saifulloh.

Ia menjelaskan, pembukaan keran ekspor jagung sebesar 100 ribu ton hanya diizinkan selama tiga bulan, sejak September-November 2022. Dengan kata lain, pemerintah tidak memaksakan ekspor jagung harus mencapai kuota yang diberikan.

“Selama tiga bulan, misalnya itu hanya mampu ekspor 25 ton jagung. Ya sudah ditutup,” pungkasnya.

Bagikan ke:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.