KemenkopUKM Kembangkan Nilam sebagai Komoditas Unggulan Aceh

Tanaman nilam milik UKM di Aceh. Foto :Istimewa.

Jakarta (Peluang) : Pemberdayaan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) nilam dilakukan secara utuh dari hulu hingga hilir.

Sekretaris Deputi Usaha Mikro KemenKopUKM, A.H Novieta mengatakan, Aceh Tamiang merupakan basis pertanian dan perkebunan di Provinsi Aceh dengan berbagai komoditas bernilai ekonomi tinggi seperti kelapa sawit, karet, kakao, jagung, nilam, dan lainnya.

Bahkan Aceh Tamiang sejak dulu menjadi salah satu daerah penghasil nilam terbaik di Indonesia.

“Nilam sebagai komoditas unggulan dengan potensi nilai ekonomi tinggi harus terus ditingkatkan,” ujar Novieta dalam keterangan resminya, Sabtu (10/9/2022).

Namun menurutnya, potensi tersebut harus diimbangi dengan kualitas daya saing, baik dari sisi produk maupun sumber daya manusia (SDM), terutama dalam menghadapi era disrupsi yaitu globalisasi, digital, dan pandemi Covi-19.

Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (KemenkopUKM) mendukung pengembangan nilam, bahan baku minyak atsiri sebagai komoditas unggulan melalui pelatihan bagi pelaku usaha mikro di sektor pertanian dan perkebunan di kabupaten Aceh Temiang.

Novieta menjelaskan, melalui UU Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja dan kebijakan turunannya PP 7/2021, pemerintah menyediakan akses Kemudahan, Pelindungan, dan Pemberdayaan Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (KUMKM).

Yang kemudian diwujudkan dalam sejumlah kebijakan teknis dan program pemberdayaan KUMKM.

Salah satunya adalah fokus pada program pengembangan kapasitas SDM usaha mikro melalui literasi, pelatihan, dan pendampingan baik yang sifatnya vokasi pada tujuh sektor prioritas, termasuk di dalamnya sektor pertanian.

“Pemerintah dalam hal ini KemenkopUKM fokus pada pengembangan tanaman nilam sebagai major project nasional di Provinsi Aceh,” kata Novieta.

Berdasarkan Laporan Tahunan Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Aceh Tahun 2020, dalam pasar dunia, Indonesia tercatat sebagai pemasok minyak nilam dan minyak pala mencapai 80-90 persen dari produksi dunia dengan mutu terbaik, dan sebagian besar berasal dari Aceh, khusus nilam.

Pemberdayaan UMKM nilam dilakukan secara utuh hulu-hilir dengan melibatkan berbagai pihak, termasuk perguruan tinggi.

KemenKopUKM juga bekerja sama multipihak dan menggandeng Atsiri Research Center (ARC) Universitas Syiah Kuala dan Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang.

Tujuannya untuk pengembangan kapasitas usaha mikro melalui Pelatihan Vokasional bagi usaha mikro di sektor pertanian dan perkebunan.

Novieta berharap pelatihan ini dapat menjadi akselerasi pengembangan sentra produksi minyak nilam dan produk turunannya di Kabupaten Aceh Tamiang.

Pada akhirnya dapat meningkatkan perekonomian UMKM, petani, dan masyarakat sebagai dampak multiplier effect yang ditimbulkan.

Ia menambahkan, pengembangan produksi juga harus disertai dengan transformasi usaha mikro.

KemenKopUKM menyediakan akses pendampingan Nomor Induk Berusaha (NIB). Begitu juga Sertifikasi Usaha/Produk (PIRT, Merek, Halal, Izin edar MD), dan pengembangan kelembagaan usaha untuk mendukung penguatan UMKM.

“Kami harap akses progam ini dapat memberikan manfaat peningkatan nilai ekonomi dan daya saing UMKM, dan masyarakat secara luas,” pungkas Novieta.

Bagikan ke:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.