Kebun Sawit di Papua 4 Kali Luasan Jakarta

PROYEK perkebunan sawit skala besar di Tanah Merah, Papua, telah terbelit berbagai persoalan terkait dugaan pelanggaran hukum. Dari hitung-hitungan, Proyek Tanah Merah diprediksi menghasilkan kayu-kayu senilai US$6 miliar (setara Rp90 triliun). Cakupan lahan perkebunan itu lebih empat kali luasan Jakarta dan merupakan hutan tersisa dan utuh di Asia-Pasifik. Proyek itu digarap Digoel Agri Group, perusahaan konsorsium yang didukung investor Selandia Baru.

Sejak 2007, hak kelola proyek sudah beralih tangan berkali-kali. Ia melibatkan para investor yang penuh rahasia penyembunyikan ‘wajah’ mereka. Proses perizinan untuk proyek perkebunan itu pun terlilit berbagai penyimpangan dan kejanggalan. Investigasi bersama The Gecko Project, Mongabay, Malaysiakini, dan Tempo (terbit November 2018), menyibak tirai izin-izin proyek itu. Bupati Boven Digoel, Yusak Yaluwo, menandatangani izin-izin proyek Tanah Merah dari balik jeruji penjara.  Penyelidikan lanjutan The Gecko Project dan Mongabay, mengungkapkan, izin-izin penting perkebunan ataupun pabrik pengolahan kayu raksasa telah dipalsukan.

Digoel Agri Group didirikan beberapa orang keluarga Rumangkang. Nama Zulkifli Hasan juga terseret dalam kasus ini. Sebab, sebagai Menteri Kehutanan (2009—14), Zulkifli  tercatat telah melepaskan kawasan hutan untuk perkebunan seluas 2,4 juta hektare. Hutan-hutan itu lalu jadi perkebunan sawit.●

Rizal Simabur

Ambon, Maluku

Bagikan ke: