Karpet Merah Investasi Membangun Kalimantan Utara

Bangkit sebagai provinsi termuda di Tanah Air, Kalimantan Utara (Kaltara) bertekad mengejar ketertinggalannya dengan provinsi lain yang lebih dulu maju. Prasyarat yang kini tengah ditata adalah kebijakan pro investasi yang lebih ramah serta kesiapan sumber daya manusia yang mumpuni.

Investasi merupakan salah satu pilar pertumbuhan ekonomi. Dengan masuknya arus modal dapat menggerakkan roda perekonomian setempat. Terlebih bagi daerah yang baru terbentuk seperti Provinsi Kaltara.

Triyono Budi Sasongko, Pj Gubernur Kaltara mengatakan, di bawah kepemimpinannya Kaltara berkomitmen menggelar “karpet merah” untuk investor. Tujuannya, agar mempercepat pengembangan perekonomian di provinsi termuda Indonesia itu. “Kebijakan kami pro investor untuk mengoptimalkan potensi daerah,” ujarnya.

Kaltara memiliki banyak potensi di berbagai sektor dengan nilai ekonomis tinggi. Potensi tersebut antara lain di sektor mineral dan pertambangan; perikanan dan kelautan; perkebunan; pertanian; kehutanan; dan sumber daya air. Potensi mineral dan energi yang sudah terdeteksi yaitu batu gamping sebanyak 654 ton di Kabupaten Malinau. Batu Gamping 25.000 ton, Sirtu 2,50 juta ton dan 1 miliar ton pasir kuarsa di Kabupaten Nunukan.

Sedangkan di sektor perikanan dan kelautan, daerah ini memiliki hasil Laut dan tambak berupa ikan, udang, budidaya rumput Laut dan hasil laut lainnya. Bahkan, komoditi udang dari wilayah Kaltara sudah terkenal sampai keluar negeri dengan ikon Borneo Shrimp.

Potensi perkebunan utamanya adalah kelapa sawit, cokelat dan kopi yang sangat menarik minat kalangan investor. Sedangkan di sektor pertanian berupa padi sawah, padi ladang, jagung, kedelai dan lain sebagainya. Selain itu, terdapat hutan konservasi (hutan lindung) dan hutan yang dapat dibudidayakan (kawasan budidaya kehutanan dan kawasan budidaya non kehutanan).

Terdapat beberapa perusahaan IUPHHK (Izin Usaha Pengelolaan Hasil Hutan Kayu) yang bekerja di wilayah ini. Ada pula hutan yang dilindungi dan dikenal di seluruh dunia yaitu Hutan Lindung Kayan Mentarang yang terletak di 2 Kabupaten yaitu Kabupaten Malinau dan Kabupaten Nunukan. Hutan ini juga dikenal dengan julukan sebagai “Heart of Borneo”.

Untuk mewujudkan Kaltara sebagai daerah tujuan investasi utama, kata Triyono, Pemprov Kaltara telah melakukan sejumlah langkah. Antara lain memudahkan perizinan dengan meningkatkan kapasitas kelembagaan Badan Penanaman Modal Daerah dan Perizinan Terpadu (BPMDPT); promosi potensi daerah melalui berbagai

pameran; dan pengembangan infrastruktur. “Menciptakan iklim investasi yang ramah lingkungan dan berkelanjutan menjadi tekad kami untuk memajukan Kaltara,” ujar Triyono yang mantan Bupati Purbalingga ini.

Peran Pemprov Kaltara sebagai fasilitator sekaligus dinamisator pembangunan daerah akan semakin berfungsi jika mendapatkan dukungan penuh masyarakat setempat. Sebab, masuknya investasi membutuhkan pasokan tenaga kerja atau SDM yang kompeten dan suasana keamanan yang kondusif.

Triyono menambahkan, sebagai daerah baru berkembang Kaltara membutuhkan visi kepemimpinan (leadership) yang visioner dan berintegritas. Visi itu kemudian diterjemahkan dalam komitmen kebijakan yang terukur dan dapat diimplementasikan dalam program yang nyata. “Kaltara membutuhkan pemimpin visioner yang dapat menggali potensi lokal untuk menarik minat investor,” katanya.

Belajar dari banyak daerah yang lebih dahulu sukses mendatangkan investor, masuknya investasi terutama asing akan berdampak positif terhadap daerah. Setidaknya akan ada transfer teknologi ke SDM lokal, perluasan pasar, dan etos kerja yang tinggi. Dengan begitu, pendapatan asli daerah (PAD) Kaltara yang saat ini sebesar Rp1,6 triliun akan melonjak.

Meski membutuhkan modal investasi, namun Triyono mewanti-wanti agar proses pembangunan tetap memerhatikan kualitas lingkungan. Sehingga dapat menjalankan prinsip pembangunan berkelanjutan.

Selain itu, juga harus dapat menyerap tenaga kerja lokal dalam jumlah besar. Dalam hal ini, kesiapan masyarakat lokal terutama dalam meningkatkan skill dan kompetensinya sangat dibutuhkan. Dengan begitu, pembangunan tidak akan menjadikan masyarakat lokal sebagai tamu di daerah sendiri.

stand kaltara

Potensi Investasi

Kaltara yang dijuluki Bumi Benuanta ini terdiri dari lima kabupaten/kota yang masing-masing punya sumber daya ekonomi potensial. Kelimanya adalah Kabupaten Bulungan, Kabupaten Nunukan, Kabupaten Tana Tinggi (KTT), Kabupaten Malinau, dan Kota Tarakan.

Sebagian besar potensi yang dimiliki berbasis pada sumber daya alam (SDA) misalnya barang tambang dan energi. Selain itu, juga kaya dengan potensi pertanian, perikanan dan kelautan.

Di Kabupaten Bulungan misalnya, sudah dilakukan peletakan batu pertama Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) yang berada di Kecamatan Peso di Sungai Kayan. PLTA ini merupakan yang terbesar di Indonesia. Energi yang dihasilkan paling banyak ketimbang PLTA lainnya, yakni mencapai 6.080 megawatt (MW). Dengan kapasitas sebesar itu, diyakini dapat mengaliri listrik seluruh daerah di Kaltara.

Selain memiliki PLTA berkapasitas terbesar, Bulungan juga memiliki Delta Kayan Food Estate dengan luas lahan sekitar 50 ribu hektare. Kawasan ini digunakan untuk pengembangan Rice Estate. Hal ini sejalan dengan arah pembangunan yang menjadikan program ketahanan pangan sebagai salah satu prioritas.

Selain itu, Bulungan juga tercatat sebagai penghasil energi terbesar di Kaltara dengan lifting minyak bumi sebesar 2.292 ribu barel pada dua tahun lalu. Dengan sumber daya energi ini menjadikan Bulungan sebagai salah satu daerah tujuan investasi di sektor energi.

Jika Bulungan kaya dengan sumber daya energi, lain lagi dengan Kabupaten Nunukan. Kabupaten dengan luas wilayah sebesar 14.493 km² dan berpenduduk sebanyak 140.842 jiwa (hasil Sensus Penduduk Indonesia 2010) ini memiliki potensi antara lain di sektor pertanian, perikanan dan kelautan.

Adapun komoditi unggulan Kabupaten Nunukan adalah rumput laut (Nunukan dan Sebatik Barat); beras adan (Krayan dan Krayan Selatan); durian (Sebatik); kakao (Sebatik); dan madu alam (Sebuku, Sembakung, dan Lumbis).

Selain itu, daerah yang berbatasan langsung dengan Malaysia ini juga memiliki komoditi andalan yaitu jeruk keprok (Sebatik dan Nunukan); ebi/udang kering (Sebatik); ikan tipis (Sebatik) ; dan teri Ambalat (Sebatik).

Selain itu, Kabupaten Nunukan yang bermoto “Penekindidebaya” (Membangun Daerah dalam bahasa Tidung) ini memiliki sejumlah komoditi unggulan yang masih dalam tahap pengkajian.

Komoditi unggulan tersebut yaitu ikan tuna/cakalang berlokasi di Sebatik; garam Kerayan berlokasi di Kerayan; kelapa sawit berlokasi di Nunukan; dan sutra yang berlokasi di Kerayan Selatan. Komoditi unggulan tersebut membutuhkan uluran modal agar bisa dikembangkan dalam skala keekonomisan. Sehingga dapat memberikan nilai tambah bagi perekonomian daerah Nunukan.

Sedangkan di Kabupaten Malinau yang juga sering disebut Bumi Intimung ini terdapat Taman Nasional Kayan Mentarang dengan luas 1.360.05 hektare. Kabupaten Malinau merupakan salah satu daerah hasil pemekaran wilayah Kabupaten Bulungan berdasarkan Undang-Undang Nomor 47 Tahun 1999.

Pada awalnya Malinau adalah sebuah kawasan pemukiman yang dihuni suku Tidung. Daerah ini selanjutnya menjadi kampung, berubah menjadi kecamatan. Kini Malinau menjadi ibukota kabupaten.

Berdasarkan keterangan tokoh masyarakat suku Tidung, asal mula timbulnya atau disebutnya nama Malinau saat kedatangan orang-orang Belanda ke pemukiman yang dulunya bernama Desa Selamban. Di Desa Selamban tinggal penduduk dari kalangan keluarga Suku Tidung. Sedangkan di seberang sungai terdapat Desa Pelita Kanaan, yang terletak di tepi sungai Kabiran tempat bermukimnya Suku Abai.

Sama seperti daerah lainnya di Kaltara, Kabupaten Malinau juga memiliki sejumlah komoditi andalan bernilai ekonomis tinggi. Komoditi tersebut antara lain anyaman rotan, batik Malinau, long sule anyaman, dan kopi aci  yang berlokasi di Tanjung Lapang.

Di Kabupaten Tana Tidung (KTT), potensi investasi yang tersedia berbasis pada komoditas kelautan seperti udang yang berlokasi di Tana Lia dan Sesayap Hilir. Selain itu komodii rumput laut yang berlokasi di Tana Lia dan Sesayap Hilir juga potensial untuk dikembangkan. Begitu pula dengan udang organik yang berlokasi di Tana Lia dan Sesayap Hilir layak dilirik sebagai investasi potensial.

Pemkab KTT memiliki visi sebagai sentra agroindustri, pertanian dan perikanan berbasis masyarakat. Secara geografis, KTT merupakan daerah kepulauan yang memiliki keragaman bentuk, baik di daratan maupun di perairannya. KTT sebagian wilayah Kecamatan Sesayap, Sesayap Hilir, Tana Lia, Betayau dan Muruk Rian.

Adapun batas-batas KTT adalah sebelah utara berbatasan dengan Kab. Nunukan ; sebelah timur berbatasan dengan laut Sulawesi, Kab. Bulungan, dan kota Tarakan ; sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Bulungan; sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Malinau.

Sebagai wilayah kepulauan, Kota Tarakan kaya dengan komoditi berbasis perikanan dan kelautan. Di kota terbesar di Provinsi Kaltara yang memiliki luas wilayah 250,80 km persegi dan memiliki penduduk sebanyak 239.787 jiwa ini, komoditi yang layak dikembangkan yaitu udang, rumput laut, kepiting segar, ikan tipis, dan ikan bandeng.

Selain itu, ada satu komoditi terkenal di wilayah ini yaitu kepiting soka. Kepiting ini sudah kesohor ke seantero negeri karena bisa dimakan langsung tanpa menyingkirkan cangkangnya.

Tarakan atau juga dikenal sebagai Bumi Paguntaka, berada pada sebuah pulau kecil. Semboyan dari kota Tarakan adalah Tarakan Kota “BAIS” (Bersih, Aman, Indah, Sehat dan Sejahtera).

Dengan sederet potensi dan sumber daya yang dimiliki setiap kabupaten/kota di Kaltara tersebut, daerah ini layak dijadikan sebagai tujuan investasi. Apalagi Pj Gubernur Kaltara sudah mengikrarkan diri akan membuat kebijakan pro investasi. Ini didukung dengan upaya dari BPMDPT yang gigih mempromosikan dan mengembangkan potensi investasi tersebut ke investor dalam dan luar negeri.

Bagikan ke: