Jelajah Pegunungan Karst Rammang-Rammang

Perbukitan kapur (karst) seluas 45 ribu ha itu tertebar di Rammang-Rammang, Maros, Sulsel. Terbesar ketiga di dunia. Dengan kombinasi alam hijau nan perawan, destinasi bernuansa ‘kuno’ ini asyik dikunjungi. Sayangnya belum relatif dikenal.

 

TEMPATNYA agak tersembunyi. Sebenarnya tak jauh dari pusat kota. Ini destinasi yang menjanjikan iklim jelajah darat yang berbeda. Pantai Losari di ibukota negeri Angin Mamiri memang masyhur, meski tergolong biasa-biasa saja dibanding destinasi sejenis. Tapi, Rammang-Rammang memiliki sesuatu, dan itu spesifik. Di sini mata anda dimanjakan pemandangan teduh. Di tengah bukit-bukit kapur kuno mengaromai bentangan alam yang asri perawan.

Di lokasi seluas 45 ribu ha di gugusan karst (pegunungan kapur) itulah Rammang-Rammang bercokol. Persisnya di Desa Salenrang, Kec Bontoa, Kab Maros, Provinsi Sulawesi Selatan. Sekitar 40 km di utara Kota Makassar. Di jalur lintas provinsi, antara MarosPangkep. Dari kawasan ini tersaji keunikan pegunungan karst, dengan sungai dan tekstur persawahan artistik di sekitarnya.

Sebelum dihajatkan jadi daerah tujuan wisata, Rammang-Rammang hanya sebuah kampung petani di sekitar gunung karst. Karena itu, waktu terbaik untuk mengunjungi tempat ini adalah tatkala sawah menghijau. Di antara bentangan sawah ini juga terdapat pohon nipah dan lontar yang menambah indahnya pemdangan. Dari pohon nipah atau rumbia, warga lokal memanfaatkannya sebagai bahan pembuatan atap rumbia.

Dinamai Rammang-Rammang karena awan atau kabut selalu turun di sana, terutama di pagi hari atau ketika hujan. Tidak peduli di musim apa pun. Dalam bahasa Makassar, ramang berarti kabut, berkabut. Terdapat dua kompleks taman hutan batu di sini, yakni di sisi utara dan selatan. Jalur jalan masuk ke Rammang-Rammang adalah juga jalan masuk ke pabrik semen Bosowa di Kabupaten Maros.

Hamparan hutan batu Kapur Rammang-Rammang, secara statistik, merupakan kawasan karst terbesar ketiga di dunia. Rekor terbesar tercatat atas nama Hutan Batu Tsingsy di Madagaskar; yang kedua Hutan Batu Shilin di Cina yakni. Adapun di Nusantara, Rammang-Rammang-lah yang terbesar. Sebuah area yang amat sangat leluasa sebagai “Taman Bermain” orang dewasa.

Lokasi ini dapat dicapai sekitar 1,5 jam berkendara dari Kota Makassar. Spot wisata Rammang-Rammang termasuk lumayan lengkap. Dari tempat start, di Dermaga Salenrang, pengunjung boleh memilih Dermaga Satu atau Dermaga Dua untuk berperahu motor menuju Dermaga 3 (dermaga akhir) di Desa Berua. Terapung-apung dan meluncur menyusuri sungai tarifnya Rp300 ribu/kapal berisi 4-5 penumpang. Perahu motor akan melaju sekira 20 menit untuk sampai di Desa Berua.

Sepanjang jalur sungai, panorama alamnya begitu memanjakan mata. Bukit-bukit kapur yang berlubang-lubang menyembul di antara pepohonan palem yang tumbuh di rawa rawa gambut. Di tepi kiri kanan sesekali tampak rumah tradisional Sulawesi Selatan menyatu dengan keindahan alam. Tepat sebelum berhenti di Dermaga Tiga, pengunjung akan menyusuri sungai di tengah tengah meja padas kapur hasil abrasi aliran air sungai selama ribuan tahun.

Desa Berua berada di tengah perbukitan kapur. Pemandangannya mirip-mirip dengan cadas di Toraja. Keaslian alam Lembah Sungai Pute ini benar-benar terjaga dari intervensi dan poluasi modernisasi. Alam genuine yang diwariskan peradaban ratusan tahun silam, sebelum disentuh manusia. Di Kampung Berua terdapat Telaga Bidadari, Gua Bulu’ Barakka dan Gua Pasaung. Saat memasuki Kampung Berua, tampak empang ikan nila di sana sini. Kini mulai muncul rumah makan yang menyediakan kuliner khas negeri Angin Mamiri.

Setelah puas berfoto di bukit bendera dan duduk santai di balai-balai, kembali ke Dermaga Dua. Jika mau dan punya waktu, perjalanan Anda bisa berlanjut ke Bantimurung, sebuah obyek wisata andalan di Bulusaraung, Sulsel.●(dd)

 

Bagikan ke: