Inkubasi LPDB-KUMKM, Perkuat Ekosistem Bisnis Pesantren

Kian gencar menumbuhkan kemandirian ekonomi di lingkungan pondok pesantren melalui inkubator wirausaha jadi salah satu program yang disasar LPDB-KUMKM. Penandatanganan kerja sama antara Alif Learning Center (ALEC) dengan 59 ponpes bakal melibatkan lembaga ini di sektor dukungan pembiayaan.

Adapun perjanjian kerja sama ini meliputi penyedia sarana produksi pertanian seperti benih, pupuk, pestisida, zat pengatur tumbuh, obat-obatan, dan juga menjadi offtaker hasil produk pertanian dari tenant-tenant Inkubator ALEC.

Program inkubasi wirausaha  diharapkan memberi jaminan untuk mendapatkan investasi, pinjaman, atau kerja sama usaha yang mendukung peningkatan kapasitas usaha para tenant. Hal itu dikatakan Dirut LPDB-KUMKM Supomo saat menjelaskan program inkubator kewirausahaan, di sela penandatanganan kerja sama ALEC dengan 59 ponpes, Juni lalu. Kerja sama tersebut, menurutnya, akan memberikan kepastian sarana produksi pertanian, dan juga kepastian akses pasar dari hasil produksi pertanian yang dihasilkan oleh para tenant inkubasi.

“Inkubasi kepada tenant-tenant inkubator akan memiliki dampak yang baik, selain manajemen bisnis bisa semakin berkembang dan bersaing, dari sisi persaingan usaha juga meningkat,” ujarmya. Selain itu, kepastian akses pasar atau offtaker menjadi faktor penting dalam ekosistem bisnis para tenant, selain dari sisi hulu yakni proses produksi yang dilakukan inkubasi dengan pelatihan, dan dari sisi hilir juga perlu akses pasar,” jelasnya.

Sementara itu, Direktur Umum dan Hukum LPDB-KUMKM Oetje Koesoema Prasetia menambahkan, pelaksanaan inkubasi kepada tenant-tenant inkubator yang dalam hal ini ponpes bisa berjalan baik, karena karakteristik sosial budaya dari ekonomi ponpes itu memiliki karakter amanah, jujur, dan terbuka, sehingga ke depannya bisa memberikan dampak yang baik.

“Kami melihat potensi pesantren seperti di Jawa Timur itu dengan jaringan yang cukup kuat dan bisa dikembangkan. Kami sepakat ALEC dalam hal ini Kopontren Al-Ittifaq bisa menjadi role model ke depannya, bahwa bimbingan kepada tenant bisa konsisten berada di jalurnya sehingga hasilnya akan baik, dan hal itu tentu tidak mudah,” ujar Oetje.

Ke depan, diharapkan ALEC bisa terus memberikan inkubasi yang baik dan benar kepada para tenant yang merupakan pondok pesantren, agar kemandirian ekonomi ponpes terwujud.

“Harapannya pesantren bisa berbisnis dengan baik dan potensinya bisa digali, kemudian edukasi bisa membuat kegiatan bisnis pesantren survive. Di Al- Ittifaq ini pasarnya sudah jelas, tinggal konsisten kualitasnya baik dan bisa diterima pasarnya,” jelas Oetje.

Ketua Koperasi Pondok Pesantren Al-Ittifaq Setia Irawan mengungkapkan, potensi ekonomi pondok pesantren dari sektor pertanian sangat tinggi, hal ini terlihat dari jumlah nilai kontrak budi daya melon jenis inthanon mencapai miliaran rupiah.

Dengan demikian, pihaknya berharap inkubasi yang dilakukan bersama LPDB-KUMKM bisa memberikan dampak positif terhadap kemandirian ekonomi ponpes maupun peningkatan ekonomi berbasis syariah.

“Ini sebenarnya luar biasa, catatan dari Presiden Direktur ALEC, nilai kontrak kopontren Al Ittifaq yang tenant-nya ini didampingi oleh ALEC dari mulai Lampung, Jawa Barat, Solo Raya, dan Yogyakarta itu ternyata nilainya Rp5,5 miliar per satu tahun untuk budi daya komoditas melon saja, ini keberhasilan dari teman-teman pondok pesantren prosesnya dilalui,” ungkap Irawan. (Irm)

Bagikan ke: