Inflasi April Mendekati Satu Persen, Ekonom Prediksi Inflasi Tahunan Potensi Capai 4,60 Persen

Ilustrasi-Foto; BPS.

JAKARTA—Badan Pusat Statisik (BPS) menyampaikan pada April 2022 terjadi inflasi sebesar 0,95 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 109,98. Angka ini lebih tinggi dari inflasi pada Maret 2022 sebesar 0,66 persen.

Seluruh kota mengalami inflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Tanjung Pandan sebesar 2,58 persen dengan IHK sebesar 113,46 dan terendah terjadi di Gunungsitoli sebesar 0,22 persen dengan IHK sebesar 110,58.

Kepala BPS Margo Yuwono mengatakan, hasil tersebut berdasarkan pemantauan BPS di 90 kota. Penyumbang terbesar dari inflasi adalah komoditas minyak goreng, bensin, daging ayam ras, tarif angkutan udara, serta ikan segar.

“Inflasi pada April 2022 yang sebesar 0,95% adalah inflasi tertinggi sejak Januari 2017. Kala itu, inflasi tercatat 0,97%. Sedangkan jika dilihat secara tahunan, inflasi April ini yang sebesar 3,47% merupakan angka tertinggi sejak Agustus 2019, dimana saat itu terjadi inflasi sebesar 3,49%,” ujar Margo, Senin (9/5/22).

Rilis dari   BPS lebih tinggi dari proyeksi Bank Indonesia (BI), yaitu 0,68 persen.  Dalam pernyataannya 8 April lalu, Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono menyebut inflasi pada bulan April secara tahunan sebesar 3,20%.

Inflasi didorong oleh peningkatan harga minyak goreng sebesar 0,24% mom, kemudian harga bensin naik 0,18% mom, daging ayam ras naik 0,08% mom, serta bahan bakar rumah tangga naik 0,04% mom. 

Sementara Ekonom Bank Mandiri Faisal Rachman  memproyeksi  inflasi  tahun 2022 berpotensi mencapai 4,60% yoy. Target tersebut lebih tinggi  dibandingkan dengan target sasaran  Bank Indonesia dan Pemerintah  pada kisaran 2%-4% yoy.

“Kami memperkirakan, inflasi pada tahun 2022 bisa mencapai 4,60% yoy pada akhir tahun 2022, ini lebih tinggi dari perkiraan semula kami yang sebesar 3,30% yoy,” tutur Ekonom Bank Mandiri, Faisal Rachman dalam keterangan tertulis, beberapa waktu lalu.

Menurut dia, tekanan inflasi akan mulai meningkat secara substansial dan fundamental pada semester II-2022. Peningkatan inflasi ini didorong oleh inflasi baik dari sisi permintaan (demand-pull inflation) maupun dari sisi suplai (cost-push inflation).

Dari sisi permintaan, disebabkan pemulihan ekonomi yang terjadi, mobilitas masyarakat yang meningkat sejalan dengan terus dilonggarkannya aturan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM).

Dari sisi suplai, peningkatan inflasi berasal dari peningkatan harga bahan baku, harga energi, maupun harga bahan bakar minyak (BBM).

Bagikan ke: