Indikator Koprim Terbaik dan Sehat Mampu Menggelar RAT 

Minggu ketiga bulan September ini Majalah Peluang berkolaborasi dengan Pusat Koperasi Pegawai Republik Indonesia (PKPRI) DKI Jakarta untuk memublikasi sejumlah anggotanya, atau Primer Koperasi Pegawai Negeri (Koprim) terbaik. Parameternya mengacu pada ketaatan dan loyalitas terhadap induk organisasi dan pelaksanaan Rapat Anggota Tahunan (RAT) tepat waktu. Selain itu tentu saja pada pencapaian kinerja usaha yang membanggakan. PKPRI menyodorkan sebanyak 314 Koprim untuk dinilai sebagai koperasi sehat dan terbaik, namun dalam tinjauan ke lapangan  Majalah Peluang hanya mampu menghimpun sekitar 45 persen saja yang masuk kategori sehat dan terbaik. Sejumlah koprim menyatakan tidak menggelar RAT lantaran faktor tertentu, umumnya terkendala pandemi covid-19, sebagian besar lainnya malah tidak jelas keberadaannya karena tak berkabar berita ke PKPRI. Hasil temuan lainnya cukup mengejutkan, terdapat sebanyak 32 Koprim bubar.

Menyoal data lapangan tersebut, Majalah Peluang mewawancarai Syahnas Rasyid, Ketua Umum PKPRI DKI Jakarta. Menurutnya data tersebut merupakan gambaran betapa tidak mudahnya mengembang-kan koperasi primer di tengah lingkungan kantor pemerintahan, selain visi bisnis yang umumnya lemah, pengaruh birokrasi juga kerap tak terhindarkan sehingga wajar jika performa koprim belum sepenuhnya dapat dibanggakan. Namun demikian, tak sepenuhnya  jeblok. Syahnas menunjuk sejumlah koprim berkinerja unggul bahkan ikut masuk dalam jajaran koperasi skala besar tingkat nasional.   

“Jika belum banyak koprim yang mampu tampil bagus, bisa dimaklumi karena umumnya  lebih mengedepankan aspek pelayanan ketimbang pencapaian profit bisnis. Selain itu tolok ukur sukses koprim mengacu pada kesejahteraan anggota,” tutur Syahnaz. Berikut wawancara dengan pegiat koperasi yang pernah berkiprah selama tiga periode di Dewan Koperasi Indonesia Jakarta Barat.

Menyoal masih banyaknya koprim yang lalai menggelar RAT, menurut Anda di mana letak kendalanya?

Saya kira kita tidak bisa sepenuhnya mencap koprim lalai RAT sebagai tak menaati azas organisasi. Perlu disigi lebih lanjut apa saja faktornya, jika acuan kelalaian itu tahun buku 2020 atau 2021 bisa dimaklumi lantaran cukup banyak koprim yang usahanya tersendat akibat dampak pandemi covid-19. Namun begitu kita juga tak menutup mata, bahwa masih ada pengurus koprim yang kurang memahami arti penting RAT sebagai forum tertinggi pengambilan keputusan  terhadap kelangsungan usaha.  Juga tak jarang kelalaian itu karena faktor hirarki jabatan di instansi bersangkutan, dimana anggota sungkan mengingatkan pengurus untuk segera menggelar RAT. Maklum, para pengurus koprim terpilih biasanya berstatus pejabat golongan yang lebih tinggi.

Jika RAT merupakan tolok ukur evaluasi dan pelaksanaan program usaha tentunya hal ini sangat krusial, apakah perlu diberi peringatan atau sanksi keras bagi koprim yang lalai ?

Gak harus seperti itulah, umumnya mereka sudah tau aturan main organisasi yang tertuang dalam AD/ART koperasinya  masing-masing, juga pastinya paham dengan UU Koperasi No 25 tahun 1992. Yang penting kini bagaimana pemerintah bersama PKPRI dan juga stakeholder perkoperasian lainnya, terus menggalakkan pembinaan intensif  dengan melakukan berbagai pelatihan berkoperasi.  

Sebagai orang lama di koprim Anda tentu memahami kesulitan dihadapi. Bisa dijelaskan?

Mengelola koprim memang tak mudah. Di satu sisi dituntut mampu meningkatkan kinerja usaha dengan ukuran pencapaian SHU tinggi, namun di sisi lain kiprahnya tersendat di lingkungan yang terbatas. Kebanyakan lamban berkembang karena cuma mengandalkan usaha konvensional seperti simpan pinjam, toko dan  jasa di lingkungan instansinya. Memang ada pula yang mampu menyasar usaha di luar instansinya dan sukses walau jumlah koprim seperti ini tak banyak, bisa dihitung jari.

Dengan tampilnya Anda kini di pemuncak pimpinan PKPRI DKI Jakarta, konsep seperti apa yang bakal digulirkan agar koprim semakin taat azas dan mampu mencapai skala ekonomi layak? Pastinya kita ajak anggota agar tetap berkomitmen pada prinsip dan jati diri koperasi yang berlaku universal. Upaya ke arah itu kita lakukan melalui program pendidikan dan pelatihan serta berbagai pendekatan  persuasif. Dengan demikian koprim yang seperti Anda sinyalir pasif itu bisa aktif lagi.

Bagikan ke:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.