INDEF Minta Pemerintah Koreksi Target Pertumbuhan Ekonomi

Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) menyarankan pemerintahan Presiden Jokowi agar mengoreksi target pertumbuhan ekonomi 5,2 persen hingga 5,8 persen di 2022.

Apalagi Indonesia masih belum bisa keluar dari negara berpendapatan menengah, setelah terdampak pandemi Covid-19. Bahkan diperparah dengan konflik geopolitik perang Rusia-Ukraina yang memengaruhi perekonomian Indonesia.

Direktur Program INDEF, Esther Sri Astuti mengatakan, dengan kondisi Covid-19 yang parah, terlebih lagi pada ledakan kasus kedua ini akan membuat target pertumbuhan ekonomi Indonesia sulit tercapai.

“Kalau pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi 5 persen di tengah kondisi dunia tak menentu. Saya mohon itu target agar bisa dikoreksi,” kata Ester pada webinar bertajuk Evaluasi Kinerja Ekonomi Triwulan II-2022 Bertahan di Tengah Ketidakpastian, Minggu (7/8/2022).

Koreksi tersebut harus dilakukan karena menurutnya, kondisi ekonomi saat normal saja seperti pada tahun 2015 sampai 2019, itu pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di level 5 persenan. Bahkan secara agregat penyaluran kredit juga tidak bisa mengalir karena risikonya masih tinggi.

“Tumbuh di kisaran 5 persenan saja, itu risiko kredit yang secara agregat masih relatif tinggi. Ya ini karena konsumsi masyarakat yang berkurang menjadikan kita harus menjaga-jaga atas ketidakpastian krisis pandemi Covid-19,” ujar Esther.

Apalagi kata Ester, masyarakat Indonesia sudah banyak memakai tabungan yang sedianya untuk persiapan masa depan. Kemudian dipakai untuk mencukupi kebutuhan hidup keseharian. Sehingga ketika data risiko kredit yang ditunjukkan melalui non perfoming loan (NPL), itu terlihat masih tinggi.

“Jadi meski pun Bank Indonesia (BI) menyatakan suku bunga sudah turun, tapi itu nyatanya bunga kredit masih tinggi,” imbuhnya.

Esther mengungkapkan pertumbuhan perekonomian Indonesia di triwulan II-2022 masih di dominasi oleh konsumsi rumah tangga.

Sedangkan dalam ranah ekspor, Indonesia perlu melakukan peningkatan nilai ekspor dengan melakukan hilirisasi industri. Dan saat ini, Indonesia masih melakukan ekspor komoditas padahal negara lain sudah mulai mengekspor barang value added.

Untuk mendukung peningkatan perkonomian di triwulan Esther menyarankan pemerintah untuk mengembangkan digital ekonomi secara merata dan menyeluruh.

“Terutama di desa-desa agar tidak terjadi ketimpangan pertumbuhan ekonomi dengan wilayah perkotaan. Tingkatkan daya saing dan produktivitas potensi ekonomi desa sebagai sumber devisa baru yang dapat bersaing di pasar ekspor maupun e-commerce,” pungkasnya.

Bagikan ke:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.