Identitas 

Si vis pacem para bellum,  “Jika kau mau damai, siapkanlah  perang”.

Dari mana asalnya sebuah  identitas? Apakah karena Anda seorang Melayu maka pastinya Anda muslim. Karena Cina maka Anda Kong Hu Cu, setidaknya pengikut Budha, atau karena Eropa maka Anda Kristen. Sekat-sekat sempit seperti itu membuat makna sebuah identitas menjadi klise, sebuah tudingan tentang sesuatu berdasar prasangka subjektif.  Stereotif itu, membuat dunia berada dalam demarkasi hitam putih antara si baik dan si jahat. 

Dalam buku larisnya, In The Name of Identity, Amin Maalouf mengulas makna sebuah identitas sebagai sesuatu yang unik. Boleh jadi jurnalis Perancis berdarah Lebanon ini sedang bercerita mengenai dirinya sendiri sebagai seorang Arab beragama Kristen. Menurutnya keragaman asal muasal ras, warga negara dan agama itu justru unik, yang membuat seorang berbeda dengan yang lain, namun tak harus ditafsirkan negatif.

Dengan sekat-sekat identitas yang ditafsirkan sempit, Maalouf  bisa memahami mengapa begitu banyak orang melakukan kejahatan atas nama agama, etnis, nasional bahkan rela meledakkan tubuhnya  dalam aksi bunuh diri. 

Apakah senantiasa demikian? Yang kita tahu ketika menara kembar, World Trade Center, ikon bisnis kebanggaan Amerika Serikat (AS) runtuh diterjang teroris pada 11 September 2001 (9/11), ada bengis yang memuncak dari seorang bernama George W Bush. Di tengah amarah dan dendam, Presiden AS itu memeruncing sekat identitas dengan pernyataan AS menyiapkan Perang Salib II, dari ucapan itu kita tahu musuh yang bakal dihadapi. 

Entah bagaimana cara Bush  belajar sejarah, atau Ia memang tak pernah mengerti bahwa Perang Salib yang terjadi satu milenium lalu, bukanlah perang terhadap identitas, katakanlah agama. Aksi brutal itu adalah ekspedisi militer Kristen Barat yang bertolak ke Timur Tengah untuk merebut Yerusalem dari umat Islam. 

Bicara militer tentu ada kekerasan di situ, yang kata teoritikus politik AS asal Jerman, Hannah Arendt (1906-1975), akar-akar kekerasan terletak pada kegamangan manusia untuk menemukan rasa kepastian dan identitas. Adakah itu refleksi dari masa lalunya yang pedih, ketika di tahun 1933 ia harus berpisah dengan guru filsafa, juga kekasihnya, Martin Heidegger yang pro Partai Nazi, Hitler. Lantaran itu Arrendt yang Yahudi sekuler harus hengkang dari Jerman.

Seusai drama 9/11, identitas yang akan diperangi AS adalah terorisme, yang celakanya dalam persepsi tersebut mereka sulit membedakan makna itu dengan dua identitas lainnya, Arab dan Islam. Hanya lantaran gembong teroris yang mereka buru, Osama bin Laden seorang Arab. Persepsi yang sama kita temui di ujung sana, di gurun-gurun sunyi, markas Al-Qaida. AS tak sekadar sebuah arogansi yang merasa sebagai pemilik dunia, yang bisa seenaknya mengatur dan mengintimidasi bangsa lain. Karenanya sebuah ‘pesan simbolik’ yang memicu ketakutan massa patut dihantarkan ke tengah publik, dan pilihannya World Trade Centre New York, Pentagon dan White House. Kita sepakat bahwa terorisme adalah prilaku menyimpang, dan kita tahu memang hanya cara ini yang mampu dilakukan para kelompok pinggiran untuk menarik perhatian publik.  

Yang ingin kita luruskan adalah bahwa penyamapaian pesan, apakah itu politik, etnis, agama atau motif lainnya melalui aksi terorisme dapat dilakukan semua kalangan. Hendaknya jangan dilupakan Ku Klux Klan (The Klan), kelompok teroris supremasi kulit putih ekstrem yang berdiri pada 1865 hingga kini masih eksis. Lebih dari 150 tahun The Klan membangun kebencian rasialis dengan memberantas kaum kulit hitam dan minoritas lainnya

di AS, menyasar orang-orang Yahudi dan Muslim. Survei yang dilakukan New America Foundation, sebuah lembaga riset di Washington di tahun 2015 menyimpulkan aksi terorisme yang dilakukan warga kulit putih merupakan yang terbesar di negeri itu. Mereka disebut lebih banyak melakukan serangan mematikan ketimbang para muslim radikal, namun tidak banyak diberitakan.

Tetapi apa yang sebenarnya kita takuti  setiap kali mendengar kata ‘teroris’. Ia, kata Yuval Noah Harari hanyalah penguasaan terhadap pengendalian pikiran. Membunuh sangat sedikit orang, namun berhasil menakuti miliaran dan mengguncang politik besar struktur kawasan di berbagai belahan bumi. (Irsyad Muchtar)

Bagikan ke:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.