ICMB, Komunitas Motor Kontet Pabrikan

komunitas-cb

Di dunia tanaman dikenal bonsai. Di sepeda motor pun ada yang berukuran kontet. Namanya mini bike. Komunitas terdapat di beberapa kota Jawa dan Kalimantan. “Naik motor ini menyenangkan. Bikin orang yang melihat selalu tersenyum,” ujar Gungun, Wakil Ketua ICMB.

Pernah lihat orang dewasa normal naik sepeda motor kerdil yang tingginya gak lebih dari 50 cm? Pernah dengar Komunitas Motor Mini Indonesia/ Kommi? Pernah dengar Indo Classic Mini Bikes/ ICMB? Nonton di televisi mungkin sudah. Tapi, antara melihat film dan menyaksikan langsung itu sangat berbeda. Kesannya, pemandangan itu menggelikan. Kayak main-main banget. Kebayang pegelnya.

Kok bisa-bisanya punya hobi menaiki sepeda motor dua ukuran kontet? Jawabannya bisa pertanyaan juga: “Bisa saja. Lagian, apa bedanya dengan mereka yang gemar moge (motor gede)?” Penggemarnya lumayan, meski tak seheboh komunitas lain. Mereka bisa ditemukan di Jakarta, Bandung, Bekasi, Yogyakarta, Kalimantan. Di sosial media pun mereka bahkan punya fans page segala.

Paguyuban paling eksis untuk urusan mini-minian ini adalah Kommi (Komunitas Motor Mini ndonesia). Kegiatan mereka mulai dari sekadar nongkrong setiap akhir pekan, hingga menggelar fun race mini motor di sirkuit. Biasanya di daerah Sentul, Bogor. Di antara anggotanya, cewek dengan bobot lumayan pun tampak ikutan. Tidak terlihat anak-anak. Padahal, untuk anak-anak sekalipun, ukuran motor itu cocoknya sebagai mainan

Sebagai komunitas yang tumbuh dari kesamaan hobi/kesenangan, di Kommi, siapa pun boleh memodivikasi kendaraannya. Misalnya, motor yang ukurannya (asal) dikerdilkan dari motor ukuran stardar. Tak mesti mempertahankan bentuk aslinya sebagaimana dikeluarkan pihak pabrikan. Lebih jauh, komunitas ini mampu menanggulangi spare part lengkap sebagai masalah paling penting kendaraan tua. Tersedia dalam format online pula.

Hebatnya, motor-motor kerdil itu bisa melaju dengan kecepatan di atas 60 km/jam. Penggemarnya bukan kalangan anak-anak, melainkan orang dewasa hingga kalangan pembalap profesional. Sebagai sesama pemakai motor klasik, Kommi dan ICBM agak tumpang tindih. Yang membedakan mereka ori-tidaknya motor. Di Kommi, motor boleh di-up date, misalnya dari 50 cc jadi 100 cc. Di ICBM, motor yang dimiliki memang sudah mini dari pabriknya. Sekitar 80 persen dihuni motor original pabrikan Jepang.

Dibanding Kommi yang tumbuh sporadis, pengorganisasian ICMB lebih rapi. Berdiri pada Februari 2015 lalu, komunitas ini dijuragani Faisal Sanad dan Gungun. Dengan jumlah anggota 50-an orang sekalipun, ICMB ikut unjuk gigi pada di Indonesia Greaser Party di Parkir Barat Senayan, Jakarta 10-12 April 2015. “Selain melestarikan keberadaan mini bike lawas di Indonesia juga memperkenalkan berbagai varian dan tipe motor mini,” ujar Gungun, wakil ketua ICMB.

“Grup seperti ini memang sudah ada, tapi tampilan motornya banyak potongan. Artinya, motor yang tadinya besar dibuat kecil. Kalau di ICMB memang sudah demikian bentuknya. Kami hadir sekadar melestrikan keberadaanya di Indonesia,” ujar Faisal Sanad, Ketua ICMB yang mengoleksi 23 mini bike.

Komunitas dibikin antara lain untuk mempermudah mengatasi masalah spare part. Sebab, kebanyakan suku cadang dari Thailand atau Jepang. ICMB juga

membuka kesempatan bagi para kolektor sepeda mini klasik yang ingin bergabung di komunitas ICMB. Caranya dengan registrasi melalui media sosial ICMB, atau bisa juga menyambangi lokasi kongko mereka setiap Minggu pagi di Pati Unus, Jakarta Selatan.

Jenis kendaraan kerdil yang ditunggangi para pecinta sangat beragam. Baik Yamaha Passol, Honda Gorilla, Suzuki Van Van 125, Z50 Monkey, Motocompo Z50-4liter, Honda, Kumamon, Dax, maupun Kawasaki KSR110 bisa bergabung bersama komunitas ICMB ini. Secara menyeluruh, motor mini tunggangan dan koleksi para anggota komunitas ICMB keluaran dari pabrikan Jepang.

“Meskipun desain Motor mini ini amat kecil, orang mau setinggi dan segemuk apapun tetap bisa menaiki,” ujar Gun Gun. Mereka sama sekali tak merasa iri ataupun segan  dengan motor kecil yang dipakainya. Mereka justru mengaku sering menjadi pusat perhatian di mana pun ia mengendarai motor tersebut. ”Naik motor ini menyenangkan. Bikin orang yang melihat selalu tersenyum,” kata Gungun.

Bicara harga, motor-motor kontet  ini umumnya dilepas dengan nominal yang terbilang tinggi. Di Kommi, menemukan motor mini dengan harga di bawah Rp 10 jutaan itu wajar. Tapi tidak di komunitas ICMB. Transaksi—itu pun jika ada yang mau melepas kendaraannya—dimulai dari Rp30 juta bahkan hingga ratusan juta. “Tergantung seberapa unik motornya,” kata Ibeng, salah seorang member ICMB Jakarta.●(dd)

Bagikan ke: