Hasyasyin

Sejarah bisa juga ditulis oleh orang yang salah, atau setidaknya oleh mereka yang secara subjektif kagum pada sebuah epos heroik masa lalu. Celakanya, Philip K Hitti, meluruskan kesalahan itu saat mendefinisikan Hasyasyin sebagai sekte pecandu hasis/ganja. Boleh jadi penulis buku fenomenal The History of Arab ini  tak sepenuhnya keliru, mengingat data historis yang memang minim. Sedikit pembelaan terhadap sekte yang didirikan Hasan Al Shabbah di tahun 1090 ini hanyalah bahwa makna Hasyasyin merujuk pada terminologi Assassiyun yang berarti mereka yang taat. Perbedaan frasa yang tipis dengan perkataan hashish dalam bahasa Arab yang berarti ganja.

Tetapi sekte pecahan dari Syiah Ismailiyah ini terlanjur identik dengan teror dan pembunuhan keji. Hassyasyin ditugaskan menyusup ke jantung kekuasaan kaum muslim Sunni, maupun Syiah, bahkan menimbulkan kegentaran di kalangan para tentara salib. Data sumir tentang para pembunuh dengan belati indah ini hanya kita temui dari cerita Marco Polo yang mengaku pernah mengunjungi markas Hasyasyin di Alamut, Persia. 

Berdasar cerita itu, Jonathan Black dalam bukunya The Secret History of The World menulis bagaimana Hassan mencetak kader militan Hasyasyin. Konon, Ia mencekoki para pengikut mudanya dengan sejenis ramuan obat yang membuat mereka tak sadarkan diri. Kemudian dibangunkan di dalam sebuah taman penuh dengan anggur dan makanan mewah yang disajikan para gadis jelita. “Ini adalah surga,” kata Hassan, memosisikan dirinya sebagai manifestasi dari keilahian.  Setelah tiga hari berada di taman indah itu, mereka kembali dibuat tidur. Dan saat terbangun, mereka dibawa menghadap Hassan, tentu saja untuk berbai’at. Lelaki Tua itu diyakini punya kekuatan yang dapat mengirim mereka kembali ke surga. Maka, ketika Hassan menginginkan kematian seseorang, para muridnya akan melakukan dengan suka rela, karena meyakini  surga akan menjadi ganjaran pasti bagi mereka. Dari kisah ini kita bisa menebak, bagaimana aksi teroris dan bom bunuh diri masih kerap berkelanjutan hingga kini. 

Benarkah kisah perjalanan Marco Polo? Memang tak ada bantahan lantaran sekte militan sempalan Syiah Ismailiyah ini telah menjadi musuh bersama dari tiga kekuatan saling bertikai, Sunni, Syiah dan kaum Frank, para tentara salib. 

Namun tak urung muncul keraguan dari cerita sang petualang dari Venesia itu. Kejanggalan terlihat dari tahun ia berkunjung ke Alamut pada 1273, padahal benteng di pegunungan Elbruz, Persia, itu telah hancur oleh serbuan Mongol pada 1256. Dimensi waktu antara kisah itu dengan masa hidup Hassan Al Shabbah (1050-1124) terpaut cukup jauh. Pada sisi lain, tentu saja Marco Polo dan juga umumnya orientalis Barat enggan mengungkap sisi positif dari para tokoh Islam, terutama di kawasan Timur Tengah.  

Kesalehan yang diganjar dengan pertolongan Allah dalam pemahaman Islam acapkali disamarkan dengan fakta yang kabur. Seperti halnya pujian terhadap Thariq bin Ziyad ketika membakar semua kapal-kapal yang mengangkut 12 ribu tentaranya  menyerbu Andalusia di tahun 711. Bagi para penulis Barat pembakaran kapal itu diyakini tindakan heroik Tariq untuk mengangkat militansi  para tentaranya. Mundur dan tenggelam di laut atau maju bertempur dan mengalahkan musuh. Sejatinya, tulis Raghib As-Sirjani, penulis buku Bangkit dan Runtuhnya Andalusia, Tariq tak pernah membakar kapal-kapal yang dipinjam dari sekutunya, raja Julian yang Nasrani itu.

Barat tak mampu mencerna makna kezuhudan dari seorang Tariq yang secara ajaib dapat mengalahkan 100 ribu tentara berkuda Raja Andalusia, Roderick, di negeri dan tanah mereka sendiri.   

Dan kisah tentang kapal-kapal yang dibakar itu terus melegenda hingga kini. Seperti halnya kebencian terhadap  Islam di Barat yang tak kunjung padam sejak pecah perang salib di puncak abad pertengahan. Charlie Hebdo, majalah satire Prancis itu tak kunjung henti mengartunkan sosok  Nabi Muhammad dengan wajah tidak pantas. Salman Rushdi menghujat nabi akhir zaman itu dengan julukan ‘mahound’ yang oleh Montgomery Watt diartikan sebagai pangeran kegelapan. 

Dan kita tentu mafhum, karena sejarah memang tak hanya ditulis oleh para pemenang tetapi juga acapkali ditulis oleh orang yang salah. (Irsyad Muchtar)

Bagikan ke: