Harga Bawang Merah Masih Meradang di Pasaran

Jakarta – Harga bawang merah akhir-akhir ini menjadi pembicaraan karena harganya meroket naik hingga Rp 50 ribu per kg. Sementara harga komoditas tersebut di pusat produksi seperti di Brebes, Jawa Tengah hanya dikisaran Rp 18 ribu. Selisih harga beli dan harga jual yang jomplang itulah membuat pengambil kebijakan bergegas untuk mengatasi. Tujuannya menekan harga agar masyarakat tak terkena beban lebih besar karena bumbu dapur.
Menteri Pertanian Amran Sulaiman pun menuding karena terlalu panjangnya alur distribusi sehingga mengakibatkan harga menjadi naik. Merujuk perintah presiden yang menginginkan harga bawang merah Rp 25 ribu per kg. Pihak-pihak terkait pun nampak terus berupaya menekan agar harga si merah itu lekas turun.
Berdasarkan data Kementerian Pertanian (Kementan) produksi bawang merah nasional pada 2015 mencapai 1,2 juta ron. Sedangkan kebutuhannya di dalam negeri hanya sebesar 947 ribu ton. Dengan demikian, bawang merah di Indonesia sebenarnya masih surplus sekitar 318 ribu ton. Berdasar data ini sebenarnya tidak perlu harga melonjak dratis.
Data tersebut masih diakui valid oleh Kementan, hanya saja disinyalir ada permainan pedagang yang masih melakukan penimbunan. Direktur Jenderal Holtikultura Kementan, Spudnik Sujono Kamino usai Rakor Pangan mengatakan, hasil produksi bawang merah dari petani tidak seluruhnya didistribusikan ke pasar oleh para pedagang. Dengan kata lain, telah terjadi penimbunan.
Dia menegaskan antara produksi dan yang masuk ke pasar tidak sesuai. Tidak semua masuk ke pasar. Pedagang yang mengatur, barangnya ada tetapi dikeluarkan sedikit-sedikit. “Namanya pedagang bisa ngatur toh. Barangnya ada tetapi ditahan,” tegasnya di kantor Kemenko Bidang Perekonomian, Jakarta, belum lama ini.
Spudnik mengaku pemerintah tengah mencari solusi untuk menstabilisasi kembali harga bawang merah di pasaran. Badan usaha milik negara (BUMN), seperti Perum Bulog pun dilibatkan.
Spudnik menyebut sesuai hasil rakor, data Kementan menunjukkan produksi bawang merah sebesar 100 ribu ton per bulan. Sementara data dari Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, produksi bawang merah jauh lebih besar mencapai 140 ribu ton di periode tersebut. Sementara kebutuhan per bulan rata-rata 90 ribu ton, sehingga jumlah produksi masih melampaui.
Dengan surplus produksi tersebut, wajar Spudnik mengklaim bahwa pasokan bawang merah di Mei, Juni dan Juli sangat aman, berdasar data yang masih surplus itu.
Faktanya harga komoditas tersebut sesuai diberitakan dari laman resmi infopangan.jakarta.go.id, menggila. Harga rata-rata bawang merah di DKI Jakarta per 2 Mei 2016 sebesar Rp 42.410 per kg. Sementara bawang merah tertinggi sebesar Rp 50 ribu per kg dijual di Pasar Rawa Badak, Jakarta Utara. Sementara harga terendah di Pasar Pramuka, Jakarta Pusat sebesar Rp 20 ribu per kg.
Sementara pihak Perum Bulog pun bergegas dengan intruksi itu. Direktur Utamanya Djarot Kusumajakti mengatakan menjelang pekan kedua Mei, pihaknya siap mendistribusikan bawang hasil beliannya dari sentra produksi ke pasar. Bulog akan membeli 40 ton bawang merah dari Brebes guna menambah stok di dalam negeri. Walau diakui jumlah tersebut lebih rendah dari yang diproyeksikan sebanyak 23 ribu ton, khusus Mei saja. Djarot mengakui angka itu terlalu kecil sehingga menyakini tidak akan berpengaruh terhadap harga jual. “Perusahaan membeli bawang merah dari petani dengan harga sekitar Rp 22 ribu per kilogram,” ujarnya.
Selanjutnya Bulog akan menjual dengan harga Rp 25 ribu – Rp 26 ribu per kg di tingkat pasar atau konsumen dengan memperhitungkan ongkos transportasi dan biaya penyusutan. Djarot juga berpesan jangan membeli barang yang merugikan petani. Kalau di petani harga pokoknya Rp 25 ribu, lalu dibeli Rp 20 ribu, itu dikatakannya menzolimi. Untuk itu Bulog akan membeli berapapun harga bawang merah di tingkat petani karena belum ada aturan harga maksimum. “Misalnya harga jual di petani Rp 30 ribu, maka tugas teman-teman di Bulog untuk menjual harga Rp 30 ribu di pasar tujuan. Karena fungsi kita memperpendek rantai distribusi,” jelasnya.
Tetapi soal optimistis Kementerian Pertanian perihal ada pasokan bawang 1.000 ton pada periode Mei ini dan harga jual bawang merah bisa turun menjadi Rp 25 ribu, ia tak meyakini itu.
Apakah karena campur tangan Bulog harga bawang merah yang pekan lalu masih mendekati angka Rp 50 ribu, entahlah. Hanya kini faktanya harga sudah turun. Per 15 Mei 2016 hanganya Rp 31 ribu per kg atau turun Rp 1000 dari hari sebelumnya. Saw/Dds.

@
@

Bagikan ke: